Loading...

PENETASAN TELUR ITIK DENGAN MENGGUNAKAN GABAH

PENETASAN TELUR ITIK DENGAN MENGGUNAKAN GABAH
Penetasan telur itik dapat dilakukan baik secara alami maupun dengan menggunakan mesin tetas. Salah satu penetasan telur itik secara alami, dapat dilakukan dengan menggunakan gabah. Dibidang peternakan, bahwa ternak itik merupakan salah satu komoditi unggas yang mempunyai peran cukup penting sebagai penghasil telur dan daging, untuk mendukung ketersediaan protein hewani yang murah dan mudah didapat. Di Indonesia, itik umumnya diusahakan sebagai penghasil petelur namun ada pula yang diusahakan sebagai penghasil daging. Peternakan itik didominasi oleh peternak dengan sistem pemeliharaan yang masih tradisional di mana itik digembalakan di sawah atau tempat-tempat yang banyak airnya, namun dengan cepat mengarah pada pameliharaan/budidaya secara intensif yang sepenuhnya terkurung. Saat ini, pergeseran pola/sistem budidaya/pemeliharaan itik ini disebabkan oleh berkurangnya tempat penggembalaan antara lain karena makin intensifnya penanaman padi sawah, konversi atau alih fungsi lahan persawahan menjadi daerah pemukiman dan industri. Selain itu juga karena meningkatnya kesadaran peternak untuk mencegah dan menularnya penyakit unggas seperti Avian Influenza. Dengan adanya, pergeseran ini menunjukkan bahwa usaha peternakan itik bukan hanya sekedar sambilan akan tetapi sudah memiliki orientasi bisnis yang diarahkan dalam suatu kawasan, baik sebagai cabang usaha maupun sebagai usaha pokok, karena mengusahakan budidaya itik cukup menguntungkan dan dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan keluarga. Dalam hal ini, untuk mendapatkan anakan itik atau meri, salah satunya dapat dilakukan penetasan telur itik dengan menggunakan gabah. Adapun penetasan telur itik dengan menggunakan gabah, sebagai berikut : A. Perlengkapan yang diperlukan : 1) Keranjang pengeraman/induk. Berbentuk silinder terbuat dari anyaman bambu. Garis tengah 45 - 50 cm. Tinggi 70 -80 cm (cukup untuk ± 1.020 butir dengan 12 lapisan/susunan. Sedangkan dinding dan dasar bagian dalam keranjang diberi lapisan kertas semen dan karung; 2) Kotak Pengeraman. Kotak persegi empat terbuat dari kayu (papan) panjang 150 cm, lebar 100 cm, dan tinggi 100 cm (cukup untuk dua buah keranjang). Disini keranjang diletakan didalam kotak pengeraman, jarak dari dinding ke kotak 20 cm, antara 2 keranjang 10 cm. Sedangkan dasar kotak dilapisi dengan kulit gabah yang telah dipanaskan setebal 10 cm. Demikian juga sekeliling keranjang diisi dengan sekam dengan padat; 3) Rak (balai-balai) penetasan. Dibuat dari kayu dalam bentuk meja dengan 4 kaki diberi dinding setinggi 10 cm, panjang 150 cm, lebar, 100 cm, dan tinggi 100 cm (cukup untuk ± 100 - 1.200 butir telur). Dapat dibuat 2 lantai seperti rak lantai pertama dibuat 40 cm dari dasar, jarak antara 2 lantai seperti rak lantai 60 cm (dengan 2 lantai dapat menampung 2.000 - 2.400 butir). Daun (lantai) meja dilapisi tikar atau karung kemudian diisi dengan sekam setebal 10 cm. B. Tatalaksana : 1) Pejemuran gabah. Pada pagi hari pertama gabah yang menjadi lapisan tempat bertelur, dijemur selama 2 jam pada pagi hari bilamana cuaca baik. Bilamana mendung lebih lama lagi, untuk mencapai panas gabah yang diperlukan ± 40 °C. Apabila penjermuran tidak mungkin (hari hujan) gabah perlu digoreng tanpa minyak (disangrai). Pada hari kedua dan ketiga, keempat dan seterusnya penjemuran gabah dilakukan 2 kali sehari, selama satu jam. Untuk praktisnya, penjemuran gabah dengan menghamparkan di atas karung pembungkusnya. Setiap lapisan sekitar 2 kg gabah. Sedangkan untuk sebuah keranjang indukan diperlukan 8 lapisan gabah; 2) Penjemuran telur itik. Dilaksanakan i kali pada hari pertama, sampai panas telur mencapai ±37 °C, bagi yang telah berpengalaman dapat mengetahui dengan cara menepelkan telur pada kelopak mata atau pipi. Telur dihamparkan pada alas kain belacu (bekas kantong tepung terigu) setiap lembar ukuran 60 x 60 cm untuk sekitar 85 butir. Sebelumnya pada kedua sisi telur diberi tanda X yang diperlukan sebagai tanda waktu pembalikan telur; 3) Memasukan telur ke dalam keranjang. Dengan alas karungnya, sekam yang telah panas dimasukan dalam keranjang indukan. Pada dasar keranjang diperlukan dua lapisan sekam panas. Kemudian dengan kain alasnya, telur dimasukkan dan ditata dengan baik (telur tidak terlalu bertumpang-tumpangan), tidak lebih dari dua lapisan telur saja. Sesudah dua lapisan telur, dilapisi lagi dengan satu lapisan gabah. Demikian seterusnya sampai keranjang indukan penuh, kemudian ditutup dengan beberapa lapisan karung dan penutup terakhir dapat dipergunakan nyiru; 4) Hari ke 1 - 3 di keranjang indukan. Penulis : Sri Hartati (Pusat Penyuluhan Pertanian) Sumber : 1) Pedoman Beternak Itik, Direktorat Jenderal Peternakan Tahun 1998.