Potensi sebagai Pupuk Organik Jika dibandingkan dengan pupuk kimia, pupuk organik yang berasal dari kotoran dan urine kambing memiliki beberapa keunggulan. Kotoran dan urine kambing memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan pupuk organik. Pupuk organik yang berasal dari kotoran dan urine kambing memiliki beberapa manfaat bagi tanaman dan tanah, antara lain: Meningkatkan kesuburan tanah: Pupuk organik dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kapasitas tanah dalam menahan air, dan menyediakan nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Memperbaiki struktur tanah: Pupuk organik dapat meningkatkan kandungan bahan organik dalam tanah, sehingga tanah menjadi lebih gembur dan mudah diolah. Mengurangi penggunaan pupuk kimia: Penggunaan pupuk organik dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, sehingga lebih ramah lingkungan. Proses Pembuatan Kompos dari Kotoran Kambing Kompos adalah pupuk organik yang kaya akan nutrisi dan sangat baik untuk memperbaiki struktur tanah. Kotoran kambing merupakan bahan baku yang sangat potensial untuk pembuatan kompos. Berikut adalah langkah-langkah dalam pembuatan kompos dari kotoran kambing: Alat yang dibutuhkan, antara lain: Cangkul/skop, ember, terpal, tempat/kotak kompos. Bahan-bahan yang dibutuhkan: Kotoran kambing: Sebagai sumber utama bahan organik dan nutrisi. Bahan organik lain: Seperti daun-daun kering, jerami, atau sisa pakan. Bahan-bahan ini berfungsi sebagai sumber karbon dan membantu mengatur perbandingan karbon dan nitrogen dalam kompos. Perbandingan yang ideal antara bahan organik dan kotoran kambing adalah 3:1. Bahan Organik Lainnya Urea dosis 6 kg/ton bahan organik. Nitrogen dari urea membantu mikroorganisme pengurai dalam memecah bahan organik menjadi humus, sehingga proses pembuatan kompos menjadi lebih cepat. Urea membantu menyeimbangkan rasio C:N, sehingga proses pengomposan menjadi lebih optimal. Air: Berfungsi untuk menjaga kelembaban selama proses pengomposan. Mikroorganisme: Mikroorganisme seperti bakteri dan jamur berperan penting dalam menguraikan bahan organik menjadi kompos. Mikroorganisme ini umumnya sudah terdapat secara alami dalam kotoran kambing atau dapat ditambahkan dalam bentuk starter kompos. Langkah-langkah pembuatan: Pastikan tumpukan dibuat di tempat yang teduh dan mudah diairi. Buat lapisan dasar (kotoran ternak) setebal 5-10 cm, taburkan bioaktivator dan urea secara merata. Buat lapisan selanjutnya (sampah organik) setebal 5-10 cm, tambahkan air jika kondisi bahan kompos kering (60-70%). Ulangi tahapan sebelumnya sampai ketinggian 1-1,5 meter. Buat lapisan terakhir (kotoran ternak) setebal 5-10 cm, taburkan bioaktivator dan urea secara merata. Tutup menggunakan terpal/plastik. Proses pengomposan selama ± 1 bulan, tergantung pada kondisi lingkungan dan jenis bahan organik yang digunakan. Selama proses pengomposan, suhu di dalam tumpukan akan meningkat secara signifikan. Kontrol kelembaban setiap 7 hari (buka penutup dan tusuk dengan bilah bambu ke dalam tumpukan, jika kering tambahkan air secukupnya. Setelah suhu di dalam tumpukan kembali normal dan bahan organik telah terurai sempurna, kompos siap digunakan. Kompos yang matang biasanya berwarna kecoklatan gelap, berbau harum seperti tanah hutan, dan tidak terdapat lagi bahan organik yang belum terurai. Penulis: Akhmad Ansyor, SP, M.Sc Sumber Bacaan: Dirjen PKH, Kementerian Pertanian Sumber Gambar: Koleksi Akhmad Ansyor, SP, M.Sc