Loading...

Penanaman Tumpangsari Padi Gogo-Jagung Lahan Kering di Kelompok Tani Wiro Bumi Dusun Brendil, Desa Babadan, Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi

Penanaman Tumpangsari Padi Gogo-Jagung Lahan Kering di Kelompok Tani Wiro Bumi  Dusun Brendil, Desa Babadan, Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi
Pendahuluan Suatu hamparan lahan umumnya menggunakan sistem monokultur, baik pada musim penghujan maupun musim kemarau. Rekayasa sistem tanam dapat dilakukan untuk wilayah dan kondisi tertentu dengan mengoptimalkan penggunaan lahan dan air agar produktivitas lahan meningkat. Tumpangsari adalah bentuk pola tanam yang membudidayakan lebih dari satu jenis tanaman dalam satu waktu tertentu. Tumpangsari ini merupakan suatu upaya dari program intensifikasi pertanian dengan tujuan untuk memperoleh hasil produksi yang optimal, dan menjaga kesuburan tanah. Sistem tanam tumpangsari antar komoditas pangan telah banyak dipraktekan petani. Sistem tanam tumpangsari dimaksudkan agar kekurangan pangan akibat kegagalan panen dapat dicegah dan serangan hama dan penyakit dapat ditekan. Sistem tanam tumpangsari yang dipraktekkan petani hasilnya rendah karena jarak tanam tidak diatur, kombinasi tanaman tidak tepat dan tidak salingkomplementer. Bila komposisi tanaman dan jarak tanam ditata dengan tepat maka hasil dari kombinasi tanaman per satuan luas lebih tinggi dari sistem monokultur. Hal ini dapat menjadi solusi dan terobosan dalam pencapaian swasembada pangan. Mempertimbangkan manfaat dan keunggulan dari sistem tanam tumpangsari untuk peningkatan pendapatan petani dan pencapaian swasembada pangan, kelompok tani Wiro Bumi Dusun Brendil, Desa Babadan Kecamatan Paron melaksanakan kegiatan Sistem Tanam Tumpangsari Padi Gogo-Jagung. Pembahasan Sistem Tumpangsari Pola Tumpangsari ini merupakan suatu upaya dari program intensifikasi pertanian dengan tujuan untuk memperoleh hasil produksi yang optimal, dan menjaga kesuburan tanah, dan menekan adanya serangan hama. Kelompok tani Wirobumi Desa Babadan memilih sistem tumpangsari di lahan kering dengan kombinasi tanaman Padi Gogo-Jagung. Pengolahan Tanah Pengolahan tanah di lahan kering dilakukan sebelum turun hujan dengan cangkul atau garpu. Pada daerah dengan kondisi tanah ringan, pengolahan tanah cukup dengan pembajakan 1 kali dan diratakan dengan garpu satu kali. Penanaman Setelah kondisi lahan optimal, segera dilakukan penanaman benih padi dengan tugal. Jarak tanam padi gogo adalah 20 cm 16 (antar barisan) x 10 cm (dalam barisan), sedangkan jarak tanam jagung 40 cm (antar barisan) x 12,5 cm (dalam barisan). Sedangkan jarak antara blok padi atau jagung disesuaikan dengan perhitungan populasi dan/atau disesuaikan dengan lebar combine harvester untuk mempermudahkan pada waktu pemanenan Untuk pertanaman padi gogo dilakukan lebih awal dengan selang waktu tiga minggu sebelum penanaman jagung. Penanaman benih padi sebany ak 5-7 biji per lubang, sehingga akan digunakan benih sebanyak 50 kg/ha. Penanaman benih jagung sebanyak 1 biji per lubang, sehingga akan digunakan benih sebanyak 30 kg/ha. Populasi tanaman per hektar pada sistem tumpangsari ini menggunakan populasi rapat, kurang lebih 250.000 rumpun/ha untuk padi dan 100.000 batang/ha untuk jagung. Pemupukan Untuk sistem Tumpangsari Padi Gogo-Jagung pemupukan menggunakan rekomendasi untuk padi gogo. Tanaman jagung akan memperoleh manfaat dari pemupukan padi gogo. Pupukorganik diberikan setelah tanam dengan menutup lubang tanam padi gogo, jagung dan kedelai. Pengendalian Gulma Pengendalian gulma dapat dikombinasikan dengan herbisida dan penyiangan manual, dengan teknik sebagai berikut : Penyemprotan herbisida purna tumbuh pada umur + 15 hari dengan dosis menurut petunjuk. Penyiangan secara manual umur + 30 hari atau disesuaikan dengan pertumbuhan gulma. Pengendalian Hama dan Penyakit Pengendalian hama dan penyakit tanaman dilakukan dengan menerapkan kaidah pengendalian hama dan penyakit terpadu (PHT) yang meliputi pengelolaan/pemilihan varietas yang tepat, pengelolaan kultur teknis dan pengendalian biologis, sedangkan penggunaan pestisida dilaksanakan bila populasi hama melampaui batas ambang kendali. Panen Panen dilakukan pada saat matang fisiologis yaitu untuk padi gogo bilamana 90% bulir padi telah menguning; untuk jagung bila biji telah mengeras dan membentuk lapisan hitam 50% dan klobot sudah mengering; dan pada kedelai bila polong pada batang utama berwarna coklat dan 95% daun telah menguning. Panen dilakukan menggunakan sabit secara manual atau dengan power thresher. Gabah dan polong yang dihasilkan dikeringkan dengan dryer atau dijemur hingga mencapai kadar air sekitar 14%. Sumber Pustaka : Petunjuk Pelaksanaan Tumpangsari 2018. Direktorat Jendral Tanaman Pangan Kementrian Pertanian. Penulis : Nunus Widiyatmoko, SP. Penyuluh BPP Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi