Loading...

PENGADAAN BENIH KARET UNGGUL DAN BERMUTU MELALUI OKULASI

PENGADAAN BENIH KARET UNGGUL DAN BERMUTU MELALUI OKULASI
Tanaman karet merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki prospek yang cerah karena mempunyai nilai ekonomi yang penting sebagai sumber devisa negara non migas. Indonesia sebagai salah satu produsen dan eksportir karet alam terbesar di dunia akan sangat menentukan ketersediaan karet di pasar global dunia. Meskipun luas perkebunan karet Indonesia telah meningkat secara stabil selama satu dekade terakhir namun produktivitasnya masih mengkhawatirkan. Hal ini dikarenakan perluasan areal tersebut tidak diimbangi dengan ketersediaan bibit unggul dan bermutu dilapangan. Penggunaan benih karet unggul merupakan modal dasar dalam menentukan keberhasilan usaha perkebunan karet. Akibat dari kesalahan dalam memilih benih, akan dirasakan oleh pekebun karet selama 25 tahun. Tanaman karet untuk dapat disadap memerlukan waktu yang cukup lama, yaitu 5 tahun. Pemilihan benih harus dipertimbangkan secara cermat karena adanya kekeliruan dalam pemilihan akan berdampak negatif terhadap perkebunan dan terhadap usaha karet alam nasional. Hingga saat ini pengadaan benih karet klonal dengan cara okulasi masih merupakan metode perbanyakan terbaik pada tanaman karet. Hal ini dikarenakan pertumbuhannya seragam, sifat mendekati induknya, variasi antar individu sangat kecil dan produktivitasnya lebih tinggi jika dibandingkan dengan perbanyakan menggunakan biji. Saat ini telah dikenal tiga jenis okulasi yaitu okulasi dini, okulasi hijau dan okulasi coklat. Perbedaan ketiga cara tersebut terletak pada umur batang bawah dan batang atas yang digunakan pada proses okulasinya. Okulasi Dini Okulasi dini menggunakan umur batang bawah 2-3 bulan, jaringan tanaman berwarna hijau, diameter batang 5 cm dari permukaan tanah sekitar 0,5 cm dan mata okulasi yang digunakan adalah mata sisik. Kelebihan teknik okulasi dini, bibit dapat diperoleh lebih cepat dibandingkan dengan teknik okulasi cokelat maupun okulasi hijau dengan mutu genetik dan fisiologis tetap tinggi serta biaya lebih murah hingga 61% dibandingkan dengan Teknik okulasi coklat. Akan tetapi di Indonesia, perbanyakan tanaman dengan teknik okulasi dini belum banyak diterapkan di lapangan. Hal ini dikarenakan persentase keberhasilan okulasi dini lebih rendah dibandingkan dengan okulasi hijau dan cokelat, waktu pelaksanaan okulasi lebih singkat sehingga perlu manajemen yang tepat terhadap pembibitan batang bawah, ketersediaan entres, dan tenaga okulator yang terampil. Waktu yang diperlukan untuk penyiapan bibit sejak perkecambahan biji di polibag atau di bedengan persemaian hingga bibit siap disalurkan (satu payung daun) adalah 6-8 bulan. Okulasi Hijau Okulasi hijau menggunakan umur batang bawah 4-6 bulan, jaringan tanaman berwarna hijau, diameter batang 5 cm dari permukaan tanah sekitar 1 – 1,5 cm, kayu yang digunakan untuk okulasi berwarna hijau berumur 4 – 6 bulan dan mata okulasi yang digunakan adalah mata sisik dan/atau mata daun. Okulasi hijau telah banyak diadopsi terutama di perkebunan besar. Perbanyakan tanaman dengan teknik okulasi hijau dapat mengatasi kendala pengolahan lahan yang tidak sempurna yang menyebabkan akar tunggang bengkok atau pendek, kesulitan memperoleh areal yang rata untuk pembibitan batang bawah, dan musim biji yang tidak sesuai dengan iklim untuk pembibitan di lapangan. Selain itu, okulasi hijau memiliki keuntungan yaitu mempersingkat pengadaan bahan tanam, akar terbentuk lebih sempurna, tidak memerlukan lahan yang luas dan biaya pemeliharaan yang lebih rendah dibandingkan dengan okulasi coklat. Waktu yang diperlukan untuk penyiapan bibit sejak perkecambahan biji di polibag atau di bedengan persemaian hingga bibit siap disalurkan (dua payung daun) adalah 7 - 9 bulan dengan keberhasilan hidup setelah 3 bulan tanam di lapangan tergolong tinggi yaitu 98%, waktu matang sadap 4-6 bulan lebih cepat. Okulasi coklat Okulasi coklat menggunakan umur batang bawah 8 - 12 bulan, jaringan tanaman berwarna coklat, diameter batang 5 cm dari permukaan tanah sekitar 2 cm, kayu yang digunakan untuk okulasi berwarna coklat berumur 8 – 12 bulan dan mata okulasi yang digunakan adalah mata daun. Okulasi coklat sering disebut juga okulasi konvensional. Waktu yang diperlukan untuk penyiapan bibit sejak perkecambahan biji di polibag atau di bedengan persemaian hingga bibit siap disalurkan lebih lama 4 bulan dibandingkan dengan okulasi hijau dan biaya perawatan untuk okulasi coklat lebih tinggi dinadingkan dengan okulasi dini dan okulasi hijau. Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Island Boerhendhy, 2013. Prospek Perbanyakan Bibit Karet Unggul Dengan Teknik Okulasi Dini. Jurnal Litbang Pertanian 32 (2), Juni 2013. Balai Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian Karet. Saefudin, 2013. Okulasi Hijau Sebagai Alternatif Pengadaan Benih Karet Unggul dan Bermutu. Medkom Perkebunan 1 (12), Desember 2013. Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar. Junaidi, Atminingsih dan Nurhawaty Siagian, 2014. Pengaruh Jenis Mata Entres dan Klon Terhadap Keberhasilan Okulasi dan Pertumbuhan Tunas Pada Okulasi Hijau di Polibag. Journal Penelitian Karet 32 (1), Februari 2014. Balai Penelitian Sungai Putih, Pusat Penelitian Karet.