Loading...

Pengelolaan Air Pada Lahan Gambut Untuk Pertanian Berkelanjutan

Pengelolaan Air Pada Lahan Gambut Untuk Pertanian Berkelanjutan

I.  Mengenal Lahan Gambut dan Karakteristiknya

Lahan gambut adalah tanah yang terbentuk dari timbunan sisa-sisa tumbuhan yang mati dan tidak terurai sempurna akibat kondisi genangan air (anaerob).

 

A.     Karakteristik Kunci

Karakteristik

Implikasi untuk Pengelolaan Air

Kadar Bahan Organik Tinggi

Gambut sangat rentan terhadap penyusutan (subsiden) jika dikeringkan.

Sangat Poros

Mampu menahan air, namun mudah mengering saat permukaan air turun.

Tingkat Keasaman Tinggi (pH rendah)

Membutuhkan tata kelola air dan pemupukan yang cermat.

Titik Bakar Rendah

Jika kering, sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan (kebakaran bawah permukaan).

 

B. Ancaman Utama Akibat Pengelolaan Air yang Salah

1.      Subsiden (Penurunan Permukaan Tanah): Terjadi ketika gambut teroksidasi karena kontak dengan udara (kering). Penurunan bisa mencapai 5-10 cm per tahun.

2.      Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla): Kekeringan membuat gambut menjadi bahan bakar yang sangat efektif.

3.      Kekeringan Irreversibel: Gambut kering sulit dibasahi kembali, mengganggu pertumbuhan tanaman. 

II. Prinsip Utama Konservasi Air Gambut

Tujuan utama pengelolaan air di lahan gambut adalah "Membasahi Gambut, Bukan Mengeringkannya" dan mempertahankan ketinggian muka air tanah (MAT).

1. Pertahankan Ketinggian Muka Air Tanah (MAT)

·         MAT Ideal: Jaga MAT agar selalu berada pada kedalaman tidak lebih dari 40 cm dari permukaan tanah.

Catatan: Kedalaman > 40 cm memicu proses oksidasi dan subsiden.

·         Musim Hujan: MAT dijaga pada 0-20 cm.

·         Musim Kemarau: MAT dijaga pada 30-40 cm.

2. Konsep Zero Run-off (Minimalkan Aliran Keluar)

·         Meminimalkan air yang terbuang ke luar sistem lahan, terutama saat musim kemarau.

·         Air hujan harus ditahan di dalam lahan untuk mengisi kembali cadangan air gambut.

3. Pemanfaatan Rewetting (Pembasahan Kembali)

·         Program pembasahan kembali harus dilakukan pada lahan gambut yang telah terdegradasi untuk memulihkan kelembaban. 

III. Teknologi Pengelolaan Air Gambut Berkelanjutan

Pengelolaan air terpadu harus melibatkan teknik sipil (infrastruktur) dan teknik budidaya.

A. Infrastruktur Pengendali Air

Teknologi

Fungsi dan Penerapan

Sistem Kanal Berskat (Tabat/Dam)

Membangun sekat (bendungan kecil) di parit/kanal utama untuk menahan air agar tidak terbuang.

Pintu Air Terkendali

Memasang pintu di saluran primer untuk mengatur ketinggian air sesuai kebutuhan musim dan tanaman.

Sumur Bor Dangkal/Sumur Pantau

Digunakan sebagai alat ukur untuk memantau MAT secara berkala (wajib ada di setiap blok).

Kolam Retensi/Penampungan

Membuat cekungan di lahan untuk menampung air hujan dan sumber air lainnya untuk cadangan saat kemarau.

 

B. Teknik Budidaya Ramah Gambut

1.   Sistem Surjan: Budidaya dengan membuat saluran air/parit dan bedengan yang lebih tinggi. Tanaman air di parit, tanaman darat di bedengan.

2.   Penanaman Tanaman Air: Menanam jenis tanaman yang membantu menahan air dan meminimalkan penguapan di parit, seperti eceng gondok (jika dikelola) atau tanaman lokal yang sesuai.

3.   Pemberian Bahan Amelioran: Menggunakan kapur pertanian (dolomit) dan bahan organik lain untuk menaikkan pH dan memperbaiki sifat fisik/kimia gambut.

4.   Teknik Irigasi Efisien: Gunakan irigasi lokal seperti tetes (drip) atau sprinkler mikro, bukan irigasi genangan yang boros.

 

IV. Pencegahan Karhutla Melalui Pengelolaan Air

Pengelolaan air adalah garis pertahanan pertama dalam pencegahan Karhutla.

1.      Siaga MAT: Pastikan MAT tidak pernah turun di bawah ambang batas kritis (40 cm), terutama saat musim kemarau panjang.

2.      Pembentukan Tim Pemantau: Bentuk kelompok tani atau tim siaga kebakaran yang bertugas memantau MAT dan kelembaban gambut.

3.      Membuat Sekat Bakar: Membuat batas berupa parit atau saluran air yang selalu terisi air di sekeliling area pertanian.

4.      Larangan Pembukaan Lahan dengan Bakar: Penggunaan api untuk membersihkan lahan adalah TIDAK DIIZINKAN karena risiko Karhutla sangat tinggi. 

V.  Kesimpulan dan Komitmen

Pertanian berkelanjutan di lahan gambut adalah tentang KESEIMBANGAN. Kita perlu air untuk tanaman, tetapi kita harus membatasi air yang keluar agar gambut tetap basah dan tidak teroksidasi.

Kunci Sukses: Jaga Muka Air Tanah (MAT) selalu di atas 40 cm.