Loading...

Penanganan Usaha Peternakan Babi

Penanganan Usaha Peternakan Babi
Dikenal tiga bentuk penanganan usaha peternakan babi di Indonesia yaitu secara intensif, semi intensif dan ekstensif. Pada usaha ekstensif umumnya babi yang dipelihara adalah babi lokal yang dibiarkan berkeliaran sekitar perkampungan tanpa menghiraukan pemeliharaan sehingga produktivitas babi tersebut sangat tergantung pada lingkungan kehidupannya. Usaha peternakan semi intensif , ternak sudah dikandangkan dan diberi pakan, tapi masih sering dilepas. Dewasa ini penanganan usaha peternakan lebih diarahkan kepada sistem intensif atau industri peternakan. Dalam sistem intensif, babi dipelihara terkurung dalam kandang baik secara kelompok atau individual dan penanganan yang menggunakan teknologi maju dan pertimbangan ekonomi. Pemeliharaan ternak babi merupakan salah satu kunci keberhasilan usaha peternakan babi. Pemeliharaan ternak babi dibagi atas pemeliharaan induk, anak dan pejantan. Pemeliharaan Induk Pemeliharaan induk dibedakan atas induk bunting, sedang melahirkan, induk mengasuh anak dan induk kering. Pemeliharaan induk bunting dan pada saat melahirkan kebuntingan babi 114 hari ( 3 bulan, 3 minggu, 3 hari) dengan variasi 95 - 120 hari. Induk babi bunting ditempatkan pada kandang tersendiri agar babi dapat bergerak leluasa dan diberi makanan yang cukup dan baik agar badannya kuat waktu melahirkan.Kandang beranak harus sudah bersih, kering dan tenang, dan sebaiknya diberi liter seperti jerami kering agar anak yang dilahirkan hangat dan nyaman. Induk babi dipindahkan dalam kandang beranak 3-4 hari sebelum melahirkan. Sebelum dimasukkan ke dalam kandang beranak ,Induk babi bunting harus dimandikan dengan air hangat dan sabun pada bagian ambing dan pantat untuk menghilangkan telur-telur parasit dan bakteri penyakit yang melekat pada tubuh babi ( sehari sebelum perkiraan waktu melahirkan) . Sesudah melahirkan induk dibersihkan dan dilap dengan air hangat yang ada lendir, kemudian diistirahatkan. Pemeliharaan Induk mengasuh anak dan induk kering Induk yang menyusui memerlukan makanan yang baik untuk menghasilkan susu. Jika induk tidak menghasilkan susu atau kurang, maka anak babi perlu diberi susu buatan atau dititipkan pada induk lain. Induk yang telah dipisah dari anaknya (induk kering) selama seminggu mengalami stress akibat pembengkakan kelenjar susu sehingga perlu disegarkan (flushing). Setelah pulih siap dikawinkan. Pemeliharaan anak Anak babi yang baru lahir harus segera dibersihkan dari selaput lendir terutama yang menutup lubang hidung dan mulut. Ttali pusar serta gigi susu dipotong dan ditimbang kemudian di lepas untuk mendapat susu kolostrum induknya. Untuk mencegah kematian anak babi akibat defisensi besi (Fe), maka setelah umur 2-3 hari anak babi diberi larutan besi yang dioles pada puting induk atau melalui suntikan. Keadaan kandang dijaga agar tetap bersih, kering dan suhunya diatur sehingga induk dan anak merasa nyaman. Pemotongan ekor pada saat anak babi umur 1- 3 hari, panjang ekor yang disisakan 0,6 - 1,3 cm. Kastrasi dilakukan kepada anak babi jantan yang dipelihara sebagai babi potong yaitu pada umur 2-3 minggu. Ini dimaksudkan untuk mempertahankan kualitas daging, untuk menjinakkan babi jantan yang mempunyai sifat kanibal dan agar babi jantan yang jelek tidak mengawini betina. Pemotongan gigi anak dimaksudkan agar tidak melukai puting induk.atau sesama anak saling menggigit. Selain itu pemberian nomor dengan pembuatan tanda pada telinga dengan keratan atau Tatto. Pemberian nomor ini memberikan kemudahan pencatatan dalam breeding, penjualan, kematian dan penyakit serta pertambahan berat badan. Anak babi juga perlu diberikan pengobatan cacing, terutama pada umur 10 minggu agar tidak mudah dijangkiti cacing. Penyapihan anak, dilakukan pada pada umur 6 minggu , namun bisa juga lebih awal 4 minggu, asal penanganan anak baik. Dalam penyapihan perlu diperhatikan perubahan perlakuan makanan dan pengurangan susu induk. Sebelum disapih sebaiknya divaksinasi atau diberi obat parasit. Pemeliharaan Pejantan Pejantan mencapai dewasa kelamin pada umur 6-8 bulan dan jadi pemacek setelah umur 8 bulan. Pejantan yang terpilih sebagai pemacek ditempatkan pada kandang khusus agar bebas bergerak dan diberi makanan yang baik. Pemeliharaan pejantan harus baik karena akan digunakan sebagai pemacek dalam perkawinan alam 1 : 20 dengan frekwensi perkawinan sekali sehari ( 8bulan) atau 2 kali sehari umur diatas 15 bulan. Penulis : Asia ( penyuluh BPSDMP) Sumber Informasi : - Teknik Beternak Babi di Indonesia. Dr.Ngepkep Ginting dan Dr.Djamuara Aritonang MS. - Tatalaksana Pemeliharaan Babi untuk menunjang ekspor. 1994. Direktorat Jenderal Peternakan. Direktorat Bina Produksi Peternakan. - Beternak Babi. 1974. Penerbitan Yayasan Kanisius.