Semangka termasuk tanaman yang membutuhkan unsur nitrogen cukup banyak. Hal ini dapat terlihat pada: - pertumbuhan tanaman yang cukup cepat, - hijau dan rimbunnya percabangan dan daun tanaman, dan - buah-buah yang berukuran besar. Karena hal-hal itulah, pemupukan perlu dilakukan agar diperoleh hasil dan kualitas buah semangka yang baik. Dosis pemupukan sangat bervariasi, tergantung pada kesuburan iahan serta nilai ekonomis buah. Pada lahan yang subur, dosis pemupukan lebih rendah daripada lahan yang kurang subur. Demikian pula bila harga buah semangka cukup baik, maka pemupukan secara optimal dapat dilakukan. Dosis pemupukan semangka secara khusus untuk lahan-lahan di Indonesia belum ada. Namun sebagai pedoman dapat digunakan rekomendasi pemupukan semangka di Filipina: untuk satu hektar areal tanaman semangka dianjurkan sedikitnya 45 kg N, 45 kg P205, dan 45 kg K20. Apabila pupuk yang akan digunakan adalah ZA, DS, dan ZK, maka jumlah tersebut adalah 200 kg ZA, 125 kg DS, dan 100 kg ZK. Mengingat pertumbuhan tanaman yang cukup cepat, sebaiknya pupuk P dan K serta 1/3 bagian pupuk N diberikan pada saat tanam sebagai pupuk dasar. Campuran pupuk P dan K diberikan dalam lubang tanam (sedalam 5-8 cm) sejauh 5-8 cm dari biji. Jika yang digunakan pupuk DS dan ZK, maka setiap lubang tanaman diberikan 28 g pupuk DS dan 22 g pupuk ZK. Pemberian pupuk N sebaiknya dilakukan dalam tiga kali. Apabila pupuk N yang diberikan berupa pupuk. ZA (sejumlah 45 g per tanaman), maka untuk setiap kali pemberian sebanyak 15 g per tanaman. Pemberian pupuk pertama kali dilakukan pada saat tanam, sama dengan pupuk DS dan ZK, hanya dibenamkan agak jauh dari biji (±20 cm); pemberian kedua pada saat tanaman setinggi ±1 m; pemberian ketiga pada saat tanaman telah berbuah sebesar telur ayam. Pemberian pupuk ini dilakukan setelah penyiangan tanaman. Sumber : Mochd Baga Kalie, Bertanam Semangka, 1993, Depok