Loading...

Pengelolaan lahan kering Untuk Pengembangan pertanian tanaman pangan

Pengelolaan lahan kering Untuk Pengembangan pertanian tanaman pangan
Penurunan produksi bahan pangan nasional yang dirasakan saat ini lebih disebabkan oleh semakin sempitnya luas lahan pertanian yang produktif (terutama di pulau Jawa) sebagai akibat alih fungsi seperti konversi lahan sawah. Salah satu alternative pilihan yang diharapkan dapat meningkatkan potensi produksi tanaman dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan adalah pendayagunaan lahan kering. Selain karena memang tersedia cukup luas, sebagian dari lahan kering belum diusahakan secara optimal sehingga memungkinkan peluang dalam pengembangannya. Seperti diketahui, pembangunan pertanian di Indonesia selama ini terfokus pada peningkatan produksi pangan, terutama beras. Usaha intensifikasi pertanian di lahan sawah lebih efektif apabila dibandingkan dengan lahan kering, sehingga wajar kalau lahan sawah memberikan sumbangan yang paling besar terhadap tingginya peranan subsector tanaman pangan sebagai bagian dari sector pertanian. Sebaliknya, ciri usahatani bukan sawah ternyata telah menyebabkan kurang diprioritaskannya pertanian lahan kering di dalam proses peningkatan produksi pangan. Namun, dengan semakin meningkatnya alihfungsi lahan, disinyalir peluang penggunaan lahan sawah untuk usaha pertanian makin hari makin menyempit sehingga pengalihan usaha ke lahan kering makin terasa diperlukan. Selain alih fungsi, lahan sawah yang selama ini sudah terlanjur dianggap sebagai tulang punggung pertanian dan penghasil pangan nasional, nampaknya sudah mulai sakit-sakitan karena jenuh oleh masukan pupuk buatan/kimia yang berlebih dalam rangka memacu pemenuhan produksi beras. Dalam kaitannya dengan memposisikan lahan kering sebagai sumberdaya pertanian masa depan, maka pemanfaatan lahan kering perlu diperluas dan lebih memberikan aspek penting, utamanya untuk pengembangan pertanian tanaman pangan sebagai penopang kehidupan bagi masyarakat dengan tetap menjaga peranannya sebagai stabilisasi dan peningkatan fungsi ekosistem. Dari total luas lahan kering yang ada, sebagian besar terdapat didataran rendah dan sesuai untuk budidaya pertanian penghasil bahan pangan (seperti padi gogo, jagung, kedele, kacang tanah). Lahan kering di luar Jawa yang memiliki lahan sangat luas dan belum banyak dimanfaatkan (kurangdari10%) (SoepardidanRumawas, 1980). Dari sebagian Luasan lahan kering yang tidakdiusahakan secara optimal, dapat menjadi alternatif pilihan dan merupakan peluang untuk pengembangannya, mengingat selama ini potensi itu terkesan seperti terabaikan. Data terbaru, menyebutkan Indonesia memiliki lahan kering sekitar 148 juta ha (78%) dan lahan basah (wetlands) seluas 40, 20 juta ha (22%) dari 188, 20 juta ha total luas daratan (Abdulrachman,etal.2005). Upaya strategis dalam pengelolaan lahan kering agar dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pertanian secara optimal mengalami beberapa kendala antara lain: 1. Sebagian besar lahan kering tingkat kesuburannya rendah dan sumber pengairan terbatas kecuali dari curah hujan yang distribusinya tidak bias dikendalikan sesuai dengan kebutuhan. 2. Topografi umumnya tidak datar, berada di daerah lereng dan perbukitan, memiliki tingkat erosi relative tinggi yang berpotensi untuk menimbulkan degradasi kesuburan lahan. 3. Infrastruktur ekonomi tidak sebaik di lahan sawah. 4. Keterbatasan biofisik lahan, penguasaan lahan petani, dan infrastruktur ekonomi menyebabkan teknologi usahatani relatif mahal bagi petani lahan kering. 5. Kualitas lahan dan penerapan teknologi yang terbatas menyebabkan variabilitas produksi pertanian lahan kering relatif tinggi. Beberapa tindakan untuk menanggulangi factor pembatas biofisik lahan, sudah barang tentu diperlukan sentuhan inovasi teknologi guna meningkatkan produktivitasnya. Teknologi pengelolaan lahan kering yang umum dilakukan meliputi : a.Tindakan konservasi tanah dan air, b.Pengelolaan kesuburan tanah (pengapuran/pemberiankapur, pemupukan dan penambahan bahan organik), c.Pemilihan jenis tanaman pangan (tanaman berumur pendek tahan kekeringan merupakan pilihan yang tepat) Ruslia Atmaja Sumber : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Bogor - Badan Litbang Kementan