Dalam upaya mendukung peningkatan ketahanan pangan nasional dan optimalisasi lahan perkebunan, kegiatan tanam padi gogo secara tumpang sari (TUSIP) dengan kelapa sawit dilaksanakan di Desa Batu Raja Kecamatan Sungkai Utara. Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi antara Kodim 0412 Lampung Utara, penyuluh pertanian, dan masyarakat tani dalam rangka memanfaatkan lahan sela perkebunan kelapa sawit untuk produksi pangan. Program ini sejalan dengan arahan pemerintah untuk mendorong pemanfaatan lahan perkebunan yang belum produktif secara maksimal sebagai lahan tanam alternatif bagi komoditas pangan strategis seperti padi, jagung, dan kedelai.
Kegiatan tanam padi gogo secara TUSIP ini dilaksanakan dengan melibatkan unsur TNI, petani setempat, serta penyuluh pertanian lapangan. Lokasi kegiatan berada di salah satu areal perkebunan kelapa sawit yang memiliki jarak tanam antar pohon cukup lebar, sehingga memungkinkan untuk dilakukan penanaman padi gogo di sela-selanya. Kegiatan ini menjadi wujud nyata sinergi antara sektor pertanian dan pertahanan, di mana TNI turut berperan aktif dalam mendukung dan mengawal program swasembada pangan nasional melalui aksi nyata di lapangan.
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan pembukaan oleh perwakilan Kodim 0412 Lampung Utara yang menyampaikan pentingnya semangat gotong royong dalam mengembangkan pertanian di daerah. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penjelasan teknis dari penyuluh pertanian mengenai konsep TUSIP (Tumpang Sari Integrasi Padi Sawit), yang pada dasarnya memanfaatkan ruang terbuka di bawah tegakan tanaman kelapa sawit untuk ditanami padi gogo. Sistem ini tidak hanya membantu meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga berpotensi memperbaiki kondisi tanah melalui peningkatan kandungan bahan organik dari sisa tanaman padi.
Padi gogo merupakan varietas padi yang dapat tumbuh di lahan kering dan tidak memerlukan genangan air seperti padi sawah. Jenis padi ini sangat cocok ditanam di antara barisan kelapa sawit, terutama pada kebun yang berumur 2 hingga 5 tahun, di mana tajuk sawit belum terlalu rimbun sehingga sinar matahari masih cukup untuk pertumbuhan tanaman padi. Dalam kegiatan ini digunakan varietas padi gogo unggul yang memiliki ketahanan terhadap kekeringan serta daya hasil tinggi.
Proses kegiatan dimulai dari pengolahan lahan secara manual dan mekanis. Anggota TNI bersama petani melakukan pembersihan gulma serta penggemburan tanah menggunakan cangkul dan traktor mini. Setelah lahan siap, dilakukan penanaman benih padi dengan jarak tanam yang disesuaikan agar tidak mengganggu pertumbuhan akar dan perakaran kelapa sawit. Penyuluh memberikan arahan mengenai pola tanam barisan sejajar dengan jarak tanam 25 x 25 cm, serta anjuran penggunaan pupuk organik untuk menjaga keseimbangan ekosistem tanah.
Selain penanaman padi, kegiatan ini juga diisi dengan sesi penyuluhan singkat mengenai pentingnya integrasi antara tanaman pangan dan perkebunan sebagai strategi adaptif terhadap perubahan iklim dan keterbatasan lahan. Sistem TUSIP dinilai efektif dalam menjaga kesuburan tanah, meningkatkan produktivitas lahan, serta memberikan tambahan pendapatan bagi petani perkebunan kelapa sawit. Dengan adanya tanaman sela seperti padi gogo, petani dapat memperoleh hasil panen tambahan tanpa harus membuka lahan baru, sehingga program ini juga mendukung prinsip pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Manfaat yang diperoleh dari penerapan sistem TUSIP antara lain peningkatan efisiensi pemanfaatan lahan, diversifikasi hasil pertanian, serta penurunan biaya produksi melalui pemanfaatan sumber daya lokal. Selain itu, integrasi antara tanaman padi dan kelapa sawit juga membantu memperbaiki mikroklimat di sekitar perkebunan, menekan pertumbuhan gulma, dan menjaga kelembapan tanah. Jika diterapkan secara berkelanjutan, sistem ini berpotensi menjadi model pengembangan pertanian terpadu di wilayah perkebunan yang luas di Provinsi Lampung dan daerah lainnya.
Kegiatan tanam padi gogo secara tumpang sari bersama Kodim 0412 Lampung Utara ini menegaskan bahwa ketahanan pangan bukan hanya tanggung jawab sektor pertanian semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Melalui kerja sama yang harmonis antara petani, penyuluh, pemerintah daerah, dan TNI, diharapkan akan terwujud kemandirian pangan di tingkat lokal yang mendukung stabilitas nasional.
Kegiatan ini juga menjadi momentum penting bagi masyarakat tani untuk lebih kreatif dalam mengelola lahan dan meningkatkan produktivitas pertanian tanpa merusak lingkungan. Dengan semangat kebersamaan dan dukungan dari berbagai pihak, sistem TUSIP padi gogo dengan kelapa sawit dapat menjadi salah satu solusi nyata dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan di masa depan.