Loading...

PENGELOLAAN KESUBURAN TANAH GAMBUT

PENGELOLAAN KESUBURAN TANAH GAMBUT
Gambut merupakan termasuk lahan yang potensial, terutama yang ada di Sumatera, Kalimantan dan Papua. Lahan tersebut harus dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas. Indonesia memiliki banyak tanah gambut, maka harus dikelola dengan baik agar dapat menghasilkan produksi pertanian yang maksimal. Ciri dari keberhasilan pembangunan pertanian yaitu ada di peningkatan produksi yang merupakan andalan dari perekonomian nasional terutama pada saat adanya wabah covid19. Tanah Gambut adalah bahan organik yang tertimbun secara alami, memiliki kondisi basah berlebihan, tidak mampat dan terbentuk dalam kondisi masam. Gambut memiliki ketebalan diatas 50 cm. Tanah gambut memiliki lebih dari 30% bahan organik dan fraksi mineral mengandung 60% lempung. Faktor yang mempengaruhi pembentukan gambut yaitu: 1) Sumber dan neraca air, 2) Kandungan mineral dalam air, 3) Iklim (curah hujan, suhu, kelembaban), 4) Tutupan vegetasi (kepadatan, jenis), 5) Pengelolaan setelah drainase. Fungsi lahan gambut dari sisi konservasi yaitu mampu memgang air 5-30 kali lebih kuat. Fungsi lahan gambut dari sisi produksi yaitu sebagai sumber pangan, buah-buahan, sayuran dan wisata. Fungsi lahan gambut dari sisi lingkungan yaitu sebagai penyangga dan tempat hidupnya aneka satwa dan tumbuhan. Karakteristik kima gambut yaitu pH nya masam, sedangkan Basa, NPK dan kadar abu rendah. Karakteristik fisik gambut yaitu daya simpan air besar dan berat volume. Karakteristik biologi gambut yaitu kepadatan populasi mikrobiologi lebih rendah. Tindakan manusia yang mengakibatkan kemunduran atau perubahan lahan gambut, yaitu pengelolaan air yang salah, pembakaran lahan, penebangan pohon dan penambangan. Jika gambut terdegradasi maka akan terjadi banjir, kekeringan, kebakaran, produktivitas menurun dan terlantar. Pengelolaan kesuburan lahan gambut harus dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan serta mengurangi kerusakan lingkungan. Fungsi pengelolaan air yaitu 1) menjamin kebutuhan tanaman, 2) menciptakan kondisi aerasi mikroorganisme, 3) mengendalikan reaksi kimia, 4) memperbaiki perkembangan perakaran, 5) mencuci unsur-unsur/senyawa beracun, 6) mengendalikan perkembangan gulma. Manfaat pengelolaan air yaitu 1) mencegah/mengurangi risiko banjir, 2) mencegah/mengurangi risiko kekeringan, 3) mencegah/mengurangi risiko subsidensi, 4) meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemupukan, 5) menurunkan kadar asam-asam organik, 6) menciptakan kondisi ideal bagi tanaman. Lahan gambut adalah potensi pertanian masa depan, namun bisa mengalami perubahan dikarenakan pengelolaan yang tidak berimbang. Kecepatan pembentukan gambut adalah 0,1 mm per tahun, maka perlu waktu yang lama untuk memulihkannya. Kondisi tanah gambut tidak boleh basah, karena dapat mengurangi efektivitas penggunaan kapur maka dikeluarkan terlebih dahulu airnya selama 1 minggu lalu diberikan kapur. Air asin berpengaruh terhadap malai padi, akan rendah. Maka harus mengatur jadwal tanam agar air ini tidak terjadi sebelum malai keluar. Solusi lain yaitu dapat menggunakan varietas yang tahan terhadap air asin. Jika ada gunung berapi di sekitarnya maka akan menyumbangkan kesuburannya. Umur tanah gambut juga bepengaruh, makin tua maka makin subur. Bahan organik yang ada di lahan gambut tidak aktif. Tanah bergambut karena kedalamannya sudah kurang dari 50 cm. Tanah di bawah gambut adalah tanah mineral yang mengandung pirit. Ketika menanam maka saat vegetatifnya bagus karena masih banyak air. Usahakan air tetap tergenang di atas pirit. Lahan berbentuk cekungan dan berada di daerah sungai bisa dipetakan agar air bisa keluar dan di daerah lain bisa ditanami dengan baik. Bisa juga digunakan dengan sistem hidroponik namun harus menambahkan unsur hara dan menggunakan air yang lain (airnya diganti). Kiat atau modifikasi olah tanah penanaman jagung pakan ternak pada lahan gambut dapat dilakukan namun perlu diperhatikan terlebih dahulu karakteristik lahan gambutnya, karena lahan gambut memiliki karkteristik yang berbeda-beda. Lahan gambut banyak mengandung bahan organik yang sudah terurai sehingga tanah menjadi masam akibatnya tanaman tidak berkembang dengan baik. Hasil penelitian Balitra tentang budidaya sayuran di lahan gambut, penggunaan pembenah tanah organik cair dapat digunakan dalam proses kelola subur tanah gambut asal dengan dosis dan waktu yang tepat. Benih padi yang direkomendasikan untuk lahan gambut yang toleran dengan pirit tidak ada, namun toleran kepada kemasaman ada yaitu impara 2 3 dan 4 dan harus diintegrasikan dengan pengelolaan air yang baik. Sumber Materi MSPP volume 31 dan sumber lainnya, (Lilik Winarti Penyuluh Pertanian)