Saat ini tanaman Nilam (Pogostemon cablin Benth) sebagai komoditi penghasil minyak atsiri menjadi tanaman yang sangat penting, karena sebagian besar (90%) minyak nilam dunia dipasok dari Indonesia. Hampir seluruh pertanaman nilam yang ada di Indonesia merupakan pertanaman rakyat/ Daerah penghasil nilam di Indonesia antara lain Aceh, Sumatera utara, Sumtera barat, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, bali, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Permasalahan yang dihadapi pertanaman nilam di beberapa daerah adalah masih rendahnya produktivitas yang disebabkan beberapa hal diantaranya masih banyaknya petani yang menggunakan bibit/benih asalan yang berasal dari kebun produksi atau bukan berasal dari kebun sumber benih sesuai standar. Untuk itu penggunaan benih unggul bermutu merupakan salah satu faktor penting dalam produksi tanaman bermutu yang selanjutnya akan dijadikan sebagai bibit tanaman. Untuk mendapatkan bibit yang baik maka ada bebera hal penting yang harus diperhatikan adalah: 1) bibit tanaman nilam harus dipiih dari varietas unggul; 2) penyiapan bibit; 3) penyemaian; 4) persiapan lahan dan lubang tanaman. Varietas Mutu benih pada dasarnya dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor genetik (varietas) dan faktor fisiologis (kematangan dan ketegaran tanaman induk). Varietas yang digunakan sebagai bibit adalah varietas unggul yang sudah dilepas oleh pemerintah cq. Kementerian Pertanian. Ada tiga jenis varietas yang dilepas oleh Kementerian Pertanian yaitu: 1. Varietas Sdikalang (SK Mentan No.19/Kpts/SR.120/8/2005) dengan ciri-ciri sebagai berikut: a) produktivitas terna (daun dan ranting) 31,38 - 80,37 ton/ha); b) Produksi minyak 176,4 - 464,4 kg/ha; c) kemampuan daya adaptasi yang luas; d) pangkal batangnya berwarna ungu tua; dan e) relatif toleran terhadap penyakit layu bakteri dan nematoda. 2. Varietas Lhokseumawe (SK Mentan No.320/Kpts/SR.120/8/2005) dengan ciri-cir sebagai berikut: a) produktivitas terna (daun dan ranting) 42,5 - 64,6 ton/ha); b) Produksi minyak 273,4 - 415,6 kg/ha; c) kemampuan daya adaptasi yang luas; d) pangkal batangnya berwarna ungu tua 3. Varietas Tapak Tuan (SK Mentan No.321/Kpts/SR.120/8/2005) dengan ciri-cir sebagai berikut: a) produktivitas terna (daun dan ranting) 41,5 - 64,6 ton/ha); b) Produksi minyak 234,8 - 583,2 kg/ha; c) kemampuan daya adaptasi yang luas; d) pangkal batangnya berwarna hijau dengan sedikit ungu. Penyiapan bibit Tanaman nilam diperbanyyak secara vegetatif melalui setek. Setek bisa berasal dari bagian pucuk yang disebut dengan setek pucuk dan yang berasal dari batang yang disebut dengan setek batang. Tanaman induk yang akan diambil seteknya terlebih dahulu disemprot dengan fungsida dan insektisida tergantung dari jenis oerganisme pengganggu tanaman (OPT) yang menyerang. Cara penyiapan untuk setek pucuk adalah dengan membuang daun tua untuk mengurangi penguapan, sisakan 1-2 pasang daun muda/pucuk. Sedang cara penyiapan untuk setek batang adalah dengan memilih batang yang kokoh dan lurus, panjang setek kurang lebih 20 cm, diameter 2-5 mm dengan jumlah buku 3-5. Penyemaian Tahapan penyemaian yang harus dilakukan adalah sebagai berikut: 1) tanah dibersihkan dan dibuat bedengan dengan lebar 120-150 cm; 2) bedengan dinaungi dengan atap rumbia/alang-alang atau pelepah kelapa. Tinggi naungan 150-180 cm dan sebaiknya menghadap ke timur; 3) polibag diisi dengan media tanah dicampur dengan pupuk kandang, dengan perbandingan 2:1 diletakkan tersusun rapi dalam bedengan; 4) sebelum ditanam di polbag, terlebih dahulu setek direndam dalam air yang dicampur dengan fungsida benomil 0,2% (5-10 menit) untuk mencegah cendawan penyebab penyakit budok; 5) setek nilam ditanam ke polibag paling lambat tiga hari setelah dipotong; 6) setelah selesai penanaman, bedengan segera ditutup dengan sungkup plastik transparan; 7) penggunaan sungkup dimaksudkan untuk mengurangi penguapan dan mempercepat pertumbuhan; 8) sungkup tidak dibuka selama dua minggu, setelah itu secara bertahap dapat dibuka dan ditutup kembali, dan perlakuan ini biasa dilakukan pada pagi hari sampai tanaman dapat menyesuaikan dengan udara luar kurang lebih pada umur satu bulan; 9) bibit dalam polibag sudah dapat dipindahkan ke lapangan pada umur 1-1,5 bulan. Persiapan lahan dan lubang tanam Tanah dicangkul dan dibersihkan dari gulma kemudia digaru dan diratakan, kemudia dibuat saluran drainase dengan ukuran lebar 40-50 cm, kedalaman 20-30 cm, panjang disesuaikan dengan kontur lahan. Lubang tanam dibuat dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm. Jarak tanam tergantung dari tingkat kesuburan tanah dengan ukuran sebagai berikut: 1) dilahan subur jarak tanam 100 x 50 cm; 2) dilahan marginal (tidak subur) jarak tanam lebih rapat yaitu 80 x 40 cm. Pemupukan Pupuk dasar yang digunakan berupa pupuk oraganik (pupuk kandang, kompos) pada umur 1-2 minggu sebelum tanam sebanyak 20.000 kg/ha dan umur tanaman 1 bulan bibit dipupuk dengan Urea sebanyak 70 kg/ha, pupuk Sp-36 sebanyak 100 kg/ha dan pupuk KCl sebaanyak 150 kg/ha. Pada umur 6 bulan settelah penyetekan diberikan pupuk Urea sebanyak 100 kg/ha, pupuk SP-36 sebanyak 50 kg/ha dan pupuk KCl sebanyak 150 kg/ha. Sri Puji Rahayu (Penyuluh Pertanian) Sumber : Pedoman Budidaya Tanaman Nilam, Direktorat Budidaya Tanaman Semusim, Ditjen Perkebunan, Departemen Pertanian, 2006; Teknologi Budidaya Nilam, Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Badan Litbang Pertanian, 2008. Pedoman Pembangunan Penangkar Benih Nilam, Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi, Ditjen Perkebunan, 2010.