Loading...

Pemeliharaan Pertanaman Dalam Memproduksi Benih Secara Mandiri

Pemeliharaan  Pertanaman  Dalam Memproduksi Benih Secara Mandiri
Dalam meproduksi benih secara mandiri, ada tahapan yang harus di dilakukan yaitu pemeliharaan Pertanaman. Dalam kegiatan ini ada 2 hal yang diperhatikan yaitu teknik penyusunan jadwal pemeliharaan tanaman dan teknik Pemeliharaan tanaman Teknik penyusunan jadwal pemeliharaan tanaman Dalam kegiatan budidaya tanaman padi ada beberapa tahapan kegiatan pemeliharaan yang harus dilakukan. Tahapan kegiatan pemeliharaan itu meliputi menyulam mengairi ,memupuk, menyiang, dan pengendalian OPT. Tahapan kegiatan itu harus dilaksanakan sesuai kebutuhan, umur tanaman dan fase pertumbuhan tanaman. Teknik Pemeliharaan tanaman terdiri dari Penyulaman, Penyiangan, Pengairan, pemupukan, penyerbukan buatan dan pengendalian hama penyakit dan Gulma. Untuk berikut ini akan diurai khusus untuk Penyulaman, Penyiangan, Pengairan, dan pemupukan. Sedanngkan untuk Pengendalian hama penyakit akan dijelaskan dalam tulisan tersendiri. Penyulaman ; Beberapa hari setelah tanam (4-5) hari kemungkinan terdapat rumpun tanaman yang mati, pertumbuhan abnormal, terserang hama/penyakit dan perlu disulam dengan menggunakan sisa bibit dan dipilih yang baik. Bibit yang digunakan adalah bibit yang sama baik varietas maupun umur nya. Penyilangan; Sawah disiangi supaya bersih dari semua tumbuhan pengganggu pada saat-saat tumbuhan pengganggu sangat bersaing dengan tanaman padi yaitu kira-kira umur 21 dan 45 hari setelah tanam. Penyiangan dilakukan agar pertanaman terhindar dari persaingan dengan gulma dalam unsur hara , tempat ,sinar matahari dan carbondioksida. Pengairan ; Pemberian air disesuaikan kebutuhan dan tingkat umur tanaman. Pemberian air jangan terlalu dalam baik pada fase vegetatif maupun generatif. Pengairan terhadap pertanaman dilakukan secara teratur sebagai berikut : Setelah bibit ditanam atau setelah pemupukan N pertama, selama 3 hari petakan sawah dikeringkan sampai kondisi macak-macak. Pada umur 4-14 hari tanam sawah diairi setinggi 7-10 cm agar suhu tanah tidak naik yang akan mengakibatkan tanaman menjadi layu. 15-30 hari setelah tanam sawah digenangi terus setinggi 3-5 cm. Apabila tinggi air > 5 cm akan menghambat perkembangan anakan. Sebaliknya apabila kekurangan air pada umur tersebut akan mengurangi jumlah anakan. Setelah itu sawah dikeringkan selama 3 hari dan dibiarkan macak-macak. Pada keadaan ini dilakukan pemupukan N kedua. Pada umur 35-50 hari setelah tanam sawah diairi lagi sampai setinggi 5-10 cm selama 14 hari. Pada umur 50 hst sawah dikeringkan lagi sampai macak-macak selama 5 hari. Pada keadaan ini dilakukan pemupukan N ketiga. Pada umur 55 hari dilakukan penggenangan lagi sedalam 10 cm secara terus menerus sehingga berbunga serempak. Pada 7-10 hari sebelum panen, sawah dikeringkan agar masaknya dapat serempak dan untuk menghindari kemungkinan roboh. Saat-saat pengeringan sawah tersebut dimaksudkan untuk : Memberikan kesempatan pada akar untuk memperoleh tata udara yang baik, sehingga perkembangan akar juga baik dan dapat menjamin pertumbuhan yang baik. Menaikkan suhu tanah sehingga dapat merangsang kegiatan mikro organisme dalam merubah bahan organik. Mengurangi jumlah anakan yang tidak produktif. Membatasi perpanjangan ruas sehingga tidak mudah roboh. Menyeragamkan pembungaan dan pemasakan sehingga tanaman dapat dipanen bersamaan. Pemupukan; Takaran pupuk dan cara pemupukan perlu diketahui sebelum diterapkan disuatu wilayah rekomendasi (recommendation domain). Pada setiap wilayah rekomendasi dapat diterapkan sistem usaha tani preskripsi (preion farming), yaitu mengenai ciri dan permasalahan lahan terlebih dahulu, baru kemudian menentukan kebutuhan pupuk optimum. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk memperoleh dosis pupukspecifik lokasi diantaranya adalah melalui KATAM , PUTS dan petak omisi Salah satu contoh dosis pemupukan per ha adalah : Urea 300 kg, TSP 150 kg atau dapat juga berpedoman pada rekomendasi daerah setempat. Cara :1/3 Urea dan semua TSP diberikan pada waktu tanam,1/3 Urea diberikan pada umur 4 minggu setelah tanam,1/3 Urea diberikan pada umur 7 minggu setelah tanam. Penyerbukan Buatan; Khusus untuk padi hibrida terdapat teknik pemeliharaan yang berbeda dengan padi inbrida yaitu penyerbukan buatan yang tidak dilakukan pada tanaman padi inbrida .Pada tanaman padi hibrida penyerbukan buatan mutlak dilakukan untuk memperoleh produksi yang optimal .Keberhasilan tahapan penyerbukan buatan diawali dengan beberapa teknik budidaya meliputi ketepatan perhitungan berbunga antara bunga betina dan restorer . Apabila langkah tersebut tepat dilaksanakan , pada saatnya baru dilakukan penyerbukan buatan. Penyerbukan buatan adalah tindakan yang dilakukan agar persarian tanaman padi sempurna atau tindakan yang dilakukan agar tepung sari jatuh pada kepala putik dengan sempurna . Beberapa teknik penyerbukan pada tanaman padi hibrida:menggunakan mistblower Penyerbukan dilakukan pagi hari yang diawali dengan tindakan penentuan tingkat kematangan bungan betina dan kematangan restorer . Setelah ditentukan tingkat kematangan bunga tersebut lakukan penyerbukan . Penyerbukan dilakukan dengan cara menggoyang-goyangkan bunga jantan di atas bunga betina dengan bantuan tali, bambu, atau udara Yulia T S. yuliatrisedyowati@gmail.com Daftar Pustaka: I Ketut Siadi I Gusti Ngurah Raka, 2017, Penataan Sistem Perbenihan Untuk Menunjang Revitalisasi Perbenihan Tanaman Pangan Di Bali, Fakultas Pertanian Universitas Udayana Denpasar Bali https://media.neliti.com/media/publications/55241-ID-sistem-perbenihan-padi-dan-karakteristik.pdf Modul Produksi Benih Secara Mandiri, 2021, Program IPDMIP