PHT atau Pengelolaan Hama Terpadu merupakan suatu metode pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) dengan memadukan berbagai teknik pengendalian yang kompatibel dalam kegiatan usaha tani (bercocok tanam). PHT dianggap pilihan paling tepat karena secara taktis mampu menekan populasi OPT (efektif) juga ekonomis (efisien) dan baik secara ekologis (ramah lingkungan). Namun kenyataannya penerapan PHT dalam budidaya tanaman tidak semudah yang dibayangkan, bahkan para petani yang sudah dilatih dalam Sekolah Lapangan Pengelolaan Hama Terpadu (SLPHT) pun mulai enggan menggunakannya (Mudjiono, 2011). Mengintegrasikan teknik pengendalian dalam tindakan budidaya tidak hanya butuh pengetahuan saja, tetapi juga pemahanan, komitmen dan kerjasama dengan pelaku utama lain dalam suatu hamparan. Untuk memudahkan pemahaman sehingga teknik-teknik pengendalian bisa menjadi bagian dalam setiap kegiatan budidaya adalah adanya OPT dalam kegiatan usaha tani. Mustahil menanam padi tak tumbuh rumput (gulma), tidak mungkin tidak ditemukan keong mas, orong-orong, wereng, ulat atau walang sangit di sekitar pertanaman padi. OPT pasti ada, sehingga yang harus dilakukan adalah mengupayakan tanaman tumbuh dan berkembang dengan baik serta mencegah kerusakan yang parah akibat keberadaan OPT tersebut. Setiap tindakan dalam kegiatan budidaya tanaman padi harus bertujuan menciptakan lingkungan yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman sekaligus mengupayakan agroekosistem pertanaman tidak cocok bagi perkembangan OPT. Kebanyakan petani mengusahakan tanaman tumbuh baik, tetapi juga berakibat populasi hama berkembang cepat dan tanaman mudah terinfeksi penyakit. Atau mencegah kerusakan tanaman akibat serangan OPT dengan pestisida, namun berdampak buruk terhadap keberadaan musuh alami dalam ekosistem pertanian. Penentuan waktu tanam Memulai kegiatan usaha tani padi dengan penentuan waktu tanam. Sasarannya adalah penanaman yang serentak di suatu areal/hamparan. Hal ini bertujuan mencegah keberlangsungan siklus hama/penyakit di areal tersebut. Suatu areal yang tidak serentak dalam penanamannya menjadikan ketersediaan makanan bagi hama (inang bagi penyebab penyakit) selalu ada. OPT tidak hanya berpindah saja, namun populasinya terus bertambah sehingga pada gilirannya pindah ke lahan kita, jumlahnya sudah meningkat beberapa kali lipat (Arintadisastra, 2013). Waktu tanam yang tepat juga berdampak positif terhadap penggunaan air irigasi. Air yang dialirkan melalui saluran irigasi lebih efisien jika dibandingkan dengan penanaman tidak serempak, ini disebabkan kebutuhan air pada setiap fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman tidak sama. Penentuan waktu tanam bisa berdasarkan : Pranata mangsa, yaitu kalender tanam atau pola penanaman yang didasari kebiasaan turun temurun dengan sistem penanggalan jawa Kesepakatan bersama dengan pertimbangan tertentu (ketersediaan air, prakiraan cuaca atau predeksi serangan OPT) Kebiasaan setempat (kearifan lokal). Peluasan tanaman refugia Hal yang tidak kalah penting dengan penentuan waktu tanam adalah peluasan tanaman refugia, yaitu suatu kawasan yang ditanami beberapa jenis tumbuhan sebagai tempat berlindung dan sumber pakan bagi musuh alami (predator dan parasitoid). Kawasan dimaksud bisa di tepi jalan, pinggiran saluran air atau di pematang sawah yang cukup lebar. Jenis tumbuhan yang sering dimanfaatkan sebagai tanaman refugia adalah bunga matahari, kenikir dan bunga kertas (zinnia) karena warna bunganya menarik serangga dan nektarnya menjadi pakan alternatif predator/parasitoid ketika tidak menemukan mangsanya (Kartono, 2016). Pemilihan varietas Pilihan varietas padi sangat banyak, bisa Varietas Unggul Lokal (VUL), Varietas Unggul Baru (VUB) ataupun Varietas Unggul Tipe Baru (VUTB). Pertimbangan untuk menentukan varietas padi yang akan ditanam sebaiknya bukan hanya potensi hasil atau rasa nasinya saja, tetapi juga harus memperhatikan kesesuaian lahan, umur tanaman, ketahanan terhadap hama dan penyakit, posisi daun bendera dan lain-lain. Daerah yang memliki keterbatasan sumber air (tadah hujan) mungkin lebih cocok menggunakan varietas berumur pendek. Daerah yang endemik serangan burung, lebih tepat memilih varietas yang berdaun bendera tegak. Demikian juga dengan ketahanan terhadap hama dan penyakit, suatu daerah endemik hama wereng dengan biotipe tertentu atau penyakit dengan strain berbeda dengan daerah lainnya. Tips memilih varietas yang tepat antara lain : Varietas (bisa juga menggunakan galur harapan) cocok dengan karakter lahan dan iklim di wilayah tersebut. Ini bisa diketahui jika asal padi dari daerah tersebut, atau setidaknya telah diujikan di beberapa lokasi di wilayah itu. Biotipe wereng atau strain bakteri yang endemik di daerah tersebut dapat ditanyakan kepada petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT). Deskripsi varietas dapat ditanyakan kepada pemulia tanaman, penangkar atau penyedia benih. Mudjiono, Gatot, 2011, Pengelolaan Hama Terpadu, Konsep, Taktik, Strategi, Penyusunan Program PHT dan Implementasinya, University of Brawijaya Press, Malang. Arintadisastra, Soemitro, 2012, Revolusi Pertanian dengan Kearifan Lokal, DPP Perhiptani, Jakarta. Kartono, 2016, Apa sih refugia itu?, diakses di http://kartono.net/apa-sih-refugia-itu/ pada tanggal 9 April 2017 pukul 17.45 WIB (Sosro Handoyo, S.P.)