Umbi rambat (Dioscorea spp) banyak tumbuh diberbagai daerah di Tanah Air kita. Karena mudah menanamnya dan cepat menghasilkan umbi (umur 4-5 bulan telah dapat dipanen)banyak petani yang mengembangkan tanaman ini bahkan banyak pula penduduk yang bertanam ubi rambat dipekarangan rumahnya. Akibatnya, pada musim panen umbi ubi rambat, hasil tananman ini melimpah, harga dipasaran sangat merosot dan terutama yang sangat disayangkan banyaknya umbi ini yang rusak dan harus dibuang, padahal kalau mendapat penanganan dan pengolahan yang baik, hasilnya akan banyak pula meningkatkan pendapatan petani dan masukan retribusi bagi Pemerintah Daerah. Tanaman ubi rambat biasanya dijadikan pemula pada tanah tanah pertanian yang baru dibuka, jika pertumbuhan dan hasilnya baik, menandakan pula bahwa tanah itu subur.Dalam pertanaman selanjutnya selalu di tanam secara bergiliran atau ditanam secara bersama sama dengan tanaman yang lainnya, seperti dengan jagung, ubi kayu, labu, melon, dan lainnya menurut pertimbangan yang baik Sesuai dengan tanamannya yang sensitif sekali terhadap temperature tanah yang tinggi dan kekeringan yang memungkinkan pula hasilnya demikian merosot, maka untuk mempertahankan umbi yang segar tidak rusak, membusuk haruslah merupakan penanganan seperti terhadap umbi umbi kentang PENANGANAN TAHAP PERTAMA a. Pemanenanpanen umbi ubi rambat sebaiknya dilakukan setelah tananamannya berumur 4-5 bulan atau setelah daun dan batang tanaman banyak yang menguning atau lebih tepat lagi kalau diperiksa keadaan umbinya apakah telah cukup tua atau belum.Sebaiknya pembongkaran tanah larikan dimana tanaman itu tumbuh dilakukan dengan sekop atau cangkul sehingga umbi-umbinya terangkat dari dalam tanah b. Pembersihan dan Sortasikarena pada umbi-umbi banyak melekat pada tanah lakukan penyucian dengan memanfaatkan air pancuran sehingga umbi menjadi bersih dengan bagian kulitnya yang menarik, putih agak kuning atau merah agak kecoklatan, dan harganya lebih baik dibanding dengan umbi yang kotor yang biasa kita dapat dipasaran. Tetapi sebaiknya untuk meningkatkan nilainya dilakukan terlebih dahulu penyortiran antara yang besar, sedang dan yang kecil, masing-masing golongan tanpa ada yang cacat atau yang terluka. PENANGANAN TAHAP KEDUA a. Pengepakan dan penyimpanan Sebaiknya produk-produk yang siap untuk dipasarkan ditempatkan dalam bakul-bakul besar atau keranjang keranjang bambu atau ditempatkan langsung dalam bak kendaran yang bersih dan kering, lakukan penutupan dengan kain terpal, baru kendaraan diberangkatkan Apabila produk-produk itu sebagian besar akan disimpan kita harus ingat bahwa produk peka akan sinar matahari secara langsung, karna itu ruang penyimpanan harus berpeneduh, selain itu aerasi harus lancar, ventilasi ruangan harus diperhatikan. Penyimpanan yang baik untuk waktu yang agak lama, yaitu dengan menempatkan umbi-umbi itu dalam wadah-wadah yang selanjutnya disusun pada rak-rak yang tersedia dalam ruangan(seperti halnya penyimpanan umbi-umbi kentang) atau kalau bagian-bagian batangnya masih ada diikat menjadi satu dalam kelompok-kelompok kecil untuk selanjutnya digantung secara berjajaran. b. Pengolahan keringBanyaknya umbi yang cacat atau rusak (tetapi belum busuk) atau karna harga dipasaran terlalu rendah, maka sebaiknya umbi-umbi tersebut diolah secara kering, dijadikan tepung atau keripik umbi yang harga permintaan dari para konsumen/industri pembuat macam-macam panganan akan lebih baik atau menguntungkan. (Dirangkum dari berbagai sumber oleh : Farida Aryani)