Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang memiliki peranan yang besar dalam perningkatan perekonomian negara. Produksi minyak kelapa sawit dunia mengalami perkem-bangan yang pesat, tingkat pertumbuhan rata-rata 8.44% per tahun dengan total produksi tahun 2005 sebesar 33.499.000 ton dengan pangsa pasar 23.96% dari total produksi minyak hayati dunia (PPKS 2006). Permintaan akan minyak kelapa sawit membuat peranan perkebunan kelapa sawit sebagai alternatif peningkatan devisa negara, selain itu dapat berperan dalam peningkatan pendapatan petani dan membuka secara luas kesempatan kerja bagi warga negara Indonesia. Pembibitan Kelapa Sawit Pembibitan merupakan kegiatan menumbuhkan dan merawat kecambah hingga menjadi bibit yang siap untuk ditransplanting ke lapangan. Tujuan dari pembibitan adalah untuk memastikan secara seksama bahwa bibit yang ditanam di lapangan adalah bibit yang sesuai dengan standar dan prosedur manajemen kebun. Fairhust dan Rankine (2009) menyatakan tujuan pembibitan kelapa sawit adalah untuk menghasilkan bibit berkualitas tinggi yang harus tersedia pada saat penyiapan lahan tanam yang telah selesai. Pembibitan yang terdiri dari 2 tahap, tahap pertama adalah tahap pembibitan awal (Pre Nursery) dan tahap kedua pada pembibitan utama (Main Nursery). Kelebihan dari pembibitan double stage adalah perawatan pada tahap awal akan lebih murah, bibit mudah dikontrol, adanya perhatian khusus pada saat persemaian, dan seleksi lebih ketat sebelum masuk ke tahap pembibitan utama. Kekurangan dari pembibitan dua tahap adanya penambahan biaya pada saat pembibitan awal, transplanting shock pada bibit yang baru dipindahkan ke pembibitan utama (Fauzi et al. 2012). Pembibitan Awal (Pre-Nursery) Setiap pekebunan besar akan selalu mengupayakan lokasi pembibitannya sedekat mungkin dengan rencana pengembangan perkebunan itu sendiri. Area pembibitan harus bersih dan terbebas dari gulma. Pembersihan area dapat dilakukan manual atau dengan cara kimia menggunakan herbisida. Kecambah Sehat harus Bebas Parasit (jamur) Ketika dalam proses perkecambahan, terindikasi haustarium berkembang dengan cepat (morphologi akar berubah bentuk akibat terkena parasit). Berarti parasit secara bertahap mulai akan menguras nutrisi dari albumen biji dan bila haustarium sudah mengisi seluruh biji, kehidupan biji berakhir. Hanya kecambah yang sudah lengkap memiliki radicle dan plumule yang siap dan boleh ditanam dalam polybag. Pre-Nursery Ukuran Seedling bed 10 x 1,2 m Peletakan polybag 100 x 10 Daya tampung kecambah per bed = 1000 kecambah’ Ukuran Polybag = 14 cm x 25 cm x 0,1 cm , dengan 250 lubang Jenis Polybag black UV stabilized Pengisian Tanah dilakukan 2 minggu sebelum kecambah datang. Tanah yang digunakan harus Top Soil, Pupuk phosphorus (P) dicampur dengan Tanah sebelum di isi kedalam polybag. Fasilitas Penyiraman harus sudah tersedia, sejak kecambah di tanam pada polybag. kebutuhan air per pokok : 0,1 – 0,3 liter/har Persiapan Areal Areal yang sudah di buka (LC) dibersihkan dan diratakan Kebutuhan areal 1 m2 untuk 70 bibit pada pembibitan awal Membuat Bedengan Ukuran bedengan : lebar bedengan 1,2 m ; jarak antar bedengan 0,8 m Jumlah bibit dalam satu bedengan : 840 bibit Tepi bedengan diberi batas dengan bambu atau papan Menabur Pasir Bedengan ditaburi pasir secara merata sampai setebal 2 cm Meracun Serangga Dua hari sebelum digunakan bedengan disemprot dengan insektisida, contoh Sevin atau Thiodan Jumlah dan jenis bahan digunakan : Sevin 85 EC dosis : 5 cc/l air/bed Naungan Pada tahap awal bibit harus diletakkan di bawah naungan, setelah dua daun keluar (1,5 bulan) naungan dapat dikurangi sebesar 50% dan setelah daun ketiga keluar (2,5 bulan) naungan harus sudah dihilangkan. Luas naungan minimal sebesar bedengan dengan tinggi ± 2 m Bentuk naungan : tiang dibuat dari bambu atau besi siku setinggi 2 m, dan jarak antar tiang 3 m. Atap dari pelepah kelapa sawit atau dari shadownet. Mengumpulkan Tanah/Media Tanam Media tanam menggunakan top soil (kedalaman 20-30 cm) tanah mineral dengan tekstur lempung, kecuali di areal gambut dapat menggunakan tanah gambut Tanah diayak dengan saringan kawat 2 cm agar bersih dari akar, rumputan, batuan dan sampah lainnya Media tanam harus dicampur dengan 50 kg pupuk RP per ± 2 m3 tanah (± 1.000 polybag kecil) Ukuran Polybag Ukuran polybag kecil 0,075 mm x 15 cm x 23 cm lay flat, warna hitam Setelah diisi berukuran : diameter ± 10 cm dan tinggi ± 17,5 cm Lubang polybag berjumlah 12-24 dengan diameter 0,5 cm 1 kg Plb ± 200 lembar polybag kecil Mengisi Polybag Empat minggu sebelum penanaman kecambah, polybag harus sudah diisi tanah dalam jumlah cukup Guncang polybag pada saat pengisian untuk memadatkan tanah dan diisi sampai mencapai ketinggian 1 cm dari bibir polybag Polybag disiram air setiap hari sampai tampak jenuh sebelum dilakukan penanaman dan diisi kembali dengan tanah bila diperlukan Menyusun di Bedengan Polybag harus disusun secara tegak dan rapat di bedengan. Tiap 1 m2 dapat memuat 70 polibag atau 840 polybag/bedengan Diusahakan air tidak akan menggenangi di bedengan dengan mengikis permukaan tanah yang tidak datar Seleksi Kecambah Kecambah normal : calon akar (radicula) dan calon batang (plumula) terlihat jelas, panjangnya 8-25 mm. Radicula berujung tumpul seperti bertudung, agak kasar Plumula ujungnya tajam seperti tombak Kriteria kecambah yang abnormal : - Calon akar/batang patah - Calon akar/batang tidak tumbuh - Calon akar/batang membengkok - Calon akar/batang tumbuh satu arah - Calon akar/batang busuk terserang cendawan - Calon akar/batang layu karena terlalu kering Menanam Kecambah Siram tanah di polybag sampai jenuh sebelum kecambah ditanam Kantong plastik kecambah dibuka dengan hati-hati dan letakkan kecambah di baki yang beralaskan goni basah yang telah direndam dalam larutan fungisida Thiram dengan konsentrasi 0,2% Penanaman kecambah harus memperhatikan posisi radikula yang akan diposisikan arah ke bawah dan plumula yang akan diposisikan ke atas Kecambah ditanam dengan kedalaman sekitar 2-3 cm di bawah permukaan tanah polybag (dilobang dengan ibu jari) Polybag disiram sampai jenuh setelah kecambah ditanam Penyiraman Bibit disiram 2 x sehari Penyiraman dilakukan pagi dan sore selama 30 menit mengunakan sumisansui Pengendalian Gulma Dilakukan 1 x tiap 2 minggu Cara pelaksanaan adalah manual tidak boleh dengan herbisida Pengendalian dengan mencabut rumput dan gulma lain di dalam polibag dan yang berada di antara polibag Pemeliharaan Drainase Mengalirkan air yang tergenang di areal pembibitan Diperiksa agar air jangan tergenang di polybag Pemupukan Minggu genap (minggu ke 4, 6, 8, 10, 12) dengan pupuk majemuk (contohnya Rustika) 15.15.6.4 konsentrasi 0,2% (2gr/l air) Minggu ganjil (minggu ke 5, 7, 9, 11) dengan urea 0,2% Cara dilarutkan pupuk dalam gembor : 10 gr Urea atau 10 gr pupuk majemuk dalam 5 liter air untuk 500 bibit Pemupukan dilakukan pagi hari setelah selesai penyiraman pertama/pagi Aplikasi Pemupukan di Pre-nursery (gram/bibit/minggu ) 18-12-5 (NPK); MOP 60% (K) and kieserite (Mg) Konsolidasi Bibit Dilakukan 1 kali/minggu meliputi : - Menambah tanah yang kurang - Menegakkan polibag yang miring 17. Pengendalian Hama dan penyakit Pengamatan hama ataupun penyakit dilakukan setiap hari Pengendalian dilakukan dengan cara manual Apabila gangguan hama/penyakit sudah pada tingkat yang lebih berat maka dilakukan dengan penyemprotan insektisida, fungisida dengan rotasi 1 kali/minggu 18. Tata cara seleksi Bibit di pre-nursery Diakhir tahap pre nursery, bibit normal ditunjukkan dengan munculnya helai daun sebanyak tiga hingga - empat lembar. Masing masing helai daun memiliki ukuran yang berbeda dan yang lebih dulu muncul akan selalu lebih besar dari yang terakhir muncul.Tinggi bibit dengan daun yang sudah membuka secara penuh adalah sekitar 20 – 25 cm. Sebelum memindahkan bibit ke main nursery, harus dilakukan seleksi untuk membuang bibit bibit yang abnormal seperti bibit dengan daun bergaris kuning (Chimaera), daun keriting (crinkled leaf), daun melintir (twisted leaf), daun lancip(grass leaf), bentuk daun tidak normal(Colante), daun menggulung (Rolled leaf) dan lain lain. Angkat dan singkirkan semua bibit afkir dari bedengan sebelum dilakukan pemindahan bibit sehat ke polybag besar Musnahkan semua bibit afkir dan buat data laporannya Beberapa ciri Fisik bibit yang di-afkir Pucuk bengkok atau daun berputar : akibat penanaman kecambah yang terbalik atau faktor genetik Daun lalang atau daun sempit (narrow grass leaf) : akibat faktor genetik Daun kerdil dan sempit (stump/little leaf) Daun menyempit dan tegak (acute/erect leaf) Daun yang menggulung (rolled leaf) : akibat factor genetic Daun berkerut/keriput (crinkle leaf) : akibat factor genetic Daun melipat (collante) : akibat kekurangan air Bibit kerdil (stunted) : akibat factor genetic Chimaera : sebagian atau seluruh daun secara seragam berubah pucat atau bergaris kuning terang yang sangat kontras dengan warna hijau gelap dan jaringan yang normal Bibit dengan serangan penyakit berat Dapat diperhitungkan bahwa bila sebanyak 200 kecambah dicadangkan untuk tanam per 1(satu) Ha kebun, maka di akhir tahap pre-nursery, dari setiap 200 kecambah, hanya akan menghasilkan bibit yang siap pindah ke main nursery sebanyak : 200 – ( 200 X 15 % ) = 170 bibit/ha Dalam 1 bulan di prenursery, muncul helai daun pertama yang bersamaan dengan munculnya akar primer yang pertama. 4 bulan setelah tanam, akan muncul tiga hingga empat helai daun terbuka dan sistim perakaran yang lengkap, akar primer, sekunder dan akar tersier. Dengan kondisi seperti ini, maka bibit sudah siap di pindahkan ke polybag besar di main nursery. Sumber : Jack-planter.blgspot.com