Loading...

PENANGANAN HASIL TANAMAN PADI

PENANGANAN HASIL TANAMAN PADI
PENDAHULUAN Padi merupakan tanaman semusim yang mempunyai peran penting dalam menjaga kedaluatan dan keamanan bangsa. Hal ini karena bila harga beras naik, maka akan menimbulkan gejolak yang mengganggu stabilitas keamanan. Indonesia sebagai Negara agraris semestinya tidak akan bermasalah dengan stok pangan, karena bisa memproduksi sendiri. Dalam kenyataannya setiap tahun selalu mengimpor beras untuk mencukupi kebutuhan warga yang selalu meningkat. Permasalahan tidak hanya pada rendahnya produktivitas, luasan areal tanam, tetapi juga dalam budidaya tanaman yang didalamnya mencakup penanganan hasil atau pengelolaan pasca panen. Penanganan hasil tanaman padi yang tidak baik, akan menimbulkan kehilangan hasil yang cukup berpengaruhi dalam meningkatkan produksi. Dalam menangani hasil panen tentunya harus saling bersinergi, karena banyak faktor yang mempengaruhi dalam kehilangan hasil panen. MASALAH UMUM DALAM PASCA PANEN Bicara masalah pengelolaan pasca panen akan tertuju pada penyusutan hasil, akibat kegiatan-kegiatan selama proses penanganan hasil. Penyusutan ini tidak hanya karena kehilangan secara langsung, tetapi juga pada penurunan mutu gabah, seperti hampa, berkapur, berwarna kuning. Selain itu masalah sebenarnya juga ada sebelum pengelolaan panen atau prapanen yang dibawa oleh tanaman secara genetika, misalnya umur panen, sifat kerontokan, bulir yang tidak masak serempak. Jenis padi cere (tidak berbulu) dan unggul umunya mempunyai sifat mudah rontok, sedangkan jenis padi japonica (berbulu) biasanya sifat kerontokannya rendah. Penyusutan kuantitatif atau penyusutan volume terjadi karena gabah banyak terbuang pada saat panen, hilang pada saat penangkutan, tercecer pada saat perontokan atau hilang pada saat penjemuran. Sedang kualitatif dapat disebabkan karena adanya kerusakan kimiawi dan atau fisis, seperti gabah banyak yang berkecambah, banyak yang retak, biji menguning, dan lain sebagainya. Kehilangan akan lebih besar untuk padi unggul yang mudah rontok. Perkiraan penyusutan hasil padi sehubungan dengan kegiatan panen: a) Panen (2%), b) Perontokan (2%), c) Pengeringan (1,5%), d) Pengemasan (3%), e) Penyimpanan gabah (1%), f) Penyimpanan beras (1,5 %), g) Pengolahan (1,5 %), h) Pengangkutan dari sawah (1%), i) Penjualan (1,5%). Dari data-data tersebut maka jelas betapa besarnya kehilangan hasil tanaman padi, kehilangan-kehilangan yang demikian harus dicegah atau diturunkan sampai seminimal mungkin, dan untuk itu diperlukan penanganan hasil tanaman padi lepas panen dengan cara –cara yang baik. PENANGANAN HASIL Penanganan Tahap Pertama a. Pemanenan Penentuan waktu panen sebaiknya jangan terlalu awal atau terlalu akhir, sebab : (1) pemanenan yang terlalu awal dapat berakibat penurunan kualitas karena gabah terlalu banyak mengandung butir hijau dan kapur, gabah terlalu banyak mengandung kapur redemennya rendah dan menghasilkan lebih banyak dedak. (2) pemanenan yang terlalu akhir/lambat akan banyak menderita kehilangan yang terutama disebabkan karena kerontokan gabah akibat terlalu masak. Pemanenan dapat dilakukan secara manual dan secara mekanis, yang secara manual biasanya dengan menggunakan ani-ani, sabit dan sabit bergerigi dan yang secara mekanis telah banyak yang menggunakan mesin (Brinder atau Combine Harvesting). b. Perontokan gabah Padi yang telah disabit bisa dilakukan perontokan dengan cara diinjak-injak/iles, gebot, pedal threser, atau power threser. Apa bila lahan memungkinkan pemanenan bia menggunakan combine harvester. c. Pembersihan gabah Untuk membersihkan gabah dari kotoran/limbah dapat dilakukan dengan cara penghembusan oleh angin, ditampi, diayak, dengan menggunakan alat blower manual (blower yang dijalankan dengan tangan) atau dengan cleaner (mesin pembersih). Pembersihan gabah sangat perlu agar : (1) gabahnya lebih tahan disimpan, (2) mengurangi kerusakan alat prosessing, (3) mempertinggi efisiensi prosessing, dan (4) mempertinggi harga jual per satuan berat Sebaiknya gabah dibersihkan sampai benar-benar bersih dari berbagai potongan jerami, gabah yang hampa, maskudnya agar terhindar dari serangan hama sewaktu dalam penyimpanan dan menghemat tempat penyimpanan. d. Pengangkutan Yang dimaksud dengan pengangkutan gabah di sini ialah pengangkutan gabah dari sawah ke tempat prosesing atau ke rumah, dalam pengangkutan ini sering pula terjadi kehilangan. Pengangkutan dapat dilakukan dengan secara dipikul oleh tenaga manusia, dengan gerobak, truk atau trailer. Biasanya sebelum diangkut, gabah-gabah dimasukkan ke dalam karung, cara demikian selain untuk mencegah tercecernya gabah di perjalanan, juga untuk menekan biaya pengangkutan. Penanganan Tahap Kedua a. Pengeringan Tujuan pengeringan yaitu untuk mendapatkan gabah kering yang tahan untuk disimpan dan memenuhi persyaratan kualitas gabah yang akan dipasarkan, yaitu dengan cara mengurangi air pada bahan (gabah) sampai kadar air yang dikehandaki. Kadar air maksimum pada gabah yang dikehandaki BULOG dalam pembeliannya (BULOG, Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Pangan Dalam Negeri 1978/1979) adalah 14%. Bagi gabah yang akan disimpan kadar air sebaiknya sekitar 12%. Mengapa gabah selepas panen harus segera dikeringkan? Hal ini perlu diperhatikan, sebab kadar air pada gabah selepas dipanen masih cukup tinggi sekitar 25% - 30%, bahkan kadang-kadang lebih. Kalau gabah itu terus disimpan tanpa pengeringan terlebih dahulu maka gabah jelas akan mengalami kerusakan kerusakan sebagai berikut : (1) kerusakan karena gabah terangsang daya pertumbuhannya yang dalam hal ini gabah akan berkecambah. (2) kerusakan karena mikroba akan terangsang perkembangannya, sehingga praktis gabah dalam penyimpanan akan mengalami serangan-serangannya, seperti terlihat pada penjelasan berikut : (a) kadar air gabah 16% - 30% menjadikan gabah itu busuk yang disebabkan oleh panas akibat respirasi yang berlangsung terus, pembusukan mana ternyata berkaitan dengan pertumbuhan jamur yang serba cepat. (b) kadar air gabah yang sedikit turun sampai sekitar 12% - 16% masih memberi kesempatan besar kepadajamur untuk tumbuh pada gabah dan serangga dapat berkembang. (c) tetapi apabila kadar itu dapat diturunkan sampai sekita 9% - 12% (karena pengeringan) jamur tidak dapat tumbuh pada gabah, dan kalau kadar air ini lebih diturunkan lagi sampai di bawah 9% maka hama serangga (kutu-kutuan) tidak akan dapat berkembang baik dalam gabah. Pengeringan dapat dilakukan secara alami dengan sinar matahari, yang dijemur menggunakan alas semen atau terpal, dan penjemuran secara mekanis menggunakan alat pengering atau box dryer. b. Pengepakan dan Penyimpanan Gabah yang sudah dibersihkan dan kering dilakukan pengepakan,atau pengemasan. Bila akan digunakan benih bisa dikemas dengan plastic kedap air ukuran 5 kg, dan jika akan dijadikan gabah konsumsi bisa dikemas menggunakan karung. Setelah dikemas benih disimpan di tempat yang bersih, sejuk dan kering, sehingga daya simpan benih akan lebih tahan lama. Di mana tempat penyimpanan harus diberi alas atau dibuat rak-rak untuk menyusun kemasan benih/gabah. Penulis: Sugito, SP Referensi : Dari berbagai sumber