Tumbuh kembang tanaman dalam sitem alamiah seperti di hutan seimbang dengan proses pelapukan batu-batuan dan sisa organisme. Adanyan campur tangan manusia seperti pengangkutan hasil tanaman menyebabkan kehilangan nutrisi dari lahan sehingga kesuburannya menurun. Oleh karena itu, tanpa pasokan nutrisi yang memadai, lahan jeruk tidak mampu mendukung kebutuhan nutrisi tanaman secara optimal sehingga kesehatan tanaman, volume dan mutu buah yang dihasilkan menjadi semakin rendah. Fenomena mutu buah jeruk nasional yang belum memuaskan dan munculnya gejala kekurangan hara pada daun yang bermuara pada kemerosotan kesehatan tanaman jeruk di beberapa sentra produksi menunjukkan bahwa usaha menjaga kesuburan lahan yang dilakukan oleh petani melalui pemupukan masih belum sesuai dengan kebutuhan tanaman. Aplikasi pupuk tidak berimbang seperti pemberian urea berlebihan atau tanpa pupuk lain masih sering terjdi. Akibatnya, tidak hanya mutu buah rendah (sari buah sedikit dan rasanya hambar) tetapi juga pemborosan dan bisa menimbulkan pencemaran nitrat dalam air. Agar pupuk dapat diserap tanaman secara efisien dan efektif, sebelum memupuk perlu memahami paling sedikit 4 hal, yaitu apa saja nutrisi yang dibutuhkan, berapa dosisnya, kapan waktu dibutuhkan, dan bagaimana cara aplikasinya. Nutrisi yang Dibutuhkan Tanaman Jeruk Selain air, paling sedikit ada 12 macam unsur esensial yang dibutuhkan tanaman jeruk diambil dari dalam tanah. Pertama, unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah banyak (makro primer), meliputi nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K). Kedua, unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah banyak hanya pada kondisi tertentu (makro sekunder), meliputi kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan belerang (S). Ketiga, unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit tetapi bila kekurangan akan mempengaruhi produksi dan kelangsungan hidup tanaman (mikro), meliputi besi (Fe), seng (Zn), mangan (Mn), tembaga (Cu), boron (B) dan molibdenum (Mo). Penentuan Dosis N, P, K dan Waktu Aplikasinya Dosis pupuk yang dibutuhkan tanaman dipengaruhi oleh jenis/varietas, umur, hasil atau biomasa yang dihasilkan tanaman, dan faktor lingkungan. Ada beberapa pendekatan untuk menentukan dosis pupuk, yaitu analisis tanah atau daun, percobaan lapangan pada berbagai umur tanaman, penggantian hara yang hilang untuk pertumbuhan dan hasil panen, dan gejala kasat mata. Bagi petani yang jauh dari laboratorium Ilmu Tanah dan lahannya sempit serta terpencar, pendekatan paling mudah dan sederhana adalah berdasarkan umur tanaman dan hasil panen dikombinasi dengan analisis tanah. Rekomendasi berdasarkan umur tanaman digunakan terutama pada periode tanaman belum menghasilkan buah (TBM). Awalnya, tanaman perlu dipupuk N lebih banyak agar pertumbuhan vegetatifnya optimal. Saat berumur 3 tahun, tanaman mulai memasuki transisi menuju periode menghasilkan buah/dewasa (TM) sehingga porsi P dan K ditingkatkan guna mendukung pembentukan organ generatifnya. Walaupun tanaman muda membutuhkan dosis pupuk lebih rendah, aplikasinya harus lebih sering karena jangkaun akar untuk menyerap pupuk masih sempit/terbatas. Pada umur 4 tahun ke atas, pupuk diaplikasikan dua kali setahun yaitu setelah panen dan empat bulan setelah pemupukan pertama. Pada tanaman dewasa (TM) yang telah melewati fase kecepatan pertumbuhan vegetatif maksimal ( > 5 tahun), dosis pupuk bisa didekati dengan menghitung hasil panen buah. Pendekatan ini menggunakan asumsi bahwa status kesuburan kebun telah optimal akibat dari penambahan pupuk sebelumnya. Dalam sistem ini, hara yang terangkut panen menjadi penyebab utama terjadinya penurunan kesuburan kebun. Agar pertumbuhan dan hasil buah tetap optimal, kesuburan kebun harus diperbaiki dengan memasukkan pupuk sebesar nutrisi yang terangkut panen ditambah kebutuhan untuk pertumbuhan vegetatif, fiksasi tanah, pelindian (leaching), penguapan, dan erosi. Cara Pemupukan Tanaman sehat dan mutu buah jeruk keprok Batu 55 yang prima hanya dihasilkan melalui manajemen nutrisi yang tepatTahun pertama dan kedua, pupuk kandang dan dolomit disebar dibawah tajuk pada akhir musim kemarau, kemudian dicampur tanah sedalam 10 cm. Tahun berikutnya pupuk kandang dicampur kapur (jika diperlukan) dimasukkan kedalam parit melingkar dibawah tepi tajuk sedalam 20 cm kemudian ditutup tanah. Pupuk kimia diaplikasikan setelah pupuk kandang, kapur dan tanah mengalami reaksi yang sempurna (sekitar 4 minggu). Bila waktu aplikasi pupuk dan kapur berdekatan menyebabkan reaksi negatif, misalnya pengikatan P oleh Ca dari kapur, dan amonium akan diubah menjadi NH3+ kemudian dilepaskan ke atmosfer. Caranya adalah pupuk campuran dimasukkan ke dalam lubang tugal atau parit pupuk kandang/dolomit sedalam 10 – 15 cm, kemudian ditutup tanah. Untuk tanah-tanah bertekstur kasar, dan tanah yang memiliki kapasitas pengikatan P tinggi (tanah masam dan andisol), aplikasi pupuk dalam lubang tugal (4 – 8 lubang/pohon) lebih dianjurkan dibandingkan dengan disebar dalam parit melingkar. Segera basahi tanah (irigasi ringan) setelah aplikasi pupuk agar akar tidak terbakar. Pupuk mikro yang dibutuhkan tanaman hanya sedikit. Oleh karena itu, aplikasinya paling mudah dan efktif adalah melalui daun. Pupuk mikro disemprotkan pada daun pada pagi hari sebanyak 2 sampai 3 kali pada saat pertunasan. Penulis : M. Lubis Ishak (PP. Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Merangin) Sumber : http://www.litbang.pertanian.go.id/info-teknologi/3598/