Jeruk keprok (citrus nobilis) termasuk salah satu buah-buahan yang dikembangkan oleh Pemerintah Indonesia untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan untuk mendukung buah ekspor. Pengembangan jeruk keprok ini bertujuan untuk meningkatkan produksi dalam hal jumlah maupun mutu sehingga dapat diterima pasar dalam maupun luar negeri. Dalam meningkatkan produksi dalam hal jumlah maupun mutu jeruk keprok, harus melakukan pemeliharaan tanaman dengan baik. Pemeliharaan tanaman tersebut meliputi pengairan, pengendalian gulma, pemupukan, pemangkasan, dan penjarangan buah. Namun pemupukan tidak ditulis lagi pada lembar ini, karena telah ditulis dalam lembar lain. Pengairan Jeruk keprok memerlukan air cukup banyak untuk pertumbuhannya, namun memerlukan bulan kering 3 - 4 bulan. Jika masa pertumbuhan (vegetatif) kekurangan air, akan menghambat pertumbuhan tunas dan akar. Sedangkan kekurangan air pada masa berbunga sampai buah siap panen (generatif) akan menyebabkan bunga dan buah rontok, akhirnya produksi buah menurun. Tanaman jeruk keprok perlu cukup air terutama pada musim kemarau, menjelang masa pembungaan, dan pembentukan buah. Pada musim kemarau diperlukan air sekitar 70 - 80 liter per pohon per minggu dan diberikan pada setiap pagi dan sore. Tetapi pada fase produktif (akan pembentukan bunga) pemberian air dikurangi menjadi 40 - 60 liter per pohon per minggu dan dihentikan untuk merangsang pembentukan bunga. Setelah terbentuk bunga, pemberian air kembali normal untuk menghindari terbentuk buah kecil-kecil dan mutu daging buah kurang bagus. Pemberian air dilakukan 5 - 7 hari sekali hingga bunga menjadi pentil dan dilanjutkan 7 - 10 hari sekali sampai buah dapat dipanen. Pada tanaman jeruk yang masih muda pemberian air hanya 2 - 3 hari sekali, karena perakaran masih sedikit dan dangkal. Pengendalian Gulma Semua kotoran berupa daun, ranting, cabang bekas pangkasan harus dibuang, karena dapat menyebabkan datangnya hama dan penyakit tanaman. Pangkaslah daun, ranting, dan cabang yang terserang hama-penyakit, lalu dibakar bersama buah jeruk yang busuk dan rontok. Rumput liar dibersihkan untuk menghindari persaingan dalam penyerapan unsur hara. Jika rumput dalam jumlah yang banyak dan luas dapat digunakan herbisida yang telah direkomendasikan. Bersamaan dengan pembersihan rumput, lakukan penggemburan tanah sekitar tajuk dan dijaga jangan rampai merusak perakaran. Pemangkasan Pemangkasan merupakan pengurangan beberapa cabang dengan tujuan untuk membentuk tanaman tidak terlalu tinggi sehingga mudah dalam pemeliharaan dan kokoh, pengaturan cabang agar memperoleh sinar matahari secara merata, memperbaiki kualitas buah (ukuran, warna, dan rasa asam), memperbanyak tunas baru, dan mengurangi kerimbunan tanaman. Pemangkasan dilakukan sejak tanaman setinggi 70 - 80 cm untuk membentuk pohon dengan cabang yang arah yang berbeda. Dari batang utana dipelihara 3 - 4 cabang utama dengan arah membentuk sudut yang seimbang antar cabang pada ketinggian yang berbeda. Usahakan jangan memelihara tanaman dengan 2 cabang utama karena batang dapat terbelah jika berbuah lebat. Kemudian cabang-cabang yang tidak dikehendaki dipangkas sampai pangkal cabang. Pemangkasan selanjutnya dilakukan dengan cara yang sama, pada setiap cabang dipelihara 3 - 4 cabang. Dengan dimikian akan terbentuk percabangan yang teratur dan kanopi pohon membentuk kubah dengan penyebaran daun merata. Pemangkasan berikutnya tetap dilakukan untuk menjaga bentuk pohon dan mengatur pembungaan, dengan membuang canang atau ranting yang rusak, mati, dan terserang hama-penyakit tanaman. Kemudian tanaman pada usia produktif, dilakukan pemangkasan pemeliharaan kembali dengan membuang cabang-cabang atau tunas liar yang tumbuh tidak pada tempatnya, misalnya di bawah percabangan pertama harus dibuang. Penjarangan Buah Tanaman jeruk berproduksi berumur sekitar 3 tahun. Buah pertama sebaiknya dibuang dan jika dipelihara sebaiknya tidak lebih dari 40% agar tanaman kokoh, berumur panjang, dan tidak mudah terserang hama-penyakit. Selanjutnya penjarangan buah dilakukan agar buah tidak berdesakan dalam dompolan dan bertujuan untuk mencapai ukuran buah yang maksimal. Dilakukan sejak buah masih sebesar kelereng, dengan cara memetik buah jeruk yang kurus, bentuk tidak sempurna, dan terserang hama-penyakit. Kemudian buah diatur agar tidak saling bergesekan atau terjepit ranting pohon yang dapat mengakibatan kulit buah cacat. Penulis : SUSILO ASTUTI H. (Penyuluh Pertanian, Pusluhtan) Sumber informasi: 1. Budidaya Jeruk (Citrus sp.). Direktorat Budidaya dan Pasca Panen Buah, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian. 2011. 2. Redaksi Agro Media. Buku Pintar Budi Daya Tanaman Buah Unggul Indonesia. Jakarta: PT Agromedia Pustaka. 2009. 3. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Jeruk. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. 2005. 4. Jeruk Keprok. Direktorat Tanaman Buah, Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura. 2002.