Bila orang awam ditanya tentang Solanum tuberosum, umumnya orang hanya bengong karena mereka tidak mengenalnya. Nama yang lebih dikenal adalah kentang. Boleh dikata hampir semua orang mengenal nama kentang, mulai dari pedagang sayur, ibu rumah tangga sampai profesor,apalagi bagi petani. Diwaktu lampau, kentang hanya menjadi bahan makanan orang asing dan orang kaya dalam pesta-pesta. Namun, kini kentang telah menjadi bahan makanan masyarakat umum, baik untuk pesta mau pun makanan sehari-hari. Kentang goring yang disajikan restoran-restoran siap saji juga sangat popular dan sangat digemari oleh masyarakat. Bagi penderita penyakit gula atau diabetes mellitus, kentang sangat dianjurkan sebagai pengganti nasi. Ditinjau kandungan gizinya juga lumayan tinggi, terutama kandungan karbohidrat dan kalorinya. Menurut Direktorat Gizi, Departemen Kesehtan Republik Indonesia,1979 dalam Setijo Pitojo,2004;13, dalam 100 gram bahan mengandung karbohidrat 19,1 mg dan kalori 83 kalori. Oleh karena itu, komoditas hortikultura ini dapat dimanfaatkan untuk bahan diversifikasi pangan.Di Indonesia, kentang umumnya dibudidayakan di daerah dataran tinggi (pegunungan) dan dirotasikan dengan tanaman sayuran lainnya seperti kubis. Produksi kentang akan diperoleh hasil yang optimal tidak terlepas dari adanya pengairan atau penyiraman yang cukup. Sebab, dengan pengairan atau penyiraman yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan kentang, maka pertumbuhannya akan optimal sehingga umbi yang diperolehnya pun akan lebih banyak dengan mutu lebih baik dibandingkan dengan tanaman yang kekurangan atau kelebihan air.. Perlu diketahui, tanaman kentang sangat peka terhadap kekurangan air, terutama selama periode pembentukan umbi. Oleh karena itu, penyiraman atau pengairan harus dilakukan secara rutin dalam jumlah yang cukup dengan selang waktu 7 haris ekali, terutama pada musim kemarau. Pengairan Kentang tidak hanya membutuhkan unsur hara yang banyak, tetapi juga membutuhkan air yang banyak, tetapi bukan berarti lahan penanaman kentang tersebut menjadi becek. Untuk memenuhi air bagi tanaman kentang dapat dilakukan melalui pengairan, terutama pada musim kemarau. Pengairan adalah memberikan air untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tujuannya agar terpenuhi kebutuhan air bagi tanaman dan membantu penyerapan unsure hara dari dalam tanah oleh akar tanaman. Untuk melakukan pengairan bisa dilakukan dengan cara menyiram atau dilakukan dengan irigasi, terutama untuk penanaman kentang pada areal yang relatif luas. Penyiraman atau pemberian air irigasi hanya dilakukan apabila tanah dimana kentang tumbuh terlihat kering. Untuk menetapkan dengan pasti bahwa tanaman kekurangan air atau pun tidak ukur kelembaban tanahnya dengan alat ukur kelembaban tanah. Bila kelembabannya kurang dari yang dibutuhkan tanaman, maka diperlukan penyiraman atau diberi air irigasi. Perlu diingat, meski air dibutuhkan kentang dalam jumlah banyak, tetapi tidak boleh berlebihan yang menyebabkan tanahnya becek. Sebab, air yang kelewat banyak kualitas umbi yang dihasilkan menajdi jelek.. Contohnya, umbi yang dipanen dari lahan yang kebanyakan air , setelah dibiarkan beberapa hari umbinya menjadi keriput karena umbi banyak mengandung air. Dengan adanya penyiraman atau pengairan, maka pupuk yang ada akan larut ke dalam tanah mengikuti peresapan air yang akhirnya unsur hara yang larut dalam tanah akan diserap oleh akar tanaman untuk pertumbuhannya. Penyiraman dilakukan dengan menyemprot tanaman secara merata ke seluruh bagian tanaman sampai bagian tanaman yang ada di sebelah bawah (bagian tanaman yang terlindungi). Sedang pengairan melalui air irigasi terutama dilakukan pada areal yang luas pada musim kemarau. Pada prinsipnya air irigasi diberikan hanya untuk menjaga kelembaban tanah, terutama dalam proses penyerapan unsur hara. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang perlu disiapkan untuk penyiraman atau pengairan adalah : (1) Pompa air yang digunakan untuk memompa air dari sumber air (air tanah atau embung sungai); (2) Bak air/drum untuk menampung air; (3) Selang air/sprinkler/drip/emprat untuk mengalirkan air ke areal pertanaman. Caranya, air dari sumber air dipompa dengan menggunakan pompa air dan dialirkan dengan menggunakan selang ke areal pertanaman dengan sistem leb/geledeg atau menggunakan sprinkle. Pengairan dilakukan secara rutin sesuai dengan kebutuhan tanaman. Bisa juga dilakukan dengan sistem leb, yakni menggenangi tanaman sampai tanahnya basah dan segera dikeringkan kembali. Penggenangan sebaiknya tidak terlalu lama, karena bila terlalu lama terendam air tanaman bisa mati. Kelebihan sistem leb, hama ulat tanah dan orong-orong bisa ikut mati. Cara lain pemberian air ini adalah disiramkan dengan emrad (gembor). Penulis : Ir.Muchdat Widodo,MM Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Pengembangan SDM Pertanian Sumber : 1. Ir.Muchjidin Rachmat,MS. Standar Operasional Prosedur Budidaya Kentang Varietas Granola (Solanum tuberosum).Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka.Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, Jakarta,2010 2. Drs.H.Hendro Sunarjono. Petunjuk Praktis Budidaya Kentang.PT.Agro Media Pustaka, Jakarta Selatan,2004. 3. Setiaqdi dan Surya FitriNurulhuda. Kentang, Varietas dan Pembudidayaan. Penerbit PT. Penebar Swadaya, Jakarta 10610, 1994.