Loading...

PENGATURAN SIKLUS BERTELUR AYAM BURAS

PENGATURAN SIKLUS BERTELUR AYAM BURAS
Ayam Bukan Ras (BURAS) atau ayam kampung banyak dijumpai di daerah pedesaan dan hampir setiap rumah tangga memeliharanya. Hal ini disebabkan pemeliharaan ayam buras relatif mudah dan tidak membutuhkan modal besar, dapat beradaptasi dengan lingkungan dan mampu memanfaatkan limbah serta dapat diusahakan oleh setiap lapisan masyarakat tanpa mengganggu lahan usaha tani lainnya. Produksi telur ayam kampung lebih rendah dari ayam ras, yaitu 50 butir per ekor per tahun untuk sistem pemeliharaan secara semi intensif. Untuk meningkatkan jumlah produksi beberapa cara dapat dilakukan dengan cara penetasan telur dengan mesin tetas atau dengan induk entok (itik manila). Telur-telur yang ada di sangkar diambil dan dimasukkan ke dalam sangkar entok yang sudah siap mengeram atau dipindahkan ke dalam mesin tetas, sehingga kalau induk ayam mau mengerami telur di sangkarnya tidak jadi karena sangkarnya kosong. Induk ayam yang mulai mengeram kemudian dipegang dan dimandikan setiap hari dengan tujuan untuk menghilangkan sifat mengeram induk ayam secepat mungkin. Biasanya induk ayam yang diperlukan seperti ini sifat mengeramnya lama kelamaan menghilang, 2-3 minggu setelah sifat mengeram menghilang maka babon akan memperlihatkan sifat berahinya dan akan bertelur kembali. Langkah ini dilakukan bertujuan agar dapat dihasilkan telur yang lebih banyak. Dengan metode ini diharapkan siklus bertelur induk ayam buras dapat mencapai 9 kali per tahun, dengan produksi telur dapat mencapai ± 115 butir per ekor per tahun dengan asumsi produksi telur per periode bertelur rata-rata 13 butir atau dapat menghasilkan ± 72 ekor anak ayam per tahun apabila setiap kali periode bertelur ditetaskan dan diasumsikan menetas 8 ekor . Ini berarti bahwa ayam buras mampu menghasilkan anak ayam lebih banyak bila dikehendaki. Sumber : Buku Petunjuk Teknis Beternak Ayam Buras Penulis : Hamzar, SP