Penanaman tebu banyak dilakukan di lahan kering. Lahan kering pada umumnya mempunyai kandungan bahan organik rendah, pH masam, kandungan liat dan besi tinggi sehingga tingkat kesuburannya rendah dan peka terhadap erosi serta pemadatan tanah. Untuk itu pemberian bahan organik sangat diperlukan agar dapat meningkatkan kemampuan daya serap tanah terhadap air serta mengurangi laju pencucian unsur hara dan peningkatan kapasitas tukar kation (KTK) tanah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga ketersediaan bahan organik dan hara dalam tanah adalah melalui pemupukan. Pemupukan dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Pemupukan dapat dilakukan dengan pupuk anorganik maupun pupuk organik. Dalam budidaya tebu, pemupukan mutlak diperlukan. Pemupukan merupakan usaha peningkatan kesuburan tanah, pada jumlah dan kombinasi tertentu dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tebu. Pemberian pupuk pada tanaman tebu bergantung pada varietas, iklim, hama penyakit, serta tingkat produktivitas. Berdasarkan hal tersebut, rekomendasi pemberian macam dan jenis pupuk harus didasarkan pada kebutuhan optimum dan tersedianya unsur hara dalam tanah disertai dengan pelaksanaan pemupukan yang efisien baik waktu maupun cara pemberian. Kombinasi jenis dan dosis pupuk yang digunakan berkaitan erat dengan tingkat produktivitas dan rendemen tebu. Pupuk organik pada tanaman tebu semakin jarang dilakukan, sehubungan dengan hal itu maka penggunaan pupuk organik pada tanaman tebu berupa kotoran ternak, kompos tanaman perlu digalakan. Manfaat dari pemberian pupuk organik antara lain meningkatkan daya dukung tanah, efisiensi pupuk kimia, meningkatkan kandungan bahan organik dan unsur hara di dalam tanah, menambah mikrobia dalam tanah mempertahankan kualitas fisik tanah melalui pembentukan pori tanah dan kemantapan agregat tanah dan sebagai buffer (penyangga) dan penahan lengas tanah, memperbaiki struktur tanah, mengikat unsur nitrogen, melarutkan fosfat, mengurai kalium, merangsang pertumbuhan tanaman, menetralisir zat kimia yang bersifat racun (Al dan Fe) dalam tanah, mengurangi kerontokan bunga dan buah, mereduksi penggunaan pupuk anorganik, meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tanaman, dan membuat tanaman menjadi lebih tahan terhadap serangan hama. Selain itu pupuk organik bersifat slow release (terurai secara lambat) yaitu unsur hara akan dilepas secara perlahan-lahan dan terus menerus dalam jangka lebih lama sehingga memperkecil kehilangan unsur hara. Seperti kita ketahui tebu membawa biomassa sebesar produksi yang dihasilkan. Untuk itu perlu dilakukan pemberian kompos atau unsur hara dalam jumlah yang banyak agar unsur hara dalam tanah dapat tetap seimbang. Sehubungan dengan itu jumlah kompos harus diterapkan dalam jumlah yang dapat meningkatkan kandungan organik tanah dan harus diterapkan secara teratur. Dalam pemupukan hal yang perlu diperhatikan adalah tingkat kritis kecukupan unsur hara tanaman. Tanaman tebu mempunyai batas kritis kecukupan unsur N sebanyak 1,5%, unsur P 0,05%, unsur K 2,25%. Untuk itu rekomendasi jumlah pupuk organik yang harus diberikan bervariasi antara 5 – 10 ton/ha tergantung pada kandungan bahan organik dan tingkat kesuburan tanah. Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Sumanto, Siswanto dan Fitriningdyah, 2019. Pupuk Organik Pada Penerapan Teknologi Tebu Terpadu. Peningkatan Produktivitas Dan Keberlanjutan Adopsi Teknologi Tebu Terpadu. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.