Loading...

PENANGANAN PASCA PANEN KEDELAI DI KEC. VII KOTO

PENANGANAN PASCA PANEN KEDELAI  DI KEC. VII KOTO
PENANGANAN PASCA PANEN KEDELAI DI KEC. VII KOTO Pasca panen meliputi segala kegiatan mulai dari panen, pengankutan sampai dengan menghasilkan produk setengah jadi yang siap dipasarkan. Dalam penanganan pasca panen kedelai meliputi pemanenan, pengankutan, pengeringan, brangkasa (kedelai yang belum dikupas dari kulitnya), prontokan, pengeringan biji, penyimpanan dan pengemasan. Kec VII koto merupakan daerah sentra komoditi kedelai yang ada di Kabupaten Tebo. Penanganan pasca panen yang baik tentunya akan mennghasilkan kedelai yang baik, baik untuk kedelai konsumsi maupun untuk benih. Penanganan pasca panen bertujuan agar hasil tanaman tersebut dalam kondisi baik dan sesuai untuk dapat segera dikonsumsi atau unt uk bahan baku pengolahan. Prosedur perlakuan dari penanganan pasca panen berbeda untuk berbagai bidang kajian antara lain:a. Penanganan pasca panen pada komoditas perkebunan yang ditanam dalam skala luas seperti kopi, teh, tembakau dll., sering disebut pengolahan primer, bertujuan menyiapkan hasil tanaman untuk industri pengolahan, perlakuannya bisa berupa pelayuan, penjemuran, pengupasan, pencucian, fermentasi dll. b. Penanganan pasca panen pada produksi benih bertujuan mendapatkan benih yang baik dan mempertahankan daya kecambah benih dan vigornya sam pai waktu penanaman. Teknologi benih mel iputi pemilihan buah, pengambi lan biji, pembersihan, penjemuran, sortasi, pengemasan, penyimpanan, dll. c. Penanganan pasca panen pada komoditas tanaman pangan yang berupa biji-bijian (cereal/grains), ubi-ubian dan kacangan yang umumnya dapat tahan agak lama disimpan, bertujuan mempertaha nkan komoditas yang telah dipanen dalamd. kondisi baik serta layak dan tetap enak dikonsumsi. Penanganannya dapat berupa pemipilan/perontokan, pengupasan, pembersihan, pengeringan (curing / drying), pengemasan, penyimpanan, pencegahan serangan hama dan penyakit, dll.Penanganan pasca panen hasil hortikultura yang umumnya dikonsumsi segar dan mudah “rusak” (perishable), bertujuan mempertahankan ko ndisi segarnya dan mencegah perubahan-perubahan yang tidak dikehenda ki selama penyimpanan, seperti pertumbuhan tunas, pertumbuhan akar, batang bengkok, buah keriput, polong alot, ubi berwarna hijau (greening), terlalu matang, dll. Perlakuan dapat berupa : pembersihan, pencucian, pengikatan, curing, sortasi, grading, pengemasan, penyimpanan dingin, pelilinan, dll. 1. Proses pemanenan Kedelai a. Penentuan waktu saat panen merupakan tahap awal penanganan pasca panen yang bertujuan untuk menetapkan saat panen kedelai yang tepat. b. Pemanenan, merupakan tahap awal dalam seluruh rangkaian pasca panen yang sangat penting karena berpengaruh terhadap kualitas hasil panen dan kuantitas kedelai. c. Pemanenan kadelai tidak boleh dilakukan pada kadar air tinggi yaitu 30-40% karena dapat menyebabkan banyak butir hijau yang kemudian dapat berubah menjadi kuning, Pemanenan kedelai sebaiknya dilakukan pada kadar air rendah yaitu 17-20% karena mempunyai beberapa keuntungan antara lain:- rantai kegiatan penanganan pasca panen lebih pendek sehingga menghemat waktu tenaga dan biaya yang dibutuhkan.- Jumlah susut pasca panen keseluruhan yang mungki terjadi lebih rendah dari pemanenan pada kadar air tinggi yaitu 60%. Akan tetapi ada beberapa yang perlu diwaspadai panen kedelai pada kadar air rendah yaitu, pemanenan disarankan dilakukan pada lahan yang kering selama musim panen. Untuk alat yang digunakan saat panen lebih baik menggunakan sabit bergeringi yang memiliki gagang terbuat dari kayu dan mudah penggunaannya.Pemanenan kedelai dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :(a). dengan cara mencabut,Dalam hal ini kondisi atau tekstur tanahnya yaitu ringan dan berpasir. Mecabutnya dengan memegang batang pokok, tangan dalam posisi tepat di bawah ranting dan cabang yang berbuah. Pencabutan harus hati-hati karena kedelai yang tua mudah rontok. Pada dasarnya pemanenan dengan cara mencabut tidak dianjurkan, karena bintil akar yang mengandung rhizobium ikut terbuang. (b). Dengan cara memotong,Yaitu dengan menggunakan alat yang tajam seperti sabit. Hal ini dilakukan agar proses pemanenan berjalan dengan cepat dan jumlah buah yang rontok akibat goncangan bisa ditekan. Cara ini juga bisa meningkatkan kesuburan tanah karena akar dengan bintil - bintil menyimpan banyak senyawa nitrat tidak ikut tercabut. Dalam menentukan masa panen kedelai dilakukan berdasarkan :a) jenis atau varietas kedelai,b) kenampakan fisikYang secara kasat mata dapat dilihat dengan adanya : daun berwarna kuning dan rontok, batang telah kering, polong kering, berwarna coklat dan pecah. Pemanenan kedelai sebaiknya dilakukan di pagi hari agar keadaan polong tidak pecah – pecah dan pemungutan hasil kedelai dilakukan pada saat tidak hujan, agar hasilnya segera dapat dijemur. Pemanenan kedelai yang terlalu awal, memberikan hasil panen dengan jumlah butir muda yang tinggi sehingga kualitas biji dan daya simpannya rendah. Sedangkan pemanenan yang terlambat mengakibatkan penurunan kualitas dan peningkatan kehilangan hasil sebagai akibat pengaruh cuaca yang tidak menguntungkan maupun serangan hama dan penyakit pada lahan. Oleh karena itu, penentuan masa panen merupakan salah satu faktor yang penting. 2. Penataan pasca panenAda lima tahapan penanganan Pasca Panen KedelaiA. Pengeringan Brangkasan :Dapat dilakukan dengan 2a. Secara alamiPengeringan Secara Alami Brangkasan kedele dijemur langsung di bawah sinar matahari. Dapat dilakukan di atas lantai jemur atau menggunakan alas plastik, sebaiknya dipilih yang berwarna hitam/gelap untuk mempercepat pengeringan. Brangkasan kedele yang baru dipanen tidak boleh ditumpuk dalam timbunan besar, terutama pada musim hujan untuk mencegah kerusakan biji karena kelembaban yang tinggi. b. Pengeringan dengan para-paraCara ini dilakukan terutama bila panenan dilaksanakan waktu musim hujan. Para-para dibuat bertingkat Brangkasan kedele ditebar merata di atas para-para tersebut. Dari bawah dialirkan panas dari sekam, untuk menurunkan kadar air Brangkasan dianggap cukup kering bila kadar airnya telah mencapai kurang lebih 18 %. B. PembijianDapat dilakukan dengan pemukul (digebug) atau dengan mesin (Threster) Digebug/Dipukul Brangkasan yang cukup kering di atas lantai jemur/alas lain Dipukul dengan karet ban dalam sepeda atau kain untuk menghindarkan terjadinya biji pecah. Biji yang terlepas dari polong ditampi Biji dijemur sampai kadar air mencapai kurang lebih 14 % Disimpan dalam wadah/karung yang bebas hama/penyakit Menggunakan alat mekanis (power thresher)Power thresther yang biasa digunakan untuk padi dapat dimanfaatkan untuk kedele. Pada waktu perontokan dikurangi hingga mencapai kurang lebih 400 rpm. Brangkasan kedele yang dirontokkan dengan alat ini hendaknya tidak terlalu basah Kadar air yang tinggi dapat mengakibatkan biji rusak dan peralatan tidak dapat bekerja dengan baik. Pembersihan Untuk membersihkan biji kedele yang telah dirontokkan dapat menggunakan alat mesin pembersih (Winower) Mesin ini merupakan kombinasi antara ayakan dengan blowe. C. Pengemasan dan PenyimpananBiji yang kering lalu disimpan dalam wadah yang bebas hama dan penyakit seperti karung goni atau plastik. Sebagai tanaman pangan, kedelai dapat disimpan dalam jangka waktu cukup lama. Dengan cara kedelai disimpan di tempat kering dalam karung goni atau plastik. Karung - karung ini ditumpuk pada tempat yang diberi alas kayu agar tidak langsung menyentuh tanah atau lantai. Apabila kedelai disimpan dalam waktu lama, maka setiap 2 sampai 3 bulan sekali harus dijemur sampai kadar airnya sekitar 9% sampai 11%. Tempat penyimpanan harus teduh, kering dan bebas hama atau penyakit. Dan biji kedelai yang akan disimpan sebaiknya mempunyai kadar air 9 sampai 14 %. Apabila diangkut pada jarak jauh, hendaknya dipilih jenis wadah atau kemasan yang kuat. Apabila kedelai ingin langsung dijual ke pasar maka, tidak perlu melewati tahap penyimpanan, cukup melakukan pengemasan secara baik dan benar agar kedelai tersebut tidak rusak dalam proses pengirimannya.Tahap pertama adalah pengeringan brangkasan. Setelah pemungutan selesai, seluruh hasil panen langsung dijemur. Proses pengeringan ini dilakukan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara alami dengan meletakkan brangkasan kedelai di atas tikar, anyaman bambu, atau alas plastik, agar terkena sinar matahari secara langsung. Pengeringan dilakukan selama 3 sampai 7 hari bila cuaca bagus. Semua buah kedelai yang masih menempel pada batang diusahakan terkena sinar matahari, agar kedelai kering sempurna. Pada saat penjemuran hendaknya dilakukan pembalikan berulang kali, hal ini menguntungkan karena dengan pembalikan banyak polong pecah dan biji terlepas dari polongnya.Sedangkan biji kedelai yang digunakan untuk benih dijemur secara terpisah. Penjemuran dilakukan sampai kadar air 10% sampai 15% dan biasanya dilakukan pada pagi hari pukul 10.00 sampai 12.00 siang. Brangkasan kedelai yang baru dipanen tidak boleh ditumpuk dalam timbunan besar, terutama pada musim hujan. Hal ini untuk mencegah kerusakan biji karena kelembaban yang tinggi. Cara yang kedua adalah dengan menggunakan para-para, cara ini sangat efektif bila dilaksanakan pada musim penghujan. Para-para tesebut dibuat atau disusun bertingkat, kemudian brangkasan kedelai ditebar merata di atas para-para dan dipanaskan untuk mengurangi kadar air dengan cara membakar sekam di bawah para-para tersebut. Brangkasan dianggap cukup kering bila kadar airnya telah mencapai kurang lebih 18 %.