Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan utama di dunia, yang memiliki peran penting dalam ketahanan pangan global dan ekonomi pertanian. Untuk mencapai produktivitas yang optimal, salah satu aspek krusial dalam budidaya jagung adalah pemupukan berimbang. Pemupukan berimbang tidak hanya meningkatkan hasil panen tetapi juga menjaga kesehatan tanah dalam jangka panjang. Pemupukan berimbang adalah aplikasi nutrisi tanaman dalam jumlah dan perbandingan yang sesuai dengan kebutuhan spesifik tanaman pada fase pertumbuhan tertentu. Konsep ini mencakup penggunaan berbagai jenis pupuk, baik organik maupun anorganik, untuk menyediakan unsur hara esensial seperti nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), serta mikronutrien lainnya. Unsur Hara Esensial untuk Jagung Nitrogen (N) merupakan unsur hara yang sangat penting untuk pertumbuhan vegetatif tanaman jagung. Nitrogen berperan dalam pembentukan protein, enzim, dan klorofil. Kekurangan nitrogen dapat menyebabkan daun berwarna kuning dan pertumbuhan tanaman terhambat. Fosfor (P) penting untuk pembentukan akar, bunga, dan biji. Fosfor juga berperan dalam transfer energi dalam tanaman. Tanaman jagung yang kekurangan fosfor biasanya memiliki daun yang berwarna ungu dan pertumbuhan akar yang lemah. Kalium (K) membantu dalam proses fotosintesis, pengaturan tekanan osmotik, dan peningkatan ketahanan tanaman terhadap penyakit. Kekurangan kalium dapat menyebabkan daun menguning dan bercak coklat pada tepi daun. Mikronutrien unsur seperti seng (Zn), boron (B), dan besi (Fe) diperlukan dalam jumlah kecil tetapi esensial untuk fungsi metabolisme tanaman. Mikronutrien membantu dalam berbagai proses biokimia dalam tanaman. Pemupukan berimbang memiliki beberapa manfaat utama: Dengan menyediakan nutrisi yang cukup dan sesuai kebutuhan, tanaman jagung dapat tumbuh lebih sehat dan menghasilkan lebih banyak biji per tongkol. Penggunaan pupuk organik dalam pemupukan berimbang membantu meningkatkan kandungan bahan organik dan mikroba tanah, yang berdampak positif pada struktur dan kesuburan tanah jangka panjang. Pemupukan berimbang mencegah pemberian pupuk berlebih yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, terutama perairan melalui lindi atau runoff. Teknik Pemupukan Berimbang pada Jagung Sebelum melakukan pemupukan, penting untuk melakukan analisis tanah untuk mengetahui kandungan unsur hara dalam tanah. Ini membantu menentukan jenis dan jumlah pupuk yang diperlukan. Pemberian pupuk dasar sebelum tanam atau pada awal pertumbuhan. Pupuk yang umum digunakan adalah urea, SP-36, dan KCl. Pupuk organik seperti kompos atau pupuk kandang juga dapat ditambahkan untuk meningkatkan kesuburan tanah. Pemupukan susulan dilakukan pada fase pertumbuhan tertentu, seperti saat tanaman mulai membentuk tongkol. Pupuk nitrogen sering diberikan pada tahap ini untuk mendukung pertumbuhan biji. Aplikasi pupuk mikro dalam beberapa kasus, diperlukan pemberian pupuk mikronutrien seperti seng atau boron yang dapat diberikan melalui aplikasi foliar (semprotan daun) atau dicampur dengan pupuk dasar dan susulan. Pemupukan untuk Tanaman Jagung Penentuan dosis pupuk tergantung pada kondisi tanah, kebutuhan tanaman, dan tahap pertumbuhan. Berdasarkan penelitian, berikut adalah dosis umum untuk pemupukan jagung: Pemupukan Dasar Nitrogen : 50-60 kg N/ha. Nitrogen adalah unsur hara esensial yang sangat penting untuk pertumbuhan vegetatif tanaman jagung. Pupuk nitrogen yang umum digunakan antara lain urea, ammonium nitrat, dan ammonium sulfat. Urea (CO(NH2)2), pupuk ini mengandung sekitar 46% nitrogen dan sangat larut dalam air. Urea sering digunakan karena harganya relatif murah dan ketersediaannya yang melimpah. Fosfor : 30-40 kg P2O5/ha. Fosfor diperlukan untuk pembentukan akar, bunga, dan biji. Pupuk fosfor yang umum adalah superfosfat tunggal (SP-36) dan triple superphosphate (TSP). SP-36, mengandung sekitar 36% fosfor pentoksida (P2O5) dan membantu mempercepat pertumbuhan akar dan perkembangan awal tanaman Kalium : 30-40 kg K2O/ha. Kalium penting untuk fotosintesis, transportasi nutrisi, dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit. Pupuk kalium yang umum digunakan adalah kalium klorida (KCl) dan kalium sulfat (K2SO4). KCl: Mengandung sekitar 60% kalium oksida (K2O) dan mudah diserap oleh tanaman. Pupuk dasar diberikan pada saat pengolahan tanah atau sebelum tanam. Pupuk fosfor dan kalium biasanya diaplikasikan bersamaan dengan pupuk organik seperti kompos atau pupuk kandang. Pupuk ini ditaburkan merata di lahan dan dicampur dengan tanah sedalam 10-15 cm. Pemupukan Susulan Kebutuhan Nitrogen 50-100 kg N/ha diberikan dalam dua tahap, yaitu pada fase pertumbuhan vegetatif (30 hari setelah tanam) dan pada fase pembentukan tongkol (60 hari setelah tanam). Pemupukan susulan dilakukan pada fase pertumbuhan vegetatif dan pembentukan tongkol. Pupuk nitrogen diaplikasikan di sekitar pangkal tanaman dengan jarak 5-10 cm dari batang dan kemudian ditutup dengan tanah untuk mengurangi kehilangan nitrogen akibat penguapan. Pupuk Mikro Kebutuhan Zinc Sulfate 5-10 kg Zn/ha, biasanya diaplikasikan pada awal musim tanam atau melalui semprotan daun pada fase vegetatif awal. Mikronutrien seperti seng (Zn), boron (B), dan besi (Fe) juga penting meskipun dalam jumlah kecil. Pupuk mikro biasanya diaplikasikan dalam bentuk pupuk daun atau dicampur dengan pupuk dasar. Zinc Sulfate (ZnSO4) digunakan untuk mencegah defisiensi seng yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Pupuk mikro seperti zinc sulfate dapat diaplikasikan melalui semprotan daun atau dicampur dengan pupuk dasar. Semprotan daun dilakukan pada pagi atau sore hari untuk menghindari penguapan yang tinggi dan memastikan penyerapan yang optimal oleh tanaman. Pemupukan berimbang merupakan strategi penting dalam budidaya jagung yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen serta menjaga kesehatan tanah. Dengan memahami kebutuhan nutrisi tanaman jagung dan menerapkan teknik pemupukan yang tepat, petani dapat mengoptimalkan hasil dan memastikan keberlanjutan usaha tani. Melalui pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan, kita dapat mendukung ketahanan pangan dan pertanian yang ramah lingkungan. Pemupukan yang tepat adalah kunci keberhasilan dalam budidaya jagung. Pemilihan jenis pupuk yang sesuai, penentuan dosis yang tepat, dan cara aplikasi yang efisien dapat meningkatkan produktivitas tanaman jagung dan menjaga kesuburan tanah. Dengan mengikuti panduan pemupukan yang berdasarkan penelitian dan praktik terbaik, petani dapat mencapai hasil panen yang optimal dan berkelanjutan. (Dari berbagai sumber)