Kebutuhan akan protein hewani masyarakat khususnya di NTT/Flores Timur terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan kebutuhan pangan yang bersumber dari protein hewani. Bagi sebagian besar masyarakat NTT/Flores Timur beternak babi mutlak dilakukan karena sangat membantu dalam urusan adat-istiadat maupun urusan kemasyarakatan lainnya. Disamping itu juga usaha ini mampu memberikan kontribusi bagi pendapatan dan kesejahteraan masyarakat yang mengusahakannya. Sering terjadi pada waktu-waktu tertentu populasi yang siap dipasarkan tidak sebanding dengan permintaan, membuat ternak ini semakin tinggi harganya di pasaran. Hal ini tentunya akan mendorong berbagai pihak untuk turut berperan dalam mengembangkan usaha ini demi memenuhi permintaan dan kebutuhan masyarakat akan protein hewani.Dilain sisi sering terjadinya kegagalan dalam pembudidayaan ternak babi disebabkan oleh penyakit, salah satunya adalah penyakit Hog Cholera (Classical Swine Fever) atau lebih dikenal Penyakit Sampar Babi. Penyakit ini disebabkan oleh virus Hog Cholera/penyakit sampar Babi, merupakan penyakit yang serius pada ternak babi. Penyakit ini sifatnya akut dan salah satu penyakit yang disebabkan oleh virus yang sangat efektif yang ditandai dengan kematian secara tiba-tiba, Morbilitas tinggi (banyak yang tertular) dan Mortalitas (kematian) tinggi karena penyakit ini menyerang alat pencernaan dan pernafasan. Penyakit ini mudah berpindah melalui kontak langsung ataupun tidak langsung dan buruknya sanitasi dan kebersihan turut mempermudah ternak babi terserang virus ini. Selain itu virus ini dapat menular melalui makanan/pakan, air minum, alat-alat yang tercemari virus dan juga melalui serangga atau ternak-ternak lain. Cholera babi menyerang semua umur atau semua golongan babi. Tanda-tanda luar pertama penyakit ternak babi ini adalah ternak babi tidak aktif (lamban) dan kehilangan nafsu makan, disertai temperatur tubuh ternak babi yang meningkat (400C-420C). Peradangan pada mata disertai air mata keluar banyak (lebih jelas terlihat pada babi putih dibanding dengan babi hitam) yang dapat berakibat kelopak mata merapat dan mulai konstipasi yang ditandai dengan keluarnya kotoran berbentuk pelet. Tanda-tanda berikutnya adalah diare (menceret) cair kuning kelabu yang parah dan kadang-kadang menimbulkan cairan kekuning-kuningan, serta muncul warna kulit yang memerah disertai temperatur tubuh yang meningkat.. Semakin berlanjut penyakit terlihat adanya perubahan menonjol seperti terjadinya perubahan warna seluruh kulit perut, telinga, hidung dan bagian dalam kaki menjadi kelabu gelap. Hemoragis (pendarahan) umumnya muncul diseluruh tubuh babi yang terserang penyakit cholera babi. Kelenjar getah bening, misalnya kelenjar getah bening submaksilaris dan kerongkongan membengkak Pendarahan/bercak-bercak hemoragis kecil dapat dijumpai pada ginjal, alat-alat tubuh lain yang mengalami hemoragis termasuk kulit, tenggorokan, pita suara, jantung, selaput dalam usus dan alat-alat lain tubuh. Alat alat tubuh lain yang memperlihatkan infark (bercak-bercak pendarahan), lecet-lecet luka dalam usus besar juga sangat menyolok terlihat pada babi yang terserang kholera babi. Memvaksinasi ternak babi dengan vaksin cholera babi akan mengakibatkan babi terlindung serangan penyakit ini untuk jangka waktu lama, untuk itu disarankan menggunakan vaksin yang dipercaya efektif dan mampu melindungi ternak babi dari serangan penyakit cholera. Untuk perlindungan jangka pendek yakni untuk imunitas jangka waktu 3 minggu dapat digunakan subcusan serum anti cholera babi dengan takaran : babi dengan berat badan kurang dari 75 kg disuntik 1 ml/kg berat badan dan babi yang beratnya lebih dari 75 kg disuntikan 75 ml/ekor. Ternak babi yang diimunisasi dengan serum akan kebal terhadap penyakit cholera paling sedikit selama 3 bulan setelah disuntik. Selain menggunakan vaksin atau serum sangat dianjurkan untuk melaksanakan sanitasi baik sanitasi kandang, peralatan dan sanitasi sekitar lingkungan kandang demi menjaga kebersihan dan kesehatan ternak babi. Untuk kasus penyakit cholera yang parah atau telah berlanjut biasanya ternak babi yang telah terserang tidak adalagi harapan untuk dapat disembuhkan. Namun untuk kasus penyakit yang baru tahap awal besar harapan untuk sembuh melalui pengobatan dengan serum anti cholera babi diberikan 1,25 sampai 1,50 kali dosis yang biasa dicampurkan untuk pencegahan. Selain dari serum teramycin (1 mg/10 kg berat badan/hari selama 3-4 hari) hendaknya diberikan pada babi yang terserang untuk mencegah inveksi sekunder. Oleh : Abinhur N. Laiskodat, SP. Penyuluh Pertanian Madya. KJF Kab. Flores Timur-NTT. Sumber : Anonymous. Devisi Kesehatan Hewan. PT. Pfizer Indonesia dan Dinas Peternakan Privinsi NTT. Penyakit Hog Cholera. Admin Flores Timur Frans W. Simboh, S.Pi.