Loading...

Pemupukan Padi Secara Organik

Pemupukan Padi Secara Organik
Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari tumbuhan mati, kotoran hewan dan/atau bagian hewan dan/atau limbah organik lainnya yang telah melalui proses rekayasa berbentuk padat atau cair, dapat diperkaya bahan mineral dan/atau mikroba yang bermanfaat untuk meningkatkan kandungan hara dan bahan organik tanah serta memperbaiki sifat fisik, kimia, dan/atau biologi tanah (Permentan 01/2019). Pemupukan padi organik didasarkan pada metode penggunaan bahan alami dan organik sebagai sumber nutrisi tanaman padi, tanpa menggunakan bahan kimia sintetik seperti pupuk anorganik. Pemupukan organik bertujuan untuk menjaga kesuburan tanah, mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, dan menghasilkan produk pertanian yang sehat dan berkualitas Berikut adalah bahan dan beberapa metode pemupukan padi secara organik yang biasa digunakan: Pupuk kandang adalah bahan organik seperti kotoran ternak (sapi, ayam, kambing, dll) yang diberikan pada tanaman padi. Pupuk kandang mengandung berbagai unsur hara esensial dan juga membantu memperbaiki kualitas tanah dengan memperbaiki struktur dan memperkaya kandungan humus. Pupuk hijauan meliputi penanaman tanaman tertentu, seperti kacang-kacangan dan rerumputan tertentu, yang cepat tumbuh kemudian dihancurkan dan diolah menjadi bahan organik yang dapat diumpankan kembali ke tanah sebagai pupuk. Kompos adalah hasil proses penguraian bahan organik seperti daun, jerami, sisa tanaman, dan bahan organik lainnya. Proses pengomposan menghasilkan pupuk yang kaya akan unsur hara dan dapat meningkatkan kesuburan tanah. Pupuk hayati atau pupuk mikroba adalah mikroorganisme yang mengandung bakteri, jamur, dan organisme mikroskopis lainnya yang membantu penguraian bahan organik dalam tanah, menjaga keseimbangan mikroba tanah, dan meningkatkan penyerapan unsur hara oleh tanaman. Menanam tanaman hijauan bersamaan dengan tanaman padi utama. Tanaman hijauan dapat dipangkas dan dijadikan bahan mulsa atau kompos tanaman padi, misalnya tanaman Orok Orok. Sampah organik dari rumah tangga atau industri makanan dapat diolah menjadi pupuk organik dan digunakan untuk menyuburkan tanaman padi Keuntungan dari pemupukan padi secara organik meliputi: Lebih ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya yang dapat merusak tanah dan air Meningkatkan kesuburan tanah dan kualitas tanah secara keseluruhan Memberikan nutrisi yang berkelanjutan bagi tanaman padi Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit Membantu memelihara keanekaragaman hayati di lingkungan pertanian Pemupukan padi secara organik yang dapat dilakukan melalui pemupukan susulan pada budidaya padi secara organik dilakukan tiga kali selama satu musim tanam. Pemupukan susulan tahap pertama dilakukan pada umur 20-25 hari setelah tanam, tahap kedua pada umur 40-45 hari setelah tanam, dan tahap ketiga pada umur 60-65 hari setelah tanam. Beberapa cara pemupukan padi metode organik yang dapat dilakukan. Pemupukan organik dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk organik yang dicampur dalam air dan disemprotkan ke tanaman padi. Dalam pemupukan organik, dosis yang diberikan adalah 2-3 sendok makan pupuk P organik yang dicampur dalam 15 liter air satu tangki kecil pupuk K organik. Dalam pemupukan padi secara organik, dosis dan waktu pemupukan tidak dapat ditentukan secara pasti karena banyak faktor yang harus diperhatikan seperti jenis tanah, varietas padi dan kondisi cuaca. Oleh karena itu, teknik pemupukan tanaman padi organik harus disesuaikan dengan kondisi setempat dan dilakukan secara terus menerus untuk memperbaiki kesuburan tanah dan meningkatkan produktivitas tanaman padi. Pemupukan padi metode organik adalah cara pemupukan yang menggunakan pupuk kimia secara terus menerus pada dosis tinggi yang dapat berpengaruh negative lingkungan Dalam pemupukan padi metode organik, petani harus mengelola pupuk secara tepat sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi lahan agar produktivitas tinggi. Penggunaan pupuk organik juga dapat mengurangi erosi tanah dan meningkatkan daya serap air tanah, sehingga tanaman padi dapat tumbuh dengan lebih baik. Pupuk organik mengandung mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanaman padi. Mikroorganisme ini dapat membantu meningkatkan kesehatan tanaman, melawan penyakit, dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap stres lingkungan. Penggunaan pupuk organik dapat mengurangi risiko pencemaran lingkungan karena pupuk organik tidak mengandung bahan kimia sintetis yang berpotensi mencemari air tanah dan sumber air lainnya. Hal ini dapat menjaga keberlanjutan lingkungan dan keseimbangan ekosistem pertanian. Penggunaan pupuk organik pada tanaman padi memiliki beberapa risiko yang perlu diperhatikan, antara lain: Pupuk organik umumnya memiliki kandungan nutrisi yang lebih rendah dibandingkan dengan pupuk kimia. Hal ini dapat menyebabkan tanaman padi tidak mendapatkan nutrisi yang cukup jika dosis pemupukan organik tidak tepat. Pupuk organik membutuhkan waktu yang lebih lama untuk melapuk dan melepaskan nutrisi ke tanah. Oleh karena itu, pemupukan organik perlu direncanakan dengan baik agar nutrisi tersedia pada saat tanaman membutuhkannya. Pupuk organik, terutama pupuk kandang, dapat mengandung biji-bijian tanaman pengganggu. Jika biji-bijian ini tidak terurai dengan baik, mereka dapat tumbuh dan bersaing dengan tanaman padi. Pupuk organik umumnya diproduksi secara lokal dan terbatas dalam jumlah tertentu. Hal ini dapat menyebabkan ketergantungan pada pasokan pupuk organik dan sulit untuk memenuhi kebutuhan pemupukan secara konsisten. Pemupukan organik membutuhkan biaya dan tenaga yang lebih besar dibandingkan dengan pemupukan kimia. Proses pembuatan pupuk organik seperti kompos atau pupuk kandang membutuhkan waktu dan usaha untuk menghasilkan pupuk yang siap digunakan. Meskipun penggunaan pupuk organik pada padi memiliki risiko tertentu, dengan perencanaan dan pengelolaan yang baik, risiko tersebut dapat diminimalkan. Penting bagi petani untuk memahami dosis pemupukan yang tepat, memperhatikan kualitas pupuk organik yang digunakan, dan mengelola pemupukan secara efisien untuk memaksimalkan manfaat dan mengurangi risiko. Pustaka: Dari berbagai sumber