
Tepat Jenis: Pilih pupuk sesuai kebutuhan tanah dan fase pertumbuhan (contoh: NPK untuk akar muda, Urea untuk daun).
Tepat Dosis: Disesuaikan dengan hasil uji tanah atau gejala tanaman, tidak berlebihan.
Tepat Waktu: Diberikan saat tanaman membutuhkan dalam jumlah banyak (misal: 7-10 HST, 21-25 HST, 30-35 HST untuk urea).
Tepat Cara: Penempatan pupuk efektif (misal: ditabur merata di sekitar tanaman).
Pemberian Awal (7-10 HST): Urea (40%) + NPK (50%) untuk memicu pertumbuhan akar dan daun awal.
Pupuk Susulan I (15-25 HST): Urea + NPK untuk memperkuat anakan.
Pupuk Susulan II (30-35 HST atau saat perlu): Tambahan Urea (20%) jika daun kurang hijau (dipantau BWD).
a. Memantau kehijauan daun untuk menentukan kebutuhan Nitrogen (N).
b. Daun hijau muda = kurang N (perlu Urea). Daun hijau tua = N cukup.
c. BWD dapat menghemat Urea 15-20% tanpa menurunkan hasil.
a. Kombinasikan pupuk anorganik dengan pupuk organik (pupuk kandang, kompos).
b. Unsur penting: Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), dan Belerang (S).

Agar efektif dan efisien, penggunaan pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara dalam tanah. Kebutuhan N tanaman dapat diketahui dengan cara mengukur tingkat kehijauan warna daun padi menggunakan Bagan Warna Daun (BWD).
Penggunaan BWD untuk menentukan waktu aplikasi pupuk N bisa dilakukan dengan dua cara :
Cara pertama : adalah waktu tetap (fixed time) yaitu waktu pemupukan ditetapkan lebih dahulu berdasarkan tahap pertumbuhan tanaman, antara lain fase pada saat anakan aktif dan pembentukan malai atau saat primordia. Nilai pembacaan BWD digunakan untuk mengoreksi dosis pupuk N yang telah ditetapkan sehingga menjadi lebih tepat seuai dengan kondisi tanaman.Cara kedua : adalah waktu pemberian pupuk berdasarkan nilai pembacaan BWD yang sebenarnya (real time), yaitu penggunaan BWD dimulai ketika tanaman berumur 14 HST kemudian secara periodik diulangi 7-10 hari sekali sampai ketahuan nilai kritis saat pupuk N harus diaplikasikan. Untuk kondisi Indonesia disarankan untuk menggunakan fixed time.
a. Cara Penggunaan BWD Waktu Tetap (fixed time)
Pembacaan BWD hanya dilakukan menjelang pemupukan kedua (tahap anakan aktif, 23-28 HST) dan pemupukan ketiga (tahap primordia , 38-42 HST)
Jika nilai pembacaan BWD berada dibawah nilai kritis (< 4,0), maka dosis pupuk N yang diberikan dinaikkan sekitar 25 % dari jumlah yang sudah ditetapkan.
Sebaliknya jika hasil pembacaan BWD diatas nilai kritis (> 4,0), maka dosis pupuk N yang diberikan dikurangi sekitar 25 % dari jumlah yang sudah ditetapkan.
Cara Penggunaan BWD Waktu Sebenarnya (real time)
Pengukuran dengan BWD diawali pada 25 – 28 hst, dilanjutkan setiap 7 – 10 hari sekali sampai fase primordia (10 % tanaman padi berbunga).
Pilih secara acak 10 rumpun tanaman sehat pada hamparan yang seragam, lalu pilih daun teratas yang telah membuka penuh pada satu rumpun.
Taruh bagian tengah daun di atas BWD dan bandingkan warnanya. Jika warna daun berada diantara 2 skala, digunakan nilai rata-ratanya, misalnya : 3,5 untuk warna antara 3 dan 4.
Sewaktu mengukur dengan BWD, jangan menghadap sinar matahari, sebab dapat mempengaruhi pengukuran warna.
Bula memungkinkan, setiap pengukuran dilakukan pada waktu yang sama oleh orang yang sama.
Tabel. 1. Acuan umum pemupukan fosfor pada tanaman padi sawah
|
Kelas status hara P tanah |
Kadar hara terekstrak HCL 25 % (mg P2O5/100 g) |
Dosis acuan pemupukan P (kg SP-36/ha) |
|
Rendah |
< 20 |
100 |
|
Sedang |
20 – 40 |
75 |
|
Tinggi |
> 40 |
50 |
Tabel. 2. Acuan umum pemupukan kalium pada tanaman padi sawah dengan tanpa jerami
|
Kelas status hara K tanah |
Kadar hara terekstrak HCL 25 % (mg K2O/100 g) |
Dosis acuan pemupukan K (kg KCl/ha) |
|
Rendah |
< 10 |
100 |
|
Sedang |
10 – 20 |
50 |
|
Tinggi |
> 20 |
50 |
Keracunan besi pada tanaman padi terjadi karena tingginya konsentrasi Fe dalam larutan tanah. Tanaman muda yang baru di tanam di lapang sering terpengaruh oleh tingginya konsentrasi ion fero (Fe2+) setelah lahan digenangi. Warna hitam Fe Sulfida di akar merupakan tanda kondisi sangat reduktif dan tanaman keracunan Fe. Drainase dapat menanggulangi keracunan Fe.
Bahan organik adalah bahan yang berasal dari limbah tanaman, kotoran hewan atau hasil dari pengomposan seperti kotoran sapi, kotoran ayam, jerami atau sisa tanaman lain, pupuk hijau dan hasil atau sisa pangkasan tanaman kacang-kacangan.
- a. Meningkatkan kesuburan tanah dan kandungan karbon organik tanah
- b. Memberikan tambahan hara
- c. Meningkatkan aktivitas jasad renik (mikroba)
- d. Memperbaiki sifat fisik tanah
- e. Mempertahankan perputaran unsur hara dalam sistem tanah dan tanaman.
Cara penggunaan bahan organik :
- Bahan organik disebar merata di atas hamparan sawah, dua minggu sebelum pengolahan tanah.
- Kadang-kadang jerami padi dibiarkan dulu melapuk langsung di sawah selama satu musim.
PPL : Yeyen Teti Kurniati, SP