Loading...

Pencanangan Gerakan Percepatan Pemulihan Kesuburan Lahan Pertanian oleh Menteri Pertanian RI

Pencanangan Gerakan Percepatan Pemulihan Kesuburan Lahan Pertanian oleh Menteri Pertanian RI
Menteri Pertanian RI, Suswono, secara resmi Mencanangkan Gerakan Percepatan Pemulihan Kesuburan Lahan Pertanian sekaligus penyerahan bantuan Decomposer cair pada petani di Provinsi Bali (Minggu, 29 April 2012). Bertempat di Subak Padanggalak, Desa Budaya Kesiman Kertalangu yang beralamat di Jl. Raya By Pass Ngurah Rai, Kesiman, Denpasar, Bali, acara ini terselenggara berkat kerjasama PT Balitani Agro Persada sebagai pemilik merk dagang Decomposer SUPERfarm bersama dengan APPOHI (Asosiasi Produsen Pupuk Organik dan Hayati Indonesia), Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kota Denpasar. Dalam acara ini, Menteri Pertanian mencanangkan secara langsung dan menerima secara simbolis bantuan decomposer dari perusahaan, lalu menyerahkan bantuan tesebut kepada petani di Prov Bali, diserahkan secara simbolis kepada perwakilan Pekaseh (sebutan ketua kelompok tani di Bali) yang ditunjuk. Jumlah Decomposer yang diserahkan adalah 100.000 liter, setara dengan Rp 5 Milyar. Menteri Pertanian didampingi oleh Kadis Pertanian Tanaman Pangan Prov. Bali, Sekda Kota Denpasar, Kadis Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Denpasar, Ketua APPOHI, dan Kepala Desa Kesiman Kertalangu, melaksanakan panen bersama, dilanjutkan dengan peragaan aplikasi Decomposer pada jerami di lahan sawah. Pada peragaan ini, beberapa petani Subak Padanggalak turut serta mengaplikasikan Decomposer tersebut. Para tamu undangan yang hadir antara lain Kepala Balai Pengembangan Teknologi Pertanian (BPTP), Kepala UPT Perlindungan Tanaman Pangan Prov. Bali, seluruh Kadis di Kota Denpasar, Pejabat Struktural (Kabid, Kasi, Kepala UPT Penyuluhan dan Perbenihan), Pejabat Fungsional (PPL, POPT, Petugas Benih, THL-TBPP), dan Staf, Camat Denpasar Timur, seluruh Pekaseh se-Prov. Bali, serta beberapa perwakilan anggota Subak Padanggalak sebagai tuan rumah. Setelah panen bersama dan peragaan aplikasi Decomposer, Suswono memberikan sambutan singkat. Dalam sambutannya, Beliau menyatakan akan berusaha sekuat tenaga untuk membangkitkan pertanian Indonesia menuju organik dengan cara memberikan subsidi pupuk organik, sehingga harganya terjangkau bagi petani. Selain itu, Suswono menyatakan konversi lahan yang luar biasa besar di Indonesia, mencapai 140.000 Ha/Tahun, telah berusaha diatasi dengan dikeluarkannya UU No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Beliau meminta kepada seluruh Bupati/Walikota untuk mengimplementasikan Undang - undang tersebut dalam Perda masing - masing. Beliau pun berpesan kepada generasi muda agar ikut berperan serta di sektor pertanian, sebab sektor pertanian, terutama pangan adalah profesi yang berkelanjutan. Penyelenggaraan acara ini didasari oleh adanya pencanangan Provinsi Bali sebagai Provinsi Hijau pertama di Indonesia oleh Presiden RI pada tanggal 22 Februari 2012. Dengan pencanangan ini, maka Prov. Bali memberikan subsidi pupuk organik bagi petani dan melaksanakan Program Simantri (Sistem Pertanian Terintegrasi). Dengan menjadi Provinsi Hijau, maka Prov. Bali memerlukan dukungan dari berbagai pihak, salah satunya adalah para produsen pupuk organik. Mereka tergabung dalam satu wadah yaitu APPOHI (Asosiasi Produsen Pupuk Organik dan Hayati Indonesia). Satu anggota APPOHI adalah PT Balitani Agro Persada sebagai pemilik merk dagang Decomposer SUPERfarm. Produk Decomposer, menurut perwakilan dari PT Balitani Agro Persada, memiliki kandungan berbagai bakteri (6 - 8 jenis bakteri) dan jamur yang mampu menghancurkan senyawa lignin dan selulosa pada sisa - sisa tanaman. Oleh karena itu, Decomposer mampu melapukkan jerami tanpa dibakar dalam 7 - 14 hari setelah aplikasi, sehingga jerami dapat menambah unsur N (Nitrogen) di dalam tanah yang akan mengurangi pemakaian pupuk urea sampai 78 kg/Ha, mengurangi pula pupuk SP36 sampai 68 kg/Ha, dan mengurangi pupuk KCl sampai 52 kg/Ha. Dengan demikian, Decomposer mampu menjadi produk andalan petani dalam usaha menuju pertanian organik. Ditulis oleh : Marcella Wayan K.R., SP (PP Pertama)