Cabai merah (Capsicum annum L.) merupakan salah satu jenis tanaman sayuran yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, karena komoditi ini merupakan jenis sayuran yang setiap harinya banyak dikonsumsi. Tanaman ini juga mempunyai daya adaptasi yang cukup baik untuk dibudidayakan hampir pada semua jenis tanah dan tipe iklim yang berbeda, serta dapat diusahakan sepanjang tahun. Potensi produksi dan pemasaran cabai merah cukup besar di Kecamatan Wongsorejo. Seperti produk hortikultura lainnya, cabai merah merupakan komoditas yang mudah rusak, sehingga dalam hal ini penanganan pasca panen berperan sebagai mata rantai yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan produksi. Keberhasilan pasca panen cabai merah dimulai dari sejak pemilihan benih, pertanaman, panen, setelah panen, pengemasan, penyimpanan, pengangkutan, hingga pengolahan hasil. Semua tahapan yang dilaksanakan secara benar dan sesuai akan saling mendukung dan memberikan hasil yang maksimal. Ada beberapa hal yang menjadi penyebab kerusakan cabai merah setelah panen, diantaranya : Jenis kerusakan yang disebabkan oleh hama dan penyakit, dan biasanya terbawa dari lapangan. Hama penting yang biasanya merusak buah cabai diantaranya adalah lalat buah (Dacus horsalis hend). Sedangkan penyakit penting yang biasa menyerang buah cabai sehingga menyebabkan busuk buah adalah antraknosa (Colletotricum capsici syidow) dan busuk phytoptora (phytophthora capsici leonian). Jenis kerusakan mekanis, biasanya terjadi selama pengangkutan dan jenis kerusakan ini diperkirakan lebih besar dibandingkan kerusakan fisiologis dan fisik. Jenis kerusakan fisis, disebabkan oleh tingginya kelembaban nisbi (diatas 90%) dan suhu tropis yang dapat menyebabkan cabai merah segar menjadi lunak dan membengkak lalu akhirnya menjadi busuk. Selain itu, jika kelembaban nisbi lebih rendah dari 80% akan terjadi pengeriputan buah cabai. Jenis kerusakan fisiologis, disebabkan karena terjadi proses kehidupan yang berlangsung pada cabai merah setelah panen. Setiap kenaikan 10°Cabai merah suhu lingkungan daerah tropis akan memacu laju penguapan (respirasi) 2-3 kali dari semula dan buah akan cepat mencapai tingkat kematangan, akibatnya kerusakan akan semakin cepat. I. Panen Pemanenan adalah kegiatan akhir dari pertanaman dan merupakan faktor penentu untuk proses selanjutnya. Pemanenan dan penanganan cabai merah perlu dilakukan dengan hati-hati untuk mempertahankan mutu. Kriteria cabai yang siap dipanen yakni bentuknya utuh, padat, berwarna merah tua mengkilat (90% masak). Karena pada stadia merah inilah tingkat kepedasannya tinggi, sesuai dengan permintaan pasar dan konsumen. Jika pemanenan buah cabai merah terlalu muda akan mengakibatkan buah mudah layu, penyusutan beratnya tinggi, tidak tahan simpan dan kurang tahan mengalami goncangan sewaktu pengangkutan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemanenan cabai merah adalah : Tingkat kematangan cabai disesuaikan dengan tujuan penggunaannya. Jumlah buah per pohon dan jumlah pohon tanaman dalam areal pertanaman yang siap dipanen, berkaitan dengan biaya panen. Saat pemetikan buah sebaiknya dilakukan setelah air habis terhempas dari permukaan kulit buah untuk mengurangi kontaminasi mikroba pembusuk. Waktu panen yang baik adalah pagi hari karena bobot buah dalam keadaan optimal sebagai hasil penimbunan zat-zat makanan pada malam hari sebelumnya dan pada saat ini tanaman belum banyak mengalami penguapan. Pemanenan dilakukan dengan tangan, caranya yaitu memetik buah beserta tangkainya supaya buah tidak cepat busuk. Hindari terjadinya luka dan patahnya cabang/ranting dengan melakukan pemetikan yang tepat dan hati-hati. Interval panen biasanya 3 – 5 hari sekali dan masa panen berkisar 1-2 bulan setelah pemanenan yang pertanama sehingga bisa panen 15-17 kali bahkan bisa mencapai 15-17 kali apabila tanamannya dirawat dengan baik. Tanaman cabai merah merah ini biasanya mengalami masa istirahat selama 7-14 hari, setelah itu berbunga lagi. Namun bunga kedua biasanya menghasilkan buah cabai yang berukuran kecil sehingga hasinya menurun. Hasil buah terbanyak pada umumnya terjadi pada panen ke empat sampai ke tujuh. Pisahkan segera buah yang busuk, untuk mencegah terjadinya penularan mikroba ke buah cabai yang sehat. Hindarkan penutupan dengan karung plastik. Hindarkan hasil panen terkena sinar matahari yang panas dengan kata lain hasil panen segera dibawwa ketempat yang teduh. Khusus di dataran rendah, tanaman cabai merah dapat dipanen pertama kali pada umur 70-75 hari setelah tanam. Sedangkan waktu panen pertama untuk cabai merah di dataran tinggi biasanya lebih lambat, yaitu umur 4-5 bulan setelah tanam. II. Pasca Panen a. Sortasi Biasanya sortasi dan grading dilakukan oleh pedagang dan jarang dilakukan oleh petani. Sortasi dilakukan untuk memisahkan buah cabai merah yang sehat, bentuk normal dan baik. Penundaan sortasi akan memperbesar kebusukkan, sedangkan grading untuk kepentingan pasar lokal, cukup dipisahkan antara golongan kualitas A1 (ukuran >10 cm) dengan cabai kualitas B (ukuran <10 cm) panjangnya. Berdasarkan hasil penelitan tentang preferensi konsumen rumah tangga terhadap kualitas cabai merah menunjukkan bahwa rata-rata konsumen rumah tangga menyukai kulit cabai yang merah tua. Hal ini sangat erat kaitannya dengan masakan yang akan dihasilkannya, yaitu berwarna merah dan lebih menarik selera. b. Curing Curing bertujuan untuk memaksimalkan pembentukan dan penstabilan warna cabai merah sebelum dikeringkan. Sedangkan curing pada penyimpanan cabai merah segar dimaksudkan untuk membuang panas lapang, untuk mengurangi beban refrigerator (lemari pendingin) Biasanya petani cabai merah sering menghamparkan hasil panen cabai merah di dalam rumah atau ditempat teduh sebelum dijual. Cara tersebut dimaksudkan untuk mencegah kebusukan cabai merah sebelum dijual. Cara ini termasuk curing, karena menyesuaikan kondisi mutu sesuai dengan keinginan pasar. c. Penyimpanan Pada umumnya cabai merah dijual dalam bentuk segar. Oleh karena itu perlu penguasaan teknologi penanganan cabai merah segar, karena dapat meningkatkan daya simpan dengan mutu yang bisa diterima oleh konsumen, mengurangi kerusakan dan harganya tetap terjangkau. Seperti sayuran lainnya, setelah dipanen cabai merah secara fisiologis masih terus melakukan proses kehidupan. Sehingga perlu diusahakan agar proses ini tiddak dibiarkan berlangsung cepat. Sampai saat ini, pendinginan masih diakui sebagai cara yang terbaik dipakai untuk menyimpan cabai segar, walaupun hanya menghasilkan masa simpan yang terbatas. Pendinginan pada dasarnya berprinsip bahwa mikroorganisme tidak dapat berkembang dan sebagian besar perubahan secara biokimia dapat dicegah. Penyimpanan pda suhu dingin dengan menggunakan refrigerator (lemari pendingin) dinilai lebih mudah dibandingkan dengan cara pendinginan lainnya. d. Pengemasan Pengemasan adalah suatu fasilitas perlakuan sebelum pemasaran dan dapat mencegah kerusakan. Pengemasan yang baik dapat mencegah kehilangan hasil, memelihara mutu dan penampilan akan tetap baik. Penggunaan kemasan pada cabai merah dewasa ini sudah banyak dilakukan namun jenis dan design yang baik belum begitu diperhatikan. Kemasan yang baik adalah : Mudah diangkat Aman Ekonomis Kebersihan terjamin Tahan benturan Berventilasi, sehingga memudahkan pertukaran udara, yang bisa mengurangi penguapan. e. Pengangkutan Pengangkutan merupakan mata rantai penting dalam penanganan, penyimpanan dan distribusi sayuran. Hampir seluruh hasil produksi cabai merah mengalami proses pengangkutan dari tempat cabai merah dipanen sampai ke konsumen, pasar atau pusat-pusat perdagangan lainnya. Selama pengengkutan, hasil panen mengalami kerusakan, baik kerusakan fisik, mekanik, maupun biologis. Kerusakan mekanik terjadi akibat benturan, gesekan, dan memar selama pengangkutan. Sedangkan kerusakan biologis terjadi akibat adanya respirasi bahan dalam wadah tertutup. Respirasi menyebabkan naiknya suhu, sehingga cabai mudah rusak. Salah satu cara untuk mengurangi risiko ini, cabai merah harus dikemas dalam wadah yang berventilasi seperti keranjang bambu dengan kapasitas 20 kg atau karton/kardus berkapasitas 20 kg yang digabungkan penggunaannya dengan keranjang jala yang dimasukkan ke dalam kardus berventilasi. f. Pemasaran Pemasaran buah cabai merah yang sudah dipanen tidak menjadi masalah karena peluang pasarnya masih sangat luas, baik untuk diekspor maupun untuk pasar lokal. Terdapat banyak cara pemasaran yang bisa dilakukan oleh petani dalam menjual hasil panennya. Cara tersebut antara lain bisa dijelaskan sebagai berikut : Petani menjual hasil panennya secara langsung kepada tengkulak atau pedagang. Namun ada pula para tengkulak atau pedagang yang mendatangi langsung petani dilahan usaha taninya. Apabila telah terjadi kesepakatan harga maka cabai segera diangkut. Bagi petani yang memiliki lahan cabai yang luas akan lebih menguntungkan bila langsung dijual kepada pedagang besar. Pemasaran hasil cabai dengan jalur tata niaga pendek akan lebih memberikan keuntungan karena tidak banyak melibatkan berbagai pemasaran. Oleh : Inang ariawan,STP (Petugas Pendampingan Penyuluhan Pertanian, Dinas Pertanian kabupaten Banyuwangi)