Saat itu untuk mendatangkan bibit burung puyuh anakan (DOQ) prosesnya sangat rumit, karena harus memenuhi kelengkapan surat-surat perizinan dan ongkos kirimnya lebih mahal dan peternak belum berpengalaman tentang hal itu. Sehingga peternak membawa bibit burung puyuh yang masih berupa telur tetas dari Surabaya ke Kendari karena prosesnya mudah dan murah.Setelah itu untuk melanjutkan budidaya ternak puyuh maka peternak bekerjasama dengan penyuluh pertanian lapangan berinovasi membuat mesin tetas sederhana yang berkapasitas 500 butir telur puyuh. Penetasan pertama berhasil menetaskan DOQ dengan ratio 50 % betina dan 50 % jantan. Dari situlah kami mulai mengembangkan burung puyuh di kota Kendari, perlahan sambil belajar mengatasi kendala yang ada dan kami mendapatkan arahan, bimbingan serta motivasi dari penyuluh, dan petugas Dinas Pertanian Kota Kendari, sehingga saat ini peternakan burung puyuh sudah mencapai populasi ribuan ekor. Dari keberhasilan menetaskan telur puyuh tersebut kemudian kami menetaskan telur ayam kampung dan telur bebek, dan hasilnya mesin tetas sederhana ini dapat menetaskan telur hingga mencapai tingkat menetas 90%, tentunya dengan ketelitian dan ketekunan dalam menjalani proses penetasannya.Saat ini peternak juga telah berhasil menetaskan ayam kampung yang jumlahnya telah mencapai ribuan ekor. Untuk itulah pada kesempatan ini kami akan berbagi pengalaman tentang pembuatan dan penggunaan mesin tetas sederhana tersebut sebagai bahan referensi untuk melakukan pengembangan atau budidaya unggas sehingga dapat membuka peluang usaha dan memanfaatkan waktu yang ada dengan peralatan yang sangat sederhana dan mudah dijumpai. Adapaun tahapan pembuatan mesin tetas sederhana tersebut adalah sebagai berikut :1. Peralatan - Gergaji- Palu- Obeng- Tang- Gunting- Tespen 2. BahanBahan 1- Tripleks 3 mm- Papan tebal 2 cm yang dibelah-belah selebar 2,5 cm- Engsel- Grendel- Paku Bahan 2- Kawat ram- Potongan papan 12 cm- Baki/nampan- Paku Bahan 3- Kabel listrik- Pitting lampu 6 biji- Lampu pijar 6 biji masing-masing 5 watt- Isolasi- Thermostat- Pengukur suhu (thermometer) Cara pembuatan :1. Semua bahan 1 dibuat menjadi sebuah kotak penetasan dengan ukuran panjang 60 cm, lebar 60 cm, tinggi 35 cm, dan masing-masing sisi kotak dibentuk dari 2 lembar triplek dengan ukuran yang sesuai2. Buatlah bahan 2 sebagai alas / tempat telur tetas dengan panjang 56 cm, lebar 56 cm, tinggi 12 cm. 3. Bahan 3 sebagai rangkaian instalasi listrik dan thermostat, dengan rangkaian sebagai berikut: Tahapan penggunaan mesin tetas :1. Sebelum digunakan kotak penetas di semprot terlebih dahulu dengan disinfektan agar steril2. Lampu dinyalakan 1 jam sebelum telur dimasukan dengan tujuan untuk memastikan instalasi/lampu dan thermostas berfungsi dengan baik dan menentukan suhu sesuai kebutuhan penetasan, untuk telur puyuh diatur pada suhu 37,8 derajat celcius, dan telur ayam 39 derajat celcius3. Masukan nampan berisi air untuk penyedia kelembaban, jika dalam beberapa hari berkurang/habis maka harus diisi lagi4. Tutup semua lubang fentilasi5. Telur kemudian sudah dapat dimasukan kedalam mesin tetas dengan posisi telur bagian runcing dibawahPada hari ketiga telur mulai diputar 3 kali sehari sampai 2 hari sebelum menetas. Pada hari ke 7 dilakukan peneropongan telur tetas dengan menggunakan lampu yang dimasukan kedalam pipa paralon atau kotak tertutup dan diberi lubang kecil untuk penerawangan sehingga dapat dilihat telur yang dibuahi/fertil dan telur yang tidak dibuahi/infertil, untuk telur yang jadi (fertile) tampak saat diterawang kelihatan gelap dan dapat kembali dimasukan dalam mesin, dan untuk telur yang tidak dibuahi saat diterawang terlihat bening/terang. Kemudian saat hari ke 15 untuk telur puyuh dan hari ke 19 untuk telur ayam lubang fentilasi dibuka. Setelah ayam menetas dipindah kekandang indukan (yang dilengkapi pemanas dari lampu pijar) agar mendapatkan kehangatan sesuai dengan kebutuhan anakan ayam/puyuh/bebek. Setelah 10 hari dipindah kekandang pembesaran. (Firman Sofyan)