Loading...

pemilihan benih jagung unggul di gapoktan sido makmur desa randusongo kecamatan gerih kabupaten ngawi

pemilihan benih jagung unggul di gapoktan sido makmur desa randusongo kecamatan gerih kabupaten ngawi
desa randusongo kecamatan gerih memiliki lahan pertanian yang potensial untuk ditanami tanaman jagung. lahan pertanian yang ada di dalam wilayah gapoktan sido makmur memiliki karakter tanah dan iklim yang sangat cocok untuk tanaman jagung. keberhasilan dalam berbudi daya jagung dipengaruhi oleh pemilihan benih jagung yang baik. beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam memilih varietas, antara lain: kesesuaian tanah dan iklim, daya toleransi terhadap hama, penyakit, cekaman kekeringan, kemasaman tanah pola tanam dan tujuan penanaman, kesukaan (preferensi) petani terhadap karakter jagung seperti umur tanaman, warna biji dan lain sebagainya di indonesia, jagung dibudidayakan pada lingkungan yang beragam. luas areal panen jagung sekitar 3,3 juta ha/tahun, 80% di antaranya ditanami varietas unggul yang terdiri atas 56% jagung bersari bebas (komposit) dan 24% hibrida, sedang sisanya varietas lokal (pingali 2001). data nugraha et al. (2002), menunjukkan, luas areal tanam jagung varietas unggul telah mencapai 75% (48% besari bebas, 27% hibrida). dari data tersebut nampak bahwa sebagian besar petani masih menggunakan benih jagung bersari bebas. hal ini terkait dengan harga benih jagung bersari bebas lebih murah daripada benih jagung hibrida, atau karena benih hibrida sukar diperoleh, terutama di daerah terpencil. penggolongan benih jagung sebagai berikut : benih lokal, adalah benih yang dihasilkan oleh petani dari hasil penanaman untuk konsumsi. dari hasil penanaman tersebut petani memilih yang baik berdasarkan kondisi tongkol yang dihasilkan. diperkirakan sekitar 40% petani jagung masih menggunakan benih lokal yang produksinya rendah. alasan petani menggunakan benih lokal antara lain: benih lokal masih dapat diproduksi petani dan lebih murah serta lebih mudah didapatkan, petani sering mengalami kesulitan untuk mendapatkan benih yang lebih bermutu karena keterbatasan permodalan atau produksi benih bermutu masih kurang. produktivitas jagung dari benih lokal sangat rendah, hanya berkisar 1,5 - 2 ton per hektar. oleh karena itu petani tidak dianjurkan untuk menggunakan benih lokal. benih komposit, adalah benih yang bersari bebas dan termasuk varietas unggul. benih komposit dihasilkan dari tanaman jantan dan betina yang berasal dari tongkol yang sama. benih komposit dapat digunakan secara berulang (3-4 kali), kurang responsif terhadap pemupukan, potensi produksinya lebih tinggi dibandingkan dengan benih lokal (7-8 ton/hektar), umurnya 95-105 hari, dan pertumbuhannya sering tidak seragam. akan tetapi, benih komposit relatif lebih adaptif terhadap kondisi tanah masam dan toleran terhadap kekeringan. benih hibrida, dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu: hibrida silang tunggal dan hibrida 3 jalur. hibrida silang tunggal adalah benih hibrida yang dihasilkan dari 2 varietas, sedangkan hibrida 3 jalur dihasilkan dari hasil persilangan 2 varietas dengan varietas lain yang memiliki sifat unggul yang tidak dimiliki oleh hasil persilangan pertama. benih hibrida adalah benih unggul yang hanya dapat digunakan sekali saja, responsif terhadap pemupukan atau input tinggi sehingga potensi produksinya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan benih komposit yaitu10-12 ton perhektar. umurnya juga lebih pendek (kurang dari 90 hari) sehinga potesial untuk meningkatkan ip (indek penanaman). penampilannya, pertumbuhan dan penyerbukan relatif seragam. pada saat ini, penggunaan benih jagung hibrida untuk wilayah desa randusongo kecamatan gerih sudah hampir 95%. tahapan – tahapan pemilihan benih jagung sebagai berikut : pengujian mutu benih benih bermutu adalah benih yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: berlabel dan bersertifikat secara genetik memiliki tingkat kemurnian varietas yang tinggi, tidak tercampur dengan sifat-sifat buruk dari varietas yang tidak dikehendaki secara fisiologis memiliki kemampuan berkecambah yang tinggi. disarankan benih terpakai memiliki daya kecambah lebih dari 95%. secara fisik benih terbebas dari gejala adanya serangan penyakit, warna dan ukuran benih seragam, kadar air biji rendah (9-11%). benih yang akan digunakan harus diketahui kadar air dan daya kecambahnya. uji daya kecambah dan kadar air dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: uji daya kecambah dengan menggunakan media pasir siapkan media tumbuh (dari bak berisi pasir yang dibasahi) ambil 100 biji secara acak tanam biji pada media pasir tidak terbenam dan tutup dengan daun pisang amati benih yang berkecambah pada hari keempat dan ketujuh. benih yang pada pengamatan tersebut tidak berkecambah dianggap tidak normal. hitung daya kecambah dengan rumus = jumlah benih yang tumbuh normal / benih yang dikecambahkan x 100% uji daya kecambah dengan kertas digulung plastik (ukdp) siapkan selembar plastik dan diatasan 5 lembar kertas koran yang sudah dibasahi ambil 100 biji jagung secara acak tempatkan biji jagung di atas kertas basah secara teratur lipat kertas secara teratur sedemikian rupa sehingga biji jagung tidak terhambur amati benih yang berkecambah pada hari keempat dan ketujuh. benih yang pada pengamatan tersebut tidak berkecambah dianggap tidak normal. hitung daya kecambah dengan rumus = jumlah benih yang tumbuh normal/benih yang dikecambahkan x 100% kecambah normal adalah kecambah yang menunjukkan untuk dapat berkembang lebih lanjut menjadi tanaman yang tubuh dengan baik bila ditanam pada kondisi kelembaban, temperatur, dan cahaya yang sesuai. kecambah normal dicirikan oleh tumbuhnya akar dan hipokotil yang sempurna. uji kadar air penentuan kadar air dengan menggunakan alat moinsture tester penentuan kadar air dengan cara pendugaan biji masih melekat di tongkol, jika digesek-gesek mengeleluarkan bunyi nyaringmenunjukkan bahwa biji berkadar air 15 -17% biji ditekan dengan menggunakan kuku jika tidak menimbulkan bekas menunjukkan bahwa biji berkadar air 15 – 17 % biji digigit, jika pecah menjadi menjadi dua menunjukkan bahwa biji berkadar air 14 – 17% biji dilentingkan di lantai, jika biji melenting 10 cm sampai 20 cm menunjukkan bahwa biji berkadar air 9 – 11%. penentuan kadar air dengan menggunakan alat pengering (oven), penentuan kadar air dilakukan dengan mengambil sejumlah sampel dan ditimbang (berat basah). sampel dikeringkan sampai bobot konstan dan kemudian ditimbang (berat kering). kadar air dihitung dengan rumus, kadar air (%) = (berat basah-berat kering)/berat basah x 100% menghitung kebutuhan benih penentuan kebutuhan benih perlu dilakukan demi efisiensi. jangan sampai petani berlebihan atau kekurangan dalam pengadaannya. dalam budidaya tanaman jagung tidak dikenal penyulaman dengan menggunakan benih karena penyulaman dengan benih langsung pertumbuhannya akan tertinggal sehingga tidak akan terjadi penyerbukan. tindakan penyulaman dimungkinkan jika bibit sulam sudah dipersiapkan. dengan demikian, umur tanaman sama sehingga memungkinkan terjadinya penyerbukan. kebutuhan benih tergantung pada luas lahan yang ditanami, populasi tanaman per hektar, daya kecambah, dan varietas yang digunakan. varietas menentukan jarak tanam atau populasi per hektar, bobot atau ukuran biji. pada umumnya banyaknya benih yang digunakan oleh petani desa randusongo berkisar antara 18 – 19 kg/ ha dengan jarak tanam 75 cm x 40 cm (2 tanaman per lubang) atau 75 cm x 20 cm (1 tanaman per lubang). untuk menentukan banyaknya benih yang dibutuhkan untuk luasan tertentu dapat digunakan rumus sebagai berikut : kebutuhan benih = (luas lahan x populasi per hektar)/( daya kecambah (%) x bobot biji x 10.000) contoh luas lahan = 6000 m² daya kecambah = 90% bobot biji = 250 g/1000 biji populasi per hektar = 70.000 tanaman (jarak tanam 75 cmx20cm, 1 biji/lubang) maka, benih yang dibutuhkan adalah: 6000/10000 x 100/90 x 70.000 x 250/1000 = 9450 g atau 9,5 kg melakukan ”seed teratment” perlakukan benih (seed treatment) adalah tindakan yang dilakukan untuk mencegah timbulkan penyakit (seed born diseases). bahan yang digunakan adalah fungisida. perlakukan benih pada jagung sebelum ditanam terutama ditujukan untuk mencegah timbulnya pernyakit bulai. penyakit bulai dikenal sangat merugikan petani karena tanaman yang terserang bulai dipastikan tidak akan menghasilkan buah dan sifat penyebarannya yang cepat. untuk mencegah bulai, benih jagung diperlakukan dengan metalaksil (umumnya berwarna merah), dengan dosis 2 g (bahan produk) per 1 kg benih yang dicampur air 10 ml. dosis yang berlebihan tidak efisien. sebaliknya jika dosisnya kurang, perlakuan benih tidak merata sehingga benih akan rentan terhadap serangan bulai. saat mencampur benih dengan larutan metalaksil jangan sampai menimbulkan kerusakan benih. benih yang telah dicampur dengan larutan metalaksil dikeringanginkan selama ± 2 jam supaya metalaksil melekat sempurna. metalaksil dapat meresap ke dalam biji dan bersifat racun yang mengakibatkan rusaknya endosperm (lembaga). oleh karena itu, benih tidak dapat disimpan lama. untuk itu dianjurkan segera ditanam atau paling lama 3-4 hari segera ditanam. insektisida sevin digunakan jika di lahan pertanaman terdapat banyak semut. sevin digunakan dengan dosis 1 g untuk setiap kg benih. sevin diberikan dengan cara dicampur benih sebelum ditanam. proses seed treatment ini oleh petani desa randusongo jarang dilakukan karena merasa jika benih tersebut hibrida maka sudah dilakukan seed treatment oleh perusahaannya. bahan bacaan anonimous, 2008. penelitian padi dan palawija. teknologi untuk petani. badan penelitian dan pengembangan pertanian, pusat penelitian dan pengembangan tanaman pangan. 2010. pedomam umum ptt jagung. kementerian pertanian, badan penelitian dan pengembangan pertanian, jakarta. highlight, 2009. balai penelitian dan pengembangan tanaman serealia, maros made j. mejaya, m. azrai, dan r. neni iriany. 2008. pembentukan varietas unggul jagung bersari bebas. balai penelitian tanaman serealia, maros tim penulis ps. agribisnis tanaman sayuran. ed rev cetakan xv. penebar swadaya. jakarta 2009. seri budidaya jagung hibrida. penerbit kanisius, yogyakarta penulis : sugiyanto, stp, penyuluh bpp kecamatan gerih kabupaten ngawi