Loading...

Penerapan Teknologi Pertanian

Penerapan Teknologi Pertanian
Renata Pane Tobasa Nassau Penerapan Teknologi Pertanian: Langkah Konkret Peningkaan Produktifitas Pangan Nasional Dewasa ini, arus globalisasi semakin gencar. Penemuan teknologi masa kini semakin marak. Berbagai macam peralatan elektronik tersebar di seluruh penjuru dunia. Hal-hal yang pada zaman dahulu dikatakan sebuah mimpi, sekarang menjadi sebuah realita. Penerapan teknologi-teknologi modern di semua sektor kehidupan, memberikan kemudahan dan kebermanfaatan bagi manusia dalam menjalankan aktifitasnya. Karena memang tujuan utama adanya penemuan-penemuan teknologi yaitu untuk membantu manusia dan memberikan kemudahan dalam melakukan aktifitasnya, sehingga setiap aktivitas bisa lebih efektif dan efisien. Begitu pula pada sektor pertanian. Dimana sekarang sudah banyak teknologi-teknologi pertanian yang sudah diterapkan oleh beberapa negara maju, dari mulai alat-alat pertanian, varietas-varietas unggul bibit pertanian, hingga budidaya pertanian dengan cara modern. Terbukti, dengan adanya teknologi pertanian dapat meningkatakan produktifitas pangan suatu negara. Contoh nyatanya adalah negara Amerika. Teknologi pertanian Amerika semakin maju sejak abad ke-19, banyak mesin dan teknologi pertanian yang ditemukan. Kemajuan teknologi yang semakin pesat, tidak membuat orang Amerika meninggalkan pertanian, namun justru pertanian di sana semakin berkembang. Mesin dan teknologi yang ditemukan, digunakan untuk meningkatkan hasil dan mutu pertanian. Salah satu contohnya yaitu penerapan ilmu biologi untuk mencangkok tanaman, agar hasil buahnya lebih bagus daripada tanaman induknya. Ilmu pertanahan berguna untuk mengelola tanah pertanian dan mengatur sistem irigasinya. Berbagai kemajuan teknologi malah membuat pertanian semakin maju. Kebanyakan lahan pertanian di Amerika ditanami jagung, jerami, dan gandum. Tanah pertanian utama digunakan untuk menghasilkan makanan serat-seratan. Kini, Amerika Serikat merupakan salah satu negara pengekspor hasil tani terbesar di dunia. Komoditasnya pun lengkap dan memiliki kualitas sangat baik. Mulai dari sayur-sayuran, buah-buahan, ayam potong, daging sapi, susu, hingga tembakau dan biji-bijian. Peralatan pertanian di Amerika sudah sangat modern. Di Amerika, traktor dapat berfungsi sebagai penarik alat-alat lainnya, seperti mesin pencangkul, pemupuk, penanam benih, pemotong, dan pemanen. Bahkan, beberapa traktor dapat menjadi alat penggerak untuk mesin lainnya. Dengan adanya alat atau mesin-mesin modern ini, kegiatan pertanian menjadi lebih efektif dan efisien. Para petani di sana juga menggunakan pesawat terbang kecil untuk menyemprotkan antihama atau menyirami ladang-ladang mereka. Komoditas makanan yang dulunya belum bisa diproduksi di Amerika, sekarang sudah dapat diproduksi. Salah satunya adalah kedelai, yang baru mulai diproduksi di Amerika Serikat pada tahun 1950-an. Amerika Serikat kini menjadi salah satu pengekspor kedelai terbanyak. Dan, salah satu importir kedelai Amerika adalah negara kita sendiri, Indonesia. Dengan adanya teknologi pertanian, tanpa membutuhkan sumber daya manusia yang banyak dan lahan yang luas pun dapat memproduksi pangan dengan skala besar. Indonesia adalah negara agraris dengan pertanian sebagai salah satu sektor utama dalam pembangunan bangsa. Hampir seluruh kegiatan perekonomian Indonesia berpusat pada sektor pertanian. Bahkan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani. Sehingga, hal ini menjadikan sektor pertanian sebagai sektor penting dalam roda struktural perekonomian Indonesia. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa sampai saat ini Indonesia masih mengimpor bahan pangan terutama pada jenis makanan-makanan pokok? Padahal Indonesia memiliki sumber daya manusia yang besar terutama di sektor pertanian, dan memiliki lahan yang begitu luas pula. Berdasarkan Data Katalog BPS, Juli 2012, Angka Tetap (ATAP) tahun 2011, untuk produksi komoditi padi mengalami penurunan produksi. Gabah Kering Giling (GKG) hanya mencapai 65,76 juta ton dan lebih rendah 1,07 persen dibandingkan tahun 2010. Jagung sekitar 17,64 juta ton pipilan kering atau 5,99 persen lebih rendah tahun 2010, dan kedelai sebesar 851,29 ribu ton biji kering atau 4,08 persen lebih rendah dibandingkan 2010, sedangkan kebutuhan pangan selalu meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk Indonesia. Terlihat adanya ketidak seimbangan antara potensi pertanian Indonesia dengan produkifitas hasil pertaniannya. Apa yang menyebabkan semua itu? Faktor utamanya adalah karena Indonesia belum menerapkan teknologi pertanian modern, dan masih menggunakan cara-cara konfensional dalam mengolah lahan pertanian. Masyarakat bangsa ini masih berfikir tradisional dan belum melek akan teknologi-teknologi masa kini. Mereka masih mengandalkan cara-cara nenek moyang yang sekarang sudah bukan zamannya lagi. Padahal jikalau Indonesia menerapkan teknologi pertanian dalam mengelola lahan pertaniannya, maka produktifitas pertanian dalam negeri akan melonjak pesat dan dapat meningkatkan ketahanan serta kemandirian pangan yang selama ini menjadi cita-cita bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia tidak akan mengimpor lagi berbagai bahan pangan terutama jenis makanan-makanan pokok. Berkaca dari apa yang telah terjadi di Amerika, harusnya Indonesia bisa mencontoh atas apa yang telah terjadi di Amerika. seandainya kemajuan teknologi diterapkan di pertanian Indonesia, para petani akan lebih sejahtera dan pengelolaannya lebih mudah. Apalagi dengan melihat potensi pertanian dan kesuburan tanah di Indonesia. Akselerasi penerapan teknologi pertanian merupakan upaya yang paling aplikatif dan paling logis apabila bangsa ini masih mau untuk keluar dari zona keterpurukan di sektor pertaniannya. Optimalisasi pengelolaan lahan pertanian dengan basis teknologi modern, menjadi kunci sukses dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Untuk dapat mencapai hasil yang optimal, penggunaan berbagai peralatan modern harus segera diterapkan. Modernisasi bukan berarti menghilangkan konsep tradisional pengelolaan pertanian, tetapi dengan menerapkan teknologi pertanian dapat memberikan hasil yang lebih baik dan lebih banyak. Selain itu, petani juga mendapat nilai tambah yang besar. Produktivitas menjadi tinggi, efisien, beban ongkos petani rendah, dan nilai tukar petani akan meningkat. Contohnya, untuk menemukan bibit unggul padi, harus ada penelitian dan penyilangan benih padi, jadi dapat dihasilkan bibit padi yang cepat panen dengan hasil yang lebih banyak dan tahan hama. Begitu juga dengan pengolahan lahan. Produksi pertanian tidak akan efektif jika hanya mengandalkan tenaga pengolah lahan. Apalagi dengan semakin terbatasnya tenaga pengolah lahan. Dengan modernisasi pertanian, waktu yang dibutuhkan juga semakin singkat. Misalnya, pengolahan lahan/sawah dengan menggunakan hand tractor, yang bukan saja mempercepat pengolahan tanah, tapi juga lebih irit tenaga. Apalagi, populasi kerbau semakin berkurang karena disembelih untuk dikonsumsi manusia. Untuk menanam padi, digunakan transplanter, dengan waktu tanam yang terhitung cepat. Satu hektare lahan dapat ditanami paling lama satu jam. Jauh lebih cepat dibandingkan penggunaan tenaga manusia yang membutuhkan waktu tiga sampai empat hari untuk menanami satu hektare lahan. Modernisasi peralatan juga telah dilakukan untuk memanen padi. Seperti, penggunaan combine harvester , yang dapat memotong padi jauh lebih cepat dibandingkan dengan cara dibabat manual. Dengan mesin tersebut, satu hektare lahan bisa dipanen dalam waktu dua jam. Sementara, dengan cara manual (dibabat) butuh waktu hingga tiga hari. Penggunaan mesin itu juga dapat mencegah kerusakan padi menjadi lebih baik, yaitu hanya 0,97 persen, dibanding menggunakan alat pemotongan manual, seperti ani-ani atau sabit. Perlu adanya kebijakan khusus serta berbagai terobosan baru dari pemerintah dalam meningkatkan produktifitas pangan dalam negeri, dengan penerapan teknologi-teknologi masa kini. Beberapa langkah dan terobosan yang bisa dilakukan pemerintah untuk meningkatkan produktifitas pangan dalam negeri dengan penerapan berbagai teknologi pertanian adalah: 1.Pengadaan proyek pertanian berbasis modern yang menggunakan alat-alat berteknologi modern di beberapa wilayah di Indonesia, terutama di daerah luar jawa yang masih banyak lahan kosong yang kurang produktif, seperti Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Papua. Sehingga dapat meningkatkan produktifitas pangan dalam negeri tanpa mengandalkan jumlah SDM yang ada di sektor pertanian 2.Memberikan peluang dan stimulan kepada para pengusa-pengusaha besar dan pemilik modal untuk membuka proyek pertanian berskala besar yang menggunakan sistem modern, sehingga akan semakin banyak pula lahan pertanian yang dibuka dan dikelola dengan metode yang lebih modern 3.Mengembangkan teknologi sumber daya genetik dengan membuka badan penelitian pertanian di setiap daerah, untuk mengetahui varietas unggul di setiap daerah yang kemudian diteliti dan dikembangkan, sehingga dapat menciptakan varietas unggul yang dapat menghasilkan produk pertanian dengan jumlah yang banyak dan memiliki kualitas yang baik 4.Pengadaan alat-alat pertanian berbasis modern yang telah mendapatkan subsidi dari pemerintah, sehingga petani dapat membeli alat-alat pertanian modern dengan harga yang relatif terjangkau, dan akhirnya dapat meningkatkan produktifitas hasil pertanian para petani lokal 5.Melakukan berbagai riset untuk pengembangan pertanian dalam negeri. Seperti halnya Belanda.Dengan luas wilayah yang relatif kecil bila dibandingkan Indonesia, pada tahun 2011 Belanda mampu menjadi negara peringkat 2 untuk negara pengekspor produk pertanian terbesar di dunia dengan nilai ekspor mencapai 72,8 miliar Euro. Produk andalannya adalah benih dan bunga. Sektor pertanian merupakan pendorong utama ekonomi di Belanda dengan menyumbang 20% pendapatan nasionalnya. Kunci dari majunya pertanian di Belanda adalah Riset. Kebijakan-kebijakan dan teknologi di adopsi dari riset-riset yang dilakukan para ahli. 6.Memfokuskan anggaran pertanian pemerintah dalam hal akselerasi penerapan teknologi pertanian yang aplikatif dan terjangkau 7.Pengadaan berbagai penyuluhan kepada petani lokal di setiap daerah, tentang penerapan teknologi pertanian dan keuntungannya, serta mengajak para petani lokal untuk beralih dari cara-cara konvensional menuju cara-cara yang lebih modern 8.Mendukung dan memfasilitasi berbagai penelitian dan penemuan alat-alat teknologi baru yang ditemukan, khususnya para mahasiswa yang sering mengadakan berbagai penelitian dan penemuan baru di bidang teknologi 9.Mengadakan sayembara dan pameran tahunan tentang teknologi pertanian untuk umum, sehingga para peneliti dan para penemu merasa dihargai dan diapresiasi serta merasa terpacu untuk menemukan teknologi-teknologi baru. Dan jika diadakan setiap tahun, akan makin banyak penemuan-penemuan baru dalam hal teknologi pertanian yang dapat diterapkan pada pertanian Indonesia. Dengan langkah-langkah tersebut, maka dalam waktu singkat produktifitas pertanian indonesia akan mengalami peningkatan yang signifikan. Pertanian pun akan lebih efektif dan efisien, serta ketahana serta kemandirian pangan yang selalu dicita-citakan bangsa Indonesia akan segera terwujud. Tetapi, jikalau masyarakat dan pemerintah Indonesia masih bersikukuh menggunakan cara-cara konvensional dan tidak mau melek teknologi, maka Indonesia akan tetap menjadi negara yang selalu bergantung pada negara lain, dan tidak akan pernah bisa menjadi negara maju. Karena, negara maju adalah negara yang selalu mengikuti perkembangan zaman, dan siap menghadapi persaingan global. Penerapan Teknologi Pertanian untuk Swasembada Pangan Indonesia Perkembangan sektor pertanian tidak lepas dari dukungan teknologi yang sudah mulai banyak diterapkan. Banyak manfaat dari penerapan teknologi yang diperoleh untuk sektor pertanian, mulai dari penurunan biaya input dan peningkatan produksi hasil. Penerapan teknologi dalam dunia pertanian sangatlah penting. Pertanian Indonesia memiliki potensi untuk bersaing secara global jika penerapan teknologinya dilakukan secara optimal. Dengan optimalnya penerapan teknologi, cita-cita sebagai lumbung pangan dunia tentu bukan hal yang tidak mungkin lagi. Oleh karena itu, dukungan teknologi dalam pertanian harus terus dikembangkan melalui inovasi-inovasi yang diterapkan dan berkelanjutan. Teknologi sangat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk pertanian. Penerapan teknologi pada pertanian secara umum mampu menurunkan biaya produksi hingga 40%, menaikkan indeks pertanaman, dan menggenjot produksi hingga 30%. Dapat dikatakan juga, jika tidak terdapat penerapan teknologi yang berkelanjutan di dunia pertanian maka tidak mungkin dapat tercapainya swasembada pangan nasional di Indonesia. Pertanian tidak akan dapat berkembang tanpa sentuhan teknologi. Teknologi Pertanian IndonesiaDalam hal penerapan teknologi pertanian, sejak tahun lalu pemerintah sudah menganggarkan dana sekitar 7 triliun dengan tujuan peningkatan produksi pertanian Indonesia. Usaha ini dilakukan untuk mendukung ketahanan pangan karena target swasembada pangan harus terus meningkat. Petani tidak bisa hanya mengandalkan sumber daya alam, namun perlu penerapan teknologi untuk proses budidaya. Terdapat berbagai macam teknologi yang dapat diterapkan di pertanian, mulai dari pembuatan bibit unggul sampai berbagai alat mesin pertanian yang dapat membantu peningkatan produksi. Produksi pertanian dituntut untuk selalu meningkat karena pertumbuhan penduduk yang pesat telah menyebabkan tuntutan juga terhadap kebutuhan pangan. Kebutuhan pangan ini akan sulit terpenuhi jika hanya mengandalkan pertanian tradisional tanpa sentuhan teknologi. Usaha swasembada pangan sejak tahun 2015 hingga kini tak lepas dari penerapan teknologi dalam penyusunan kebijakan di instansinya. Salah satu contoh adalah pengumpulan dan pelaporan data pertanaman padi berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) yang dipotret satelit Lansat-8. Dengan citra satelit ini dapat dimonitor kapan tanam padi sampai panen. Dengan bantuan teknologi satelit ini, pengambilan data dapat dilakukan secara mudah, efektif, efisien, cepat, dan akurat. Selain itu, kesalahan manusia (human erorr) dapat diminimalisir. Penerapan TeknologiPenerapan teknologi pertanian juga tidak semata-mata selalu berdampak buruk bagi lingkungan. Tanpa sentuhan teknologi, akan terjadi pengurasan sumber daya alam secara terus-menerus yang berdampak input yang dikembalikan ke alam tidak sebanding dengan output yang diambil masyarakat. Dengan penerapan teknologi ini dapat membantu keberlanjutan sistem pertanian dan memenuhi kebutuhan pada tingkat keamanan lingkungan yang dapat diterima. Penerapan teknologi pertanian yang cukup penting adalah teknologi pemanenan. Berdasarkan data, hasil panen padi petani di Indonesia setiap tahun terbuang sebesar 10,43% yang berupa gabah kering panen dan angka ini membuat biaya produksi menjadi tinggi. Banyak petani yang menganggap butir-butir gabah yang terjatuh di sawah saat panen tersebut sepele, padahal jumlahnya relatif besar dan bisa untuk menutupi biaya produksi. Namun, dengan adanya teknologi pemanenan, tingkat terbuangnya hasil panen dapat sangat terminimalisasi. Salah satu bentuk nyata lain dalam penerapan teknologi pertanian yang baru saja diterapkan adalah simbiosis tanaman sawit dengan ternak sapi, limbah sawit setelah diolah yang dimanfaatkan untuk pakan ternak, sedangkan kotoran ternak dimanfaatkan untuk pupuk perkebunan. Teknologi ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas perkebunan, kemandirian petani, dan peningkatan pendapatan petani. Banyak teknologi lain yang juga sudah diterapkan melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Mengenal Lebih Jauh Mengenai Perkembangan Teknologi Pertanian Jika mendengar kata ‘teknologi’, pasti yang terlintas pertama kali adalah gadget, aplikasi, maupun software. Walaupun beberapa komponen tersebut ada di sekitar kita, namun kita tidak boleh tutup mata untuk terbuka dengan teknologi di bidang lain, misalnya dalam bidang pertanian. Di dunia agribisnis pertanian, tentu mengenal yang namanya teknologi juga dan semakin lama selalu ada teknologi baru dengan invoasi-inovasi yang baru juga.Bukan Hanya Komunikasi, Perkembangan Teknologi Pertanian Ini Juga Tidak Kalah Maju!Seperti halnya perkembangan teknologi maupun komunikasi, di bidang pertanian pun teknologinya tidak kalah canggih. Saat ini banyak penemuan-penemuan yang dianggap akan meningkatkan kualitas pertanian di Indonesia. Bayangkan saja jika dalam sebuah bidang tidak ada perubahan yang signifikan? Pasti kualitas sebuah produk di dalam pertanian akan berhenti di tengah jalan seperti itu-itu saja.Terlebih lagi Indonesia adalah negara agraris yang memiliki sumber daya alam tinggi dan pengelolaan yang cukup baik, jadi dalam bidang pertanian jelas ini sangat akan mendukung. Bukan hanya kekayaan hayati saja, Indonesia yang memiliki daerah tropis yang bersahabat dengan iklim dan cuacanya, akan sangat mendukung sector pertanian sehingga selalu dilirik oleh negara-negara asing.Bidang pertanian ini adalah bidang yang selalu dibutuhkan oleh siapapun. Melihat dalam peranannya dalam menunjang kebutuhkan sandang, pangan, dan papan manusia dalam sehari-hari. Manusia tidak akan bisa bertahan tanpa adanya ‘pangan’. Untuk memperoleh ‘pangan’, tentu harus membutuhkan pertanian yang menghasilkan beras. Jelas ini adalah mata rantai yang saling terikat.Lalu seperti apa sih perkembangan teknologi dalam dunia pertanian ini? Teknologi adalah ilmu yang berhubungan dengan peningkatakn keterampilan dalam industri. Jika diterapkan di dalam dunia pertanian, pengertiannya adalah sebuah trik atau cara untuk meningkatkan usaha tani. Misalnya saja dalam proses pemilihan benih yang terbaik, bagaimana menyebarkan dan meletakkan benih di poros yang tepat, proses pemeliharannya, hingga ketika memanennya.Di luar komponen tersebut, perkembangan pertanian juga dapat dilihat dari jenis obat-obatan dan makanan yang digunakan, pupuk jenis apa saja yang dipakai, hingga pestisidanya. Tentu beberapa komponen tersebut tidak dapat dilakukan dengan asal saja, peran petani dan teknologi yang harus saling bersatu untuk menghasilkan hasil panen yang maksimal.Banyak yang beranggapan bahwa teknologi telah merampas semua pekerjaan petani, karena dengan teknologi ini akan dapat dilakukan dengan cara mudah dan waktu yang singkat disbanding masih menggunakan memanfaatkan SDM yaitu petani. Padahal realitanya, teknologi tidak akan bekerja dengan baik jika tidak ada kerjasama yang baik dengan petani. Teknologi bukan robot, jadi harus tetap membutuhkan peran SDM untuk melakukannya. Penerapan teknologi dalam dunia pertanian ada banyak, misalkan saja :Traktor yang dimanfaatkan sebagai pengganti cangkul;1. Pupuk buatan lebih dianggap menguntungkan lebih cepat disbanding pupuk kompos atau pupuk hijau;2. Penanaman benih padi berjajar dianggap lebih menghasilkan padi yang banyak dibanding penanaman benih yang disebar.3. Beberapa hal di atas adalah hal kecil yang dapat ditemui sehari-hari. Di luar itu masih banyak fungsi dan manfaat dari teknologi yang dapat dirasakan. Bukan untuk menggantikan, teknologi hanya berperan meningkatkan produktivitas dan kinerja pertanian. Keuntungan yang didapat bukan hanya dari segi hasil yang dituai nantinya, namun mempercepat kinerja petani.Bukan hanya itu saja, kekuatan dari teknologi pertanian ini akan meningkatkan komoditas panen antar daerah yang nantinya dengan meningkatkan harga produknya. Oleh karena itu, petani harus menggunakan teknologi dan kemudahan yang ada untuk mencapai tujuan-tujuannya. Misalnya saja pemanfaatan internet untuk promosi hasil panennya dengan penawaran harga yang lebih miring dibanding pembelian di pasar, tentu akan meningkatkan pendapatan.Namun di balik kemudahan-kemudahan yang ditawarkan, ada beberapa kekurangan yang ditimbulkan. Misalnya saja para petani yang telah terbiasa menggunakan traktor untuk membajak sawah akan meninggalkan kerbau sebagai media yang digunakan sebelumnya. Jika alat traktor ini digunakan terus-menerus, petani harus menerima kenyataan bahwa suatu saat alat ini dapat rusak. Teknologi dapat mudah berkembang namun juga dapat rusak.Selain itu pembelian mesin ini tidak dengan biaya yang sedikit, tentu harus rela membelinya. Contoh lain seperti penggunaan pestisida pada tanaman yang ditanam, hal ini akan berdampak buruk pada pembeli dan pengkonsumsinya kelak. Petani tidak memikirkan hal hingga sampai titik itu, mereka hanya berpikir bahwa tanaman mereka akan terbebas dari hama. Namun di antara kelebihan dan kekurangan itu, perkembangan teknologi pertanian di Indonesia harus tetap didukung untuk semakin lebih baik lagi. Optimalisasi Produktivitas Padi Sawah Irigasi melalui Penerapan Teknologi Jajar Legowo Super Pemenuhan target produksi padi saat ini masih bertumpu pada lahan sawah dengan produktivitas yang relatif lebih baik dari pada lahan marjinal, seperti lahan kering dan lahan rawa. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah menghasilkan berbagai teknologi guna mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan, khususnya upaya peningkatan produksi padi nasional. Salah satu teknologi budidaya dengan tujuan optimalisasi produktivitas padi sawah irigasi adalah Teknologi Jajar Legowo Super.Teknologi Jajar Legowo Super (Jarwo Super) adalah teknologi budidaya terpadu padi sawah irigasi berbasis tanam jajar legowo 2:1 yang disinergiskan dengan komponen teknologi jajar legowo lainnya dengan tujuan optimalisasi produksi dan berkelanjutan.ImplementasiImplementasi atau penerapan teknologi jajar legowo super dilakukan mengacu pada petunjuk Teknis Budidaya Padi Jajar Legowo Super (Balitbangtan, 2016) dengan komponen teknologi sebagai berikut:a. Varietas Unggul dan Benih Bermutu. Varietas unggul yang digunakan adalah yang memiliki potensi hasil tinggi Balitbangtan, 2016),diantaranya Inpari 30 Ciherang Sub-1, Inpari 32 HDB, dan Inpari 33. Selain itu benih yang digunakan harus bermutu,yaitu benih dengan tingkat kemurnian dan vigor yang tinggiagar menghasilkan bibit sehat,dan perakaran lebih banyak, sehingga pertumbuhan tanaman lebih cepat dan merata.b. Aplikasi Pupuk Hayati. Salah satu pupukhayatiproduk Balitbangtan adalah Agrimeth. Pupuk hayati inimemiliki aktivitas enzimatik dan fitohormon yang berpengaruh positif terhadap pengambilan hara makro dan mikro tanah, memacu pertumbuhan, pembungaan, pemasakan biji, pematahan dormansi, meningkatkan vigor dan viabilitas benih, efisiensipenggunaan pupuk NPK anorganik dan produktivitas tanaman.Aplikasi dilakukan pada pagi hari (sebelum jam 08.00 pagi) atau sore hari (pukul 15.00-17.00) dan tidak terjadi hujan. Pupuk hayati dapat diaplikasikan sekali, yakni pada saat benih akan disemai sebagai perlakuan benih (seed treatment). Sisa pupuk hayati dari seed treatment dapat disebarkan di lahan persemaian.c. Persemaian.Persemaian, dianjurkan menggunakan persemaian sistem dapog karena bibitditanammenggunakan alat tanam mesin Indojarwo transplanter. Persemaiandengansistemdapogdiawalidenganpemeraman benihselama dua hari kemudian ditiriskan, laludicampurdengan pupuk hayati dengan takaran 500 gram/25 kg benih, atausetarauntuk 1 ha lahan.Benih disebar pada kotak dapogberukuran 18 cm x 56 cm dengan jumlah benih sekitar 100-125 gram/kotak. Kemudian benih disebar merata pada persemaian dapog.Dapog juga dapat dibuat secara insitu menggunakan plastik lembaran dengan media tanam yang terdiri atas campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 3:2.d. Penyiapan Lahan.Penyiapan lahan dapat dilakukan dengan cara olah tanah basah atau cara olah tanah kering. Cara olah basah meliputi: (1) Penggenangan lahan setinggi 2-5 cm di atas permukaan tanah selama 2-3 hari sebelum tanah dibajak; (2) pembajakan tanah pertamasedalam 15-20 cm menggunakan traktor bajak singkal, kemudian tanah di inkubasi selama 3-4 hari; (3) perbaikan pematang yang dibuat lebar untuk mencegah terjadinya rembesan air dan pupuk; sudut petakan dan sekitar pematang dicangkul sedalam 20 cm; lahan digenangi selama 2-3 hari dengan kedalaman air 2-5 cm; (4) pembajakan tanah kedua bertujuan untuk pelumpuran tanah, pembenaman gulma dan aplikasi biodekomposer; dan (5) perataan tanah menggunakan garu atau papan yang ditarik tangan, sisa gulma dibuang, tanah dibiarkan dalam kondisi lembab dan tidak tergenang.Penyiapan lahan dengan olah tanah kering menggunakan traktor roda empat yang dilengkapi dengan bajak piringan (disk plow) dan garu piringan (disk harrow). Tahapan penyiapan lahan dengan cara kering adalah tanah dibajak sedalam 20 cm, kemudian digaru untuk menghancurkan bongkahan tanah dan diratakan pada saat air tersedia.e. Aplikasi Biodekomposer.Biodekomposeradalah komponen teknologiperombak bahan organik,diaplikasikan 4 bungkus (2 kg/ha) dicampur secara merata dengan 400 liter air bersih. Setelah itu larutan biodekomposer disiramkan atau disemprotkan merata pada tunggul jerami pada petakan sawah, kemudian digelebeg dengan traktor, tanah dibiarkan dalam kondisi lembab dan tidak tergenang minimal 7 hari. Biodekomposer M-Dec mampu mempercepat pengomposan jerami secara insitudari 2 bulan menjadi3-4 minggu. Pengomposan jerami dengan aplikasi biodekomposer mempercepat residu organik menjadi bahan organik tanah dan membantu meningkatkan ketersediaan hara NPK di tanah, sehingga meningkatkan efisiensi pemupukan dan menekan perkembangan penyakit tular tanah.f. Tanam Pindah.Padasaat berumur 14-17 hari setelah semai (HSS), atau tanaman sudah tumbuh dengan tinggi 10-15 cm dan memiliki 2-3 helai daun, bibit dari persemaian dapogditanam ke sawah menggunakan alat mesin Indojarwo transplanter. Kebutuhan bibit antara 200-230 dapog untuk setiap hektar lahan. Bila menggunakan persemaian biasa, benih diperam dua hari kemudian ditiriskandansetelahdicampur dengan pupuk hayati langsungdisebar merata di persemaian. Bibit ditanam saatberumur 15-18 hari setelah sebar.Bibit ditanam menggunakan jarak tanam jajar legowo 2:1. Sistem tanam jajarlegowo 2:1 merupakan sistem tanam pindah yang pada setiap dua barisan tanaman terdapat lorong kosong memanjang sejajar dengan barisan tanaman, danjarak tanaman dalambarisansetengahjaraktanamantarbaris. Penerapansistemtanamjajar legowo 2:1 denganjaraktanam 25 cm x 12,5 cm x 50 cm meningkatkanpopulasitanamanmenjadi 213.333 rumpun/ha ataumeningkat 33,3%dibandingkansistemtegel 25 cm x 25 cm denganpopulasi160.000 rumpun per ha.Penanam menggunakan bibit muda dengan jarak tanam sama, umur bibit 15-18 hari setelah sebar, dengan jumlah bibit 2-3 batang per rumpun.g. Penyulaman.Apabila terjadi kehilangan rumpun tanaman akibat serangan OPT maupun faktor lain, perlu dilakukan penyulaman untuk mempertahankan populasi tanaman pada tingkat optimal. Penyulaman harus selesai 2 minggu setelah tanam, atau sebelum pemupukan dasar.h. Pengairan.Tata kelola air berhubungan langsung dengan penguapan air tanah dan tanaman, sekaligus untuk mengurangi dampak kekeringan. Pengelolaan air dimulai dari pembuatan saluran pemasukan dan pembuangan. Tinggi muka air 3-5 cm harus dipertahankan mulai dari pertengahan pembentukan anakan hingga satu minggu menjelang panen untuk mendukung periode pertumbuhan aktif tanaman. Saat pemupukan, kondisi air dalammacak-macak.i. Penyiangan.Penyiangan dilakukan pada periode awal sampai 45 hari setelah tanam. Pada periode ini, gulma harus dikendalikan baik secara manual, gasrok, maupun herbisida.Penyiangan gulma dilakukan saat tanaman berumur 21 hari setelah tanam (HST) dan 42 HST. Penyiangan dengan gasrok dapat dilakukan pada saat gulma telah berdaun 3-4 helai, kemudian digenangi selama 1 hari agar akar gulma mati. Aplikasi herbisida selektif dapat dilakukan untuk pengendalian gulma jenis tertentu.j. Pemupukan.Pada hasil pertanaman Teknologi Jarwo Super cocok untuk tanah sawah irigasi dengan kadar P dan K sedang sampai tinggi, serta mempunyai KTK (kapasitas tukar kation) kategori sedang sampai tinggi. Penetapan status hara tanah hara P dan K diukur dengan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS). Pemupukandilakukantiga kali yaitu 1/3 padaumur 7-10 HST, 1/3 bagianpadaumur 25-30 HST, dan 1/3 bagianpadaumur 40-45 HST. Kecukupan N dimonitor dengan bagan warna daun (BWD) setiap 10 hari hingga menjalang berbunga. Untuk memperbaiki dan meningkatkan kesuburan lahan, selain dengan pupuk kimia juga dapat diaplikasikan pupuk kandang yang telah matang sempurna dengan dosis 2 t/ha atau pupuk organik Petroganik dengan dosis 1 t/ha, yang diberikan pada saat pengolahan tanah kedua.k. Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara terpadu sesuai rekomendasi, mengutamakan tanam serempak, penggunaan varietas tahan, pengendalian hayati, biopestisida, fisik dan mekanis, feromon, dan mempertahankan populasi musuh alami. Penggunaan insektisida kimia selektif sesuai rekomendasi dilakukan sebagai cara terakhir jika komponen pengendalian lain tidak mampu mengendalikan hama penyakit. Salah satu pestisida nabati yang digunakan pada demarea Jarwo Super di Indramayu adalah BioProtector yang berbahan aktif senyawa eugenol, sitronelol, dan geraniol. Pestisida ini terbukti efektif mengendalikan OPT pada demarea tersebut.l. Panen dan Pascapanen.Panen merupakan kegiatan akhir dari proses produksi padi di lapangan dan faktor penentu mutu beras, baik kualitas maupun kuantitas. Panendilakukanpadasaattanamanmatangfisiologis,yaitu saat 90-95% bulirtelahmenguningataukadar air gabahberkisar 22-27%. Panen dilakukan menggunakan alat dan mesin panen. Untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja, saat ini telah dikembangkan mesin pemanen seperti stripper, reaper, dan combine harvester. Gabah hasil panen segera dikeringkan di bawah sinar matahari langsung ataudengan mesin pengering. Penjemuran bisa menggunakan alas terpal dengan tebal lapisan gabah 5-7 cm dan dilakukan pembalikan setiap 2 jam sekali hingga kadar air gabah mencapai 14% (Gabah Kering Giling/GKG). Suhu pengeringan benih jika menggunakan dryer tidak melebihi 40-45oC, sedangkan untuk gabah konsumsi tidak melebihi 50-55oC. Analisis Usaha TaniBerdasarkan panen ubinan pada Demarea Jarwo Super di Indramayu MH 2015/2016 diketahui bahwa hasil panen Jarwo Super adalah 13,9 ton/ha dari varietas Inpari, sedangkan hasil panen di luar Demarea rata-ratanya hanya 7 ton/ha. Hasil analisis usahatani menunjukkan bahwa biaya penerapan Jarwo Super sebesar Rp 15.992.778/ha atau 35,2% relativelebih tinggi dibandingkan dengan system tanam jajar legowo biasa (Rp11.831.667/ha). Namun demikian Jarwo Super memberikan keuntungan sebesar 141,8% untuk rata-rata semua varietas. Hasil analisis usahatani menunjukkan bahwa pendapatan bersih penerapan Teknologi Jajar Legowo Super mencapai Rp. 42.487.222per ha. Dari sisi kelayakan usahatani, Teknologi Jajar Legowo Super memberikan nilai B/C ratio yang layak sebesar 2,66, lebih tinggi disbanding cara petani dengan B/C ratio 1,48. Berdasarkan hasil analisis tersebut maka secara financial teknologi jajar legowo super layak dikembangkan secara luas. (Dr. Priatna Sasmita, MSi./Kepala BPTP-Balitbangtan Sumatera Selatan)  Penerapan Teknologi Pertanian Perlu Pemilihan metode penyuluhan di lapangan yang tepat dalam menyampaikan teknologi kepada petani sangat penting. Salah satunya metode demontrasi plot (demplot). Teknologi merupakan suatu cara ataupun sarana yang diciptakan manusia untuk memenuhi kepuasannya. Dalam penerapan teknologi pertanian misalnya, petani akan merasa puas dan bangga jika tanamannya berhasil dipanen sesuai harapan. Dengan demplot diperlihatkan secara nyata tentang cara serta hasil dari penerapan teknologi pertanian yang telah terbukti bermanfaat bagi petani.Pertanian Sehat Indonesia (PSI) melaksanakan demplot di setiap Klaster Program Pemberdayaan yang ditanganinya. Dalam demplot tersebut, PSI mencoba memperkenalkan cara bertanam padi secara sehat. Pertanian yang mengacu pada sistem pertanian berkelanjutan.Dengan bertani secara sehat diharapkan kesuburan dan kesehatan lahan semakin meningkat. Musuh alami hama dan penyakit tanaman semakin banyak sehingga hama dan penyakit semakin berkurang. Biaya produksi berkurang dengan pemanfaatan bahan baku lokal. Sehingga usaha bertani tidak hanya saat ini tapi akan berlanjut terus ke anak cucu mereka, karena lahan yang diwariskan merupakan lahan yang subur dan produktif.Paket teknologi pertanian yang diterapkan dalam demplot ini merupakan teknologi yang berupaya mewujudkan sistem pertanian yang berwawasan ekonomis, ekologis, dan berkelanjutan (sustainable agriculture). Teknologi yang diterapkan tersebut adalah :• Pemberian pupuk organik sebagai pupuk dasar (pembenah tanah) dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan dan mempertahankan kualitas tanah.• Sistem tanam jajar legowo, yaitu sistem tanam berselang-seling dua baris, dan satu baris dikos