Pemerintah telah mencanangkan swasembada tiga komoditas pangan yang diharapkan dapat terwujud hingga tahun 2015. Ketiga komoditas tersebut adalah padi, jagung, dan kedelai. Khusus untuk jagung, swasembada telah dapat dicapai dan wajib dipertahankan. Target produksi yang diharapkan adakalanya tidak dapat dicapai karena adanya berbagai kendala. Swastika et al. (2004) melaporkan bahwa kendala yang sering dihadapi dalam peningkatan produksi jagung adalah (1) social ekonomi yang mencakup mahalnya input (benih dan pupuk), rendahnya harga output (hasil), infrastruktur yang sedikit dan rendahnya daya beli; (2) rendahnya adopsi teknologi dan lemahnya sistem pemasaran yang terindikasi dari sulitnya mendapatkan kredit dan pasar; (3) rendahnya kesuburan tanah, sekitar 89% tanaman jagung di Indonesia diusahakan di lahan kering dengan tingkat kesuburan yang rendah; dan (4) kendala abiotik dan biotik. Kendala abiotik disebabkan oleh rendahnya ketersediaan hara di tanah, sementara ken da la biotik meliputi gangguan yang disebabkan oleh organisme pengganggu tanaman (OPT) yang terdiri atas gulma, hama, dan penyakit (Subandi et al. 1988). Salah satu ha ma jagung yang menyerang adalah Kutu Daun pada Jagung (Aphis maidis). Kutu daun membentuk koloni yang besar pada daun. Betina berproduksi secara partenoge nesis (tanpa kawin). Umumnya, stadia nimfa terdiri atas empat instar (Kring 1985). Stadium nimfa terjadi selama 16 hari pada suhu 15oC, sembilan hari pada suhu 20oC, dan lima hari pada suhu 30oC. Seekor betina (Gambar 15) yang tidak bersayap mampu melahirkan rata-rata 68,2 ekor nimfa, sementara betina bersayap melahirkan 49 nimfa (Adam and Drew 1964). Lama hidup imago adalah 4-12 hari (Ganguli and Raychaudhuri 1980). Ketiadaan fase telur di luar tubuh A. maidis betina karena proses inkubasi dan penetasan terjadi dalam alat re produksi betina dan diduga telur tidak mampu bertahan pada semua kondisi lingkung an. Serangga ini lebih menyukai suhu yang hangat. Mau dan Kessing (1992) melaporkan bahwa imago lebih aktif di lapangan pada suhu 17o dan 27oC. Gejala Serangan A. maidis dalam kelompok yang besar mengisap cairan daun dan batang, akibatnya warna dan bentuk daun tidak normal yang pada akhirnya tanaman mengering Kutu da un ini menghasilkan honeydew yang dikeluarkan melalui sersinya, sehingga memben tuk embun jelaga berwarna hitam yang menutupi daun sehingga menghalangi proses fotosintesis. Pengendalian Hayati A. maidis dan Lysiphlebus mirzai (Famili: Braconidae) diketahui berpotensi sebagai parasitoid hama ini (Mau and Kessing 1992, Tripathi and Singh 1995). Coccinella sp. dan Micraspis sp. juga dapat dimanfaatkan sebagai predator. Kultur Teknis Trujillo and Altieri (1990) menyarankan penanaman jagung secara polikultur karena akan meningkatkan predasi dari predator kutu daun dibandingkan dengan penanaman secara monokultur. Kimiawi Kutu daun mudah dikendalikan dengan menggunakan insektisida kontak atau sistemik. Insektisida granular sering dipakai untuk mengendalikan hama ini pada tanaman sereali a. Insektisida seperti malathion lebih disenangi karena lebih sedikit pengaruhnya terha dap populasi musuh alami . Selain itu, dimethoate dan methyl dimeton juga efektif untuk mengendalikan A. maidis pada jagung. Penulis: Yulia TS Email : yuliatrisedyowati@yahoo.co .id Sumber: Pabbage et al.: Pengelolaan Hama Prapanen Jagung http://www.google.co.id/images?kutu+daun