Loading...

Pengairan Intermittent (Pengairan Berselang Dan Alternate Wetting And Drying (Awd) Tanaman Padi Sawah

Pengairan Intermittent (Pengairan Berselang Dan Alternate Wetting And Drying (Awd) Tanaman Padi Sawah

Pengairan Intermittent (Pengairan Berselang

Dan Alternate Wetting And Drying (Awd) Tanaman Padi Sawah

 

Pertanian terus menghadapi tantangan baru, terutama terkait perubahan iklim dan keterbatasan air. Karena itu, berbagai upaya mulai dilakukan agar proses budidaya bisa berjalan lebih efisien, tanpa mengorbankan hasil panen maupun lingkungan.

Salah satu metode yang mulai banyak dilirik adalah AWD (Alternate Wetting and Drying), teknik irigasi hemat air yang dapat diterapkan untuk tanaman padi.

INTERMITTENT IRRIGATION/Irigasi Berselang dan AWD/Pengairan Basah Kering

v  Pengairan berselang (intermittent irrigation) adalah pengaturan kondisi lahan dalam kondisi kering dan tergenang secara bergantian/kapan lahan digenaingi dan kapan mengeringkan sawah.

v  Pengairan basah kering (AWD) Adalah Pengairan dengan sistem  basah kering bergantian, Dimana genangan air disawah tidak dipertahankan terus-menerus, melainkan dikeringkan hingga batas aman lalu diairi Kembali.

Apa Itu Metode AWD dan Kenapa Penting untuk Pertanian?

AWD (Alternate Wetting and Drying) adalah metode pengairan sawah yang dilakukan secara berkala. Jadi, sawah tidak terus-menerus digenangi, tanah dibiarkan agak mengering selama beberapa hari, lalu diairi kembali sesuai kebutuhan tanaman. Teknik ini cukup sederhana, tapi dapat menimbulkan dampak besar terutama dalam konteks efisiensi air dan pengurangan emisi.

Beberapa manfaat dari penerapan metode AWD di lahan sawah antara lain:

1.     Mengurangi emisi metana hingga 49%, yang artinya lebih ramah bagi lingkungan.

2.     Menghemat air irigasi 15–35%, tanpa mengganggu pertumbuhan tanaman

3.     Produktivitas tetap terjaga, jadi petani tetap bisa panen dengan hasil optimal.

4.     Mendukung rotasi tanaman dan intensifikasi lahan, sehingga tanah bisa dimanfaatkan lebih optimal.

Dengan berbagai keunggulan ini, AWD bisa jadi salah satu pilihan untuk mendorong pertanian yang lebih hemat, efisien, dan tetap berpihak pada lingkungan.

Prinsip Pengairan Basah Kering prinsip dari penerapan PBK adalah memonitor kedalaman air dengan menggunakan alat bantu berupa pipa. Setelah lahan sawah diairi, kedalaman air akan menurun secara gradual. Ketika kedalaman air mencapai 15 cm di bawah permukaan tanah, lahan sawah kembali diairi sampai ketinggian sekitar 5 cm. Pada waktu tanaman padi berbunga, tinggi genangan air dipertahankan 5 cm untuk menghindari stress air yang berpotensi menurunkan hasil. Batas kedalaman air 15 cm ini dikenal dengan PBK aman (safe AWD) yang bermakna bahwa kedalaman air sampai batas tersebut tidak akan menyebabkan penurunan hasil yang signifikan karena akar tanaman padi masih mampu menyerap air dari zona perakaran. Setelah itu, pada fase pengisian dan pemasakan, PBK dapat dilakukan kembali. Apabila terdapat banyak gulma pada saat awal pertumbuhan, PBK dapat ditunda 2 sampai 3 minggu sampai gulma dapat ditekan. 

PELAKSANAAN ALTERNATE WETTING AND DRYING

 

Pipa berlubang sebagai alat bantu Pipa paralon (PVC) bisa digunakan sebagai alat teknologi PBK untuk mengamati air di bawah permukaan. Pipa bisa diganti dengan bahan lain seperti bambu atau bahan lainnya. Banyaknya alat yang diperlukan tergantung pada tofografi lahan, satu alat bisa mewakili luasan 500 m2, sedangkan pada kemiringan 3 – 5% satu unit alat mewakili 100 m2. Pipa berukuran 35 cm dibenamkan sedalam 20 cm, sehingga tinggi pipa dari permukaan tanah adalah 15 cm, kemudian tanah di dalam pipa dikeluarkan. Untuk tahapan pengkajian atau uji coba, petani memonitor/mengukur kedalaman air di dalam pipa setiap interval waktu 2 hari dan melakukan teknik basah kering (pengairan lahan sawah) sesuai dengan prinsif PBK. Setelah petani percaya PBK tidak menurunkan hasil secara nyata, pipa yang dibenamkan cukup 15 cm sesuai dengan PBK aman dan tidak perlu lagi mengukur dengan mistar. Petani pun bisa mencoba mengubah batas PBK aman yakni dengan menambah batas kedalaman muka air untuk diairi misalnya 20 cm, 25 cm, dan 30 cm.

Cara pengamatan alat AWD

v   Pengamatan kondisi air dilakukan mulai tanam hingga 1(satu) minggu sebelum                            tanaman berbunga.

v   Waktu pengamatan yaitu pagi hari cukup satu kali.

v   Untuk mengamati perubahan tinggi air dalam selinder dibutuhkan mistar (30 cm)     dan  ajir bambu.

v   Ajir bambu dimasukkan kedalam selinder selanjutnya diangkat dan bagian yang  basah diukur dengan mistar.

v   Apabila posisi air diatas permukaan tanah maka pengukuran bernilai positif dan bila berada dibawah permukaan tanah bernilai negatif.

v   Waktu pemberian air dilakukan setelah air dalam selinder turun sampai 15 cm dari permukaan  tanah.

          Apabila terjadi hujan dan mengakibatkan tinggi air dalam selinder lebih dari 5 cm maka dilakukan pembuangan air

Jumlah tabung per satuan luas

Jumlah tabung silinder yang dianggap mewakili untuk  luasan 0,25 ha pada daerah datar adalah 1 buah ( 4 buah per ha) dan jika lahannya memiliki kemiringan 5 %, gunakan 2 alat  untuk luas lahan yang sama berarti 8 buah per ha nya.

Cara Peletakan/Pemasangan

Tabung silinder dipasang pada jarak 50 - 75 cm dari pematang.

 

Sumber :

https://distan.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/pengairan-53

https://eratani.co.id/blog/article/read/Mengenal-AWD-Metode-Irigasi-Padi-yang-Efisien-dan-Ramah-Lingkungan

https://www.kampustani.com/teknologi-hemat-air-dalam-budidaya-padi-sawah/