oleh Ma`ruf. SST Penyuluh Pertanian Kecamatan Parado 1. Pendahuluan Program pencapaian swasembada pangan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun mentargetkan swasembada pangan tahun 2015 � 2017, mengingat kebutuhan pangan khususnya padi, jagung dan kedelai selalu meningkat setiap tahun sementara bangsa Indonesia belum mampu memproduksi sesuai yang dibutuhkan pasar dalam negeri baik kuantitas maupun kualitas sehingga segala strategi dan upaya dilakukan untuk peningkatan luas tanam dan produktivitas di daerah-daerah sentra produksi pangan melalui program Upsus padi jagung dan kedelai 2015 (Kementan, 2015). Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dalam upaya pencapaian target program peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai tahun 2015 telah banyak mengeluarkan rekomendasi inovasi untuk diaplikasikan oleh petani. Salah satu inovasi yang direkomendasikan saat ini adalah penerapan sistem tanam yang benar dan baik melalui pengaturan jarak tanam yang dikenal dengan sistem tanam jajar legowo. 2. Pengertian Jajar Legowo Sistem tanam jajar legowo adalah pola bertanam yang berselang-seling antara dua atau lebih (biasanya dua atau empat) baris tanaman padi dan satu baris kosong. Istilah Legowo di ambil dari bahasa jawa, yaitu berasal dari kata "lego" berarti luas dan "dowo" berarti memanjang. Legowo di artikan pula sebagai cara tanam padi sawah yang memiliki beberapa barisan dan diselingi satu barisan kosong. Baris tanaman (dua atau lebih) dan baris kosongnya (setengah lebar di kanan dan di kirinya) disebut satu unit legowo. Bila terdapat dua baris tanam per unit legowo maka disebut legowo 2:1, sementara jika empat baris tanam per unit legowo disebut legowo 4:1, dan seterusnya 3. Prinsip Jajar Legowo Pada prinsipnya sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan populasi dengan cara mengatur jarak tanam. Sistem tanam ini juga memanipulasi tata letak tanaman, sehingga rumpun tanaman sebagian besar menjadi tanaman pinggir. Tanaman padi yang berada di pinggir akan mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak, sehingga menghasilkan gabah lebih tinggi dengan kualitas yang lebih baik. Pada cara tanam legowo 2:1, setiap dua baris tanaman diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak barisan, namun jarak tanam dalam barisan dipersempit menjadi setengah jarak tanam aslinya. Pengaturan sistem tanam menentukan kuantitas dan kualitas rumpun tanaman padi, yang kemudian bersama populasi/jumlah rumpun tanaman per satuan luas berpengaruh terhadap hasil tanaman. Namun, beberapa faktor juga mempengaruhi diterapkannya suatu jarak tanam oleh petani di suatu wilayah adalah: (1) ketersediaan tenaga kerja, (2) ketersediaan benih, (3) kemudahan operasional di lapang (ada/tidak ada lorong), (4) penyuluhan tentang jarak tanam, dan (5) kondisi wilayah (keadaan drainase, endemik keong mas, dll) 4. Keuntungan Sistem Jajar Legowo. Menurut Sembiring (2001) dalam Abdulrahman, dkk (2013), sistem tanam legowo merupakan salah satu komponen PTT pada padi sawah yang apabila dibandingkan dengan sistem tanam lainnya memiliki keuntungan sebagai berikut: Terdapat ruang terbuka yang lebih lebar diantara dua kelompok barisan tanaman yang akan memperbanyak cahaya matahari masuk ke setiap rumpun tanaman padi sehingga meningkatkan aktivitas fotosintesis yang berdampak pada peningkatan produktivitas tanaman. 1. Sistem tanaman berbaris ini memberi kemudahan petani dalam pengelolaan usahataninya seperti: pemupukan susulan, penyiangan, pelaksanaan pengendalian hama dan penyakit (penyemprotan). Disamping itu juga lebih mudah dalam mengendalikan hama tikus.2. Meningkatkan jumlah tanaman pada kedua bagian pinggir untuk setiap set legowo, sehingga berpeluang untuk meningkatkan produktivitas tanaman akibat peningkatan populasi.3. Sistem tanaman berbaris ini juga berpeluang bagi pengembangan sistem produksi padi-ikan (mina padi) atau parlebek (kombinasi padi, ikan, dan bebek).4. Meningkatkan produktivitas padi hingga mencapai 10-15%. Laporan hasil penerapan sistem jajar Legowo di Wilkel Lapa Desa aradowane Kecamatan Parado pada Musim Tanam Desember 2017 s/d Maret 2018 pada sawah tadah Hujan menunjukkan hasil gabah kering mencapai 8,50 t/ha lebih tinggi dibanding sistem tegel 6,2 t/ha. 5. Teknik Penerapan Sistem Jajar Legowo 5.1 Pengolahan tanah. Pengolahan tanah dilakukan 2 kali bajak dan ratakan, agar terdapat media tumbuh baik untuk pertumbuhan akar. Antara pengolahan tanah pertama dan kedua diberi waktu yang cukup agar rumput dan bijinya mati. Tanah harus rata dan dibuat parit keliling dan tengah agar pertukaran air dan udara tanah teratur. 5.2 Benih. Gunakan benih unggul bermutu dan bersertifikat. Benih varietas unggul adalah benih yang mampu beradaptasi dengan lingkungan, pertumbuhan baik produksi tinggi kualitas baik rasa nasi diterima pasar dan tahan hama penyakit. Benih bermutu adalah benih dengan daya tumbuh tinggi dan bersertifikat. Tujuan pergantian varitas benih unggul adalah untuk memutus siklus hama penyakit. Keuntungan penggunan benih bermutu adalah untuk memperoleh benih tumbuh cepat dan serentak, menghasilkan bibit yang sehat dan tegar serta bibit optimum dan hasil tinggi. Uji Mutu benih bertujuan untuk melihat kualitas benih dengan memakai air bersih campur garam. Garam dimasukkan dalam air sampai 2 butir telur bebek mengapung. Benih yang tenggelam adalah benih yang baik, selanjutnya benih direndam dalam air bersih selama 24 jam ,kemudian diperam dalam karung basah selama 24 jam lalu disemaikan. 5.3 Pesemaian Benih Pesemaian dapat langsung disawah atau menggunakan baki /tampah plastic atau triplek. Kebutuhan benih 8 � 10 kg/hektar disemaikan pada areal seluas 100-200 m2.� 5.4 Penanaman. Penanaman dilakukan dengan menanam 1 � 3tanaman perrrumpun atau tegakan, penanaman dilakukan pada bibit umur 15 s/d 20 hari dengan system jajar legowo 2:1 ( 40x20x10 cm) atau legowo 4:1 ( 40x20x10). Sesudah dicabut bibit segera ditanam ( 30 menit) ditanam bersama tanah. 5.5 Penyiangan. Penyiangan berfungsi membuang rerumputan dan menggemburkan tanah. Penyiangan dilakukan pada umur 10, 20-25 dan 30-35 hari tergantung keadaaan gulma. penyiangan disarankan menggunakan cara manual dengan cara dicabut atau menggunakan gasrok, penggunaan Herbisida seperti Lindomin. 5.6 Pengairan Pemberian air menggunakan pola terputus. Air diberikan pada umur 5,10,15 sesudah tanam setinggi 2 cm dan selanjutnya pada umur 25,35,45,55,65,75 dan 85 hari setinggi 5 cm kemudian sawah dibiarkan kering sampai panen. 5.7 Pemupukan Pemupukan mengutamakan pemupukan berimbang untuk memberikan unsure hara yang lengkap, penggunaan pupuk organic sangat disarankan karena mengandung unsur hara makro dan mikro secara lengkap. Untuk penetapan dosis pupuk dapat menggunakan BWD untuk N, PUTS untuk unsure P dan K dan dapat menggunakan PHSL (pemupukan hara spesifik lokasi). Kebutuhan pupuk organic berupa kompos atau pupuk kandang 5 ton/hektar sedangkan pupuk an organic berupa Urea 250 kg/hektar dan Sp 36 100 kg/hektar + 100 KG NPK Phonska . Pupuk dasar diberikan pada saat pengolahan tanah atau waktu tanam semua dosis pupuk organic + 100 kg SP 36 + 50 kg Urea. Pupuk susulan diberikan pada umur 21 dan 57 hari masing-masing 100 kg Urea. 5.8 Pengendalian Hama Penyakit.Pengendalian hama penyakit menggunakan konsep PHT diawali dengan seleksi benih unggul, pengolahan tanah sempurna, pengaturan air serta pemupukan. Hama siput dapat diatasi dengan membuat parit keliling dan tengah sawah serta menancapkan ajir sebagai perangkap telur siput. Air daun/buah pinang yang ditumbuk dan simponi atau siputox sangat efektif membunuh siput. Hama penggerek batang , belalang dan keracunan besi dalam batas bawah ambang ekonomi sebaiknya tidak menggunakan bahan kimia. Hama wereng coklat dikendalikan dengan cara mengeringkan sawah dan buat parit setiap empat baris tanaman lalu disiram abu gosok atau pestisida lainnya seperti pestisida Nabati. �5.9 Panen dan Pasca Panen. Panen dilakukan pada umur 110 -115 hari yang ditandai menguningnya daun bendera, gabah masak 90% keras tidak berair kalau digigit. Gunakan sabit bergerigi , perontokan dengan menggunakan Threser atau perontok banting. Penjemuran segera dilakukan setelah panen hingga kadar air 14%. Gabah kering disimpan dalam karung yang tidak bocor lalu disimpan dalam ruangan kering,bersih dan berventilasi dialasi dengan kayu balok. � � �