Loading...

PEMBUATAN BIOKOMPOS

PEMBUATAN BIOKOMPOS
Salah satu hal kritis yang terjadi pada tanah-tanah di Indonesia saat ini adalah kekurangan bahan organic sehingga produktifitasnya rendah Selain itu tingkat pencemaran tanah akibat bahan agrokimia dan limbah industri juga semakin tinggi Salah satu upaya untuk menanggulangi permasalahan tersebut adalah dengan mengaplikasikan, memproduksi serta menghasilkan pupuk organik yang berkualitas dimana dapat cepat memperbaiki struktur fisika, kimia, maupun biologi tanah serta menurunkan kontaminan dalam tanah. Biomass dan atau limbah pertanian harus melalui proses dekomposisi terlebih dahulu agar dapat cepat memperbaiki kesuburan tanah Pendekatan pemanfaatan biomass dan atau limbah pertanian agar dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik dapat dilakukan dengan dua cara dekomposisi yaitu termokimia dan mikrobiologi Biokompos dikembangkan dengan metoda tersebut Biokompos adalah pupuk organik yang merupakan campuran biochar (arang yang berasal dari limbah pertanian) dengan kompos yang sudah matang dengan perbandingan kompos dan biochar sebesar 4 : 1. Biochar merupakan hasil dari proses pirolisis limbah pertanian dengan bahan utama karbon hitam (black karbon) yang dapat berfungsi untuk perbaikan sifat fisik tanah, mengikat kontaminan dalam tanah, dan tempat yang baik bagi mikroorganisme yang bermanfaat (Azargohar dan Dalai, 2006, Sohi et al., 2010)” Bahan biochar dapat berasal dari limbah pertanian seperti sekam padi, tempurung kelapa, tongkol jagung, tandan kosong kelapa sawit dan lain lain. Langkah pembuatan Biochar adalah sebagai berikut : Masukkan bahan kedalam tungku Biochar Tungku Biochar dipanaskan diatas api hingga bahan yang dimasukkan membara Setelah suhu dalam tungku mencapai sekitar 200 derajat celcius, tungku ditutup lalu pembakaran dilanjutkan selama 2 hingga 3 jam atau hingga asap yang dihasilkan sudah berkurang Hentikan pembakaran, kemudian arang disemprot dengan air untuk menghindari proses pembakaran lebih lanjut Arang kasar hasil pembakaran dikeluarkan dari tungku, dijemur kemudian dihaluskan dengan mesin penggiling lalu ditampung kedalam wadah atau karung Biochar siap digunakan Pembuatan Kompos; Bahan Pupuk kandang (200 kg ) lotong tebu ( 100 Kg ) Starter Dedak ( 5 Kg ) Gamping ( 1Kg) Bahan Tetes tebu 10 ml EM4 100 ml Air (10 L) Langkah pembuatan kompos Pupuk kandangdisebarkan secara merata pada permukaan terpal dengan ketebalan sekitar 4-5 cm, kemudian disemprot dengan EM4 yang sudah diaktivasi. Tebarkan blotong tebu diatas lapisan pupuk kandangtadi kemudian disemprot kembali dengan EM4 yang sudah diaktivasi Tebarkan dedak diatas lapisan blotong tebu kemudian disemprot kembali dengan EM4 yang sudah diaktivasi Tebarkan gamping secara merata diatas lapisan dedak kemudian disemprot kembali dengan EM4 yang sudah diaktivasi Ulangi langkah tadi dengan urutan sama seperti lapisan pertama sampai beberapa lapis atau mencapai ketinggian 50 hingga 60 cm. Setelah itu campur semua bahan tadi dengan cangkul sampai rata sambil kembali di semprot dengan EM4 yang sudah diaktivasi. Tutup tumpukan kompos dengan plastik atau terpal kedap udara. Balik atau aduk tumpukan kompos setiap 2 minggu sekali, dan tutup rapat kembali setelah dibalik atau diaduk. Bongkar terpal setelah 6 minggu atau setelah suhu pada tumpukan kompos mendekati suhu udara normal, yang menandakan kondisi pupuk sudah terurai sempurna atau matang Pupuk kompos ini sudah siap digunakan Biokompos merupakan teknologi terbaru Kemeterian Pertanian yang sudah ditambahkan beberapa isolat bakteri seperti Bacillus aryabhatai yang dapat mendegradasi residu pestisida, menurunkan logam berat dalam tanah, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap OPT, meningkatkan kesuburan tanah dan hasil. Manfaat Biokompos adalah sebagai berikut; Meningkatkan kesuburan tanah, memulihkan lahan terdegradasi, serta membantu proses pelapukan bahan mineral; Memberi ketersediaan bahan makanan bagi mikrobia; serta menurunkan aktivitas mikroorganisme yang merugikan Memperbaiki sifat fisika tanah seperti memperbaiki struktur tanah berlempung sehingga menjadi ringan, memperbesar daya ikat tanah berpasir sehingga tanah tidak berderai, menambah daya ikat tanah terhadap air dan unsur-unsur hara tanah, Memperbaiki drainase dan tata udara dalam tanah; Mengurangi emisi gas rumah kaca yang terkait dengan pertanian. Menurunkan cemaran residu pestisida dan logam berat Meningkatkan hasil panen