Dalam memilih bahan tanaman kopi, dianjurkan untuk menggunakan 3-5 macam klon unggul dalam satu pertanaman/blok. Pemilihan 3-5 klon unggul ini disebabkan karena setiap klon unggul belum tentu cocok untuk kebun kita, namun apabila terlalu banyak jenis yang ditanam maka pertanaman dan produksinya menjadi kurang seragam. Kopi robusta (Coffee canephora) termasuk jenis tanaman yang bersifat menyerbuk silang , sehingga bila menggunakan bibit sambungan (enten) klon-klon unggul, kita harus memakai lebih dari satu jenis klon yang ditanam baris demi baris secara berdampingan. Pemilihan Komposisi. Komposisi klon suatu pertanaman harus mengandung unsur-unsur yang dapat memberi kemungkinan bagi tercapainya produktivitas yang tinggi. Yang perlu diperhatikan dalam memilih komposisi klon adalah masa pemekaran bunga, kompatibilitas antar klon, adaptasi terhadap lingkungan, serta keseragaman besar biji. Masa Pemekaran bunga: Dalam memilih klon harus dipertimbangkan bahwa klon-klon tersebut mempunyai masa pemekaran bunga yang kira-kira bersamaan waktunya, terutama pada saat pembungaan utama. Perbedaan waktu mekarnya bunga menyebabkan sebagian bunga tidak cukup memperoleh tepung sari seperti yang diharapkan. Kompatibilitas antar klon: Tidak semua klon memiliki kompatibilitas yang sama antara yang satu dengan yang lain. Sebagai contoh, bunga dari BP 409 akan memberikan hasil pembuahan lebih banyak apabila memperoleh tepungsari dari BP 358 (67%), dan akan memberikan hasil pembuahan lebih sedikit apabila memperoleh tepungsari dari BP 42 (42%) dan BP 234 (49%). Dengan demikian berarti BP 409 lebih kompatibel terhadap BP 358, dibandingkan terhadap BP 234 dan BP 42. Permasalahan yang ada adalah ada 2 macam klon yang memiliki kompatibilitas resiprokal (reciprocal compatibility) yang berbeda secara ekstrem. Sebagai contoh, BP 409 x BP 358 menghasilkan pembuahan 67%, namun BP 358 x BP 409 menghasilkan pembuahan 21 %. Persilangan resiprokal (bolak-balik)) antara BP 409 dan BP 358 (jantan) ternyata menghasilkan persentase pembuahan yang sangat berbeda. Walaupun BP 409 (induk) kompatibel terhadap BP 358, namun sebaliknya BP 358 (induk) ternyata kurang kompatibel terhadap BP 409 (jantan). Oleh karena itu apabila kita hanya menggunakan 2 macam klon, maka resiko adanya kemungkinan semacam ini menjadi lebih besar, bila kompatibilitas-resiprokal antara kedua klon tersebut belum diketahui. Oleh karena itu hendaknya dihindari penanaman secara biklonal (hanya 2 jenis klon) dengan kombinasi-kombinasi seperti di atas, Klon-klon tersebut harus ditanam dalam komposisi poliklonal, yang tediri atas 3-5 klon. Adaptasi terhadap lingkungan: Klon-klon dalam satu komposisi harus memiliki adaptasi yang sama terhadap kondisi lingkungan kebun kita, seperti tinggi tempat dan tipe curah hujan. Tinggi tempat: Sebagian besar klon unggul yang kita miliki pada umumnya toleran terhadap perbedaan elevasi terutama BP 42 dan BP 409. Klon yang sensitive terhadap elevasi antara lain BP 288 dan BP 234 yang lebih menyukai daerah daerah agak rendah. Tipe curah hujan: Secara umum daerah kopi di Indonesia dapat dibagai dalam 3 macam tipe curah hujan, yaitu tipe C mendekati D (kering), tipe C mendekati B (sedang), dan tipe B (basah). Daerah yang kering (tipe hujan C mendekati D) lebih cocok untuk klon-klon berbunga lambat misalnya BP 42 dan BP 409, sedangkan daerah yang mempunyai tipe curah hujan b (basah) lebih cocok untuk klon-klon yang berbunga cepat seperti BGN 300, BGN 371, BP 234 dsb. Daerah yang sedang (tipe hujan C mendekati B pada umumnya cocok untuk klon-klon lain yang dianjurkan. Keseragaman besar biji: Hendaknya diusahakan agar klon-klon yang ditanam memiliki besar biji yang tidak terlalu berbeda antara satu dengan yang lainnya, karena akan mempengaruhi efisiensi pengolahan serta mutu produk. Apabila ukuran biji dari masing-masing berbeda secara ekstrim, maka pulping akan mengalami banyak hambatan. Biji akan terdiri dari fraksi-fraksi yang heterogen, yang banyak memerlukan waktu untuk sortasi, disamping banyak biji yang pecah. Beberapa klon yang berbiji besar misalnya BP 409 dan BP 42, dan yang berbiji agak kecil misalnya BP 234, BGN 371, dll. Ada beberapa klon robusta yang dapat berbuah melalui penyerbukan sendiri (self pollination) seperti BGN 371 dan BP 234. Oleh karena itu klon-klon ini tahan terhadap iklim yang basah. Penulis: Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian Madya. Sumber: Rangkaian Perkembangan dan Permasalahan Budidaya &Pengolahan Kopi di Indonesia Oleh Ir.Mudrig Yahmadi. Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia Jatim. Edisi Revisi. 2007.