Swasembada Jagung telah berhasil dicapai dan perlu untuk dipertahankan. Banyak kendala yang sering mengganggu peningkatan produksi. Menurur Swastika 2004 yang sering menjadikan kendala yaitu(1) social ekonomi yang mencakup mahalnya input (be nih dan pupuk), rendahnya harga output (hasil), infrastruktur yang sedikit dan rendah nya daya beli; (2) rendahnya adopsi teknologi dan lemahnya sistem pemasaran yang terindikasi dari sulitnya mendapatkan kredit dan pasar; (3) rendahnya kesuburan tanah, sekitar 89% tanaman jagung di Indonesia diusahakan dilahan kering dengan tingkat ke suburan yang rendah; dan (4) kendala abiotik dan biotik. Kendala abiotik disebabkan oleh rendahnya ketersediaan hara di tanah, sementara ken dala biotik meliputi gangguan yang disebabkan oleh organisme pengganggu tanaman (OPT) yang terdiri atas gulma, hama, dan penyakit (Subandi et al. 1988). Salah satu ha ma yang suka menyerang jagung adalah Hama Penggerek Batang Merah Jambu.Serangga ini merupakan hama tanaman jagung, padi, dan tebu di AsiaTengga ra, Cina, dan Jepang. Di Indonesia serangga ini dapat pula hidup pada rumput dan teki seperti Andropogon, Eleusine, Panicum, Phraqmites, Saccharum, dan Scripus. Penggerek batang merah jambu umumnya ditemukan di daerah dengan musim kemarau yang jelas seperti Jawa Timur, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Hama ini memiliki tiga generasi per tahun jika berada pada daerah subtropis, sedang kan pada daerah tropis mempunyai enam generasi. Telur diletakkan secara berkelom- pok dalam barisan di pelapah daun biasanya 3-8 baris. Telur generasi pertama terdiri atas 75-100 butir. Rata-rata fekunditi betina adalah 250 telur. Seekor imago betina mampu meletakkan telur 300-400 butir. Imago betina meletakkan bebe -rapa generasi telur dalam beberapa minggu. Untuk generasi kedua, serangga betina akan meletakkan telur lebih banyak. Betina berkopulasi hanya sekali dengan masa inkubasi 6-10 hari atau rata-rata 7-8 hari pada daerah tropis . Larva terdiri atas enam atau tujuh instar dan adakalanya delapan instar dengan stadium larva berkisar antara 28-56 hari atau rata-rata lima minggu Gambar 7. Kelompok telur dalam barisan (a) dan larva S. inferens di daerah tropik. Instar I adalah instar dengan masa perkembangan yang lama, yaitu delapan hari dan instar II-V rata-rata 3-5 hari setiap instarnya, sementara instar VI tujuh hari, dan instar VII rata-rata 13 hari Larva berwarna merah jambu. Masa prapupa sekitar lima jam dan stadia pupa 8-11 hari Proses keluarnya imago dari pupa berlangsung selama 25 menit. Sayap akan tetap keli pat selama 10 menit dan kemudian membuka secara sempurna. Imago akan terbang secara sempurna empat hari setelah keluar dari pupa. Jarak terbang yang bisa ditem puh oleh seekor betina dan jantan masing-masing lebih dari 32 dan 50 km. Proses kawin dan meletakkan telur dapat terjadi 24 jam setelah keluar dari pupa. Gejala Serangan Gejala serangan mirip dengan gejala serangan penggerek batang O.furnacalis, teruta ma saat menyerang batang. Larva akan melubangi batang dan menggoroknya ke bagi an atas sehingga batang mudah patah. Pengendalian Hayati Platytelemonus sp. telah tercatat sebagai parasitoid telur S. inferens di Sulawesi Selat an, sedangkan Braconidae dan Tetrastichus israeli merupakan parasitoid larva dan pupa. Larva juga dapat diinfeksi oleh cendawan B.bassiana dan nematoda Neoplectana carpocapsae (Kalshoven 1981). Pola Tanam Penanaman serempak dan pergiliran tanaman dengan bukan jagung, padi,dan tebu dapat mengurangi serangan hama ini. Mekanik Pengambilan langsung dengan tangan dapat dilakukan jika biaya tenaga kerja cukup murah. Dapat pula dilakukan roguing pada tanaman jagung yang batangnya telah terserang. Kimiawi Larva menyerang terutama pada batang sehingga aplikasi insektisida sebaiknya dilaku kan sebelum larva masuk ke dalam batang, yaitu setelah adanya kelompok telur di bagi an bawah daun pada saat menjelang berbunga. Insektisida yang dapat digunakan anta ra lain adalah yang berbahan aktif monokrotofos. Penulis: Yulia TS Email : yuliatrisedyowati@yahoo.co .id