Loading...

Pengelolaan produk samping Tanaman Padi

Pengelolaan produk samping Tanaman Padi
Di Indonesia, jerami padi belum dinilai sebagai produk yang memiliki nilai ekonomis. Pada sistem usaha tani yang intensif jerami sering dianggap sebagai sisa tanaman yang mengganggu pengolahan tanah dan penanaman padi. Oleh karena itu, 75-80% petani membakar jerami di tempat, beberapa hari setelah padi dipanen. Sebagian petani memotong jerami dan menimbunnya di pinggir petakan sawah, kemudian membakarnya. Tujuan utama petani membakar jerami adalah untuk menyingkirkan jerami dari petakan sawah dengan cara yang praktis. Perhitungan untung rugi atas tindakan pembakaran jerami belum dipertimbangkan. Padahal kalau Produk samping tanaman padi tersebut dikelola dengan baik akan memberikan peran pada kesuburan tanah. Penggunaan residu tanaman sebagai pupuk organik dapat memperbaiki struktur tanah terutama pada lahan marjinal sehingga mampu memberikan daya dukung yang lebih bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Setelah padi dipanen dan gabah digiling menjadi beras akan menyisakan jerami dan sekam. Jerami padi biasanya dikembalikan ke lahan sawah atau dibakar. Apabila sisa tanaman padi ini dimasukkan ke dalam tanah jenuh air, maka akan terbentuk gas metan hasil dekomposisi. Akan tetapi apabila jerami dan sekam padi dibakar, metan dan asap yang terbentuk mengandung CO2 dan CO yang juga berkontribusi terhadap perubahan iklim karena akibat pembakaran jerami dapat meningkatkan suhu udara dipermukaan tanah mencapai 700oC, sehingga dapat memusnahkan mikroba yang berguna dalam proses biologis, seperti perombak bahan organik, pengikat nitrogen dan mikroba yang memiliki fungsi biologis lain, disamping beberapa jenis hara juga akan hilang akibat pengaruh suhu tinggi pada saat pembakaran jerami. Jumlah jerami padi memang cukup banyak tergantung pada luas pertanamannya. Perbandingan antara bobot gabah yang dipanen dengan jerami (grain straw ratio) pada saat panen padi umumnya 2 : 3. Dari satu hektar lahan sawah dihasilkan 5-8 ton jerami, tergantung pada varietas yang ditanam dan tingkat kesuburan tanah. Kalau produksi gabah nasional 54 juta ton pada tahun 2007, berarti terdapat 80 juta ton jerami pada tahun tersebut. Jerami padi merupakan sumber bahan organik yang potensial, relatif murah dan mudah didapat. Pengangkutan jerami keluar petakan sawah berarti kehilangan hara secara permanen dari lahan yang bersangkutan. Praktek yang demikian menguruskan tanah dan memiskinkan kandungan bahan organik tanah. Dengan dikembangkannya konsep pertanian ramah lingkungan seperti pertanian organik, SRI (System Rice Intensification), PTT (Pengelolaan tanaman dan sumber daya terpadu), dan agroekoteknologi, sudah selayaknya jerami didaur ulang di tempat asalnya (in situ), sehingga terjadi sistem pertanian nirproduk samping (zero waste rice production system). Manfaat jerami perlu digali dan dikembangkan menjadi barang berharga mengingat potensinya yang sangat besar dan tidak akan habis-habisnya. Penggunaan jerami segar secara langsung akan mengganggu terhadap awal pertumbuhan tanaman dan menyulitkan pengolahan tanah. Namun demikian karena kadar selulosa dan lignin cukup tinggi sehingga akan memerlukan waktu pelapukan yang cukup lama kalau dibiarkan secara alamiah. Jerami segar memiliki nisbah C/N lebih besar dari 30. Bila nisbah C/N lebih besar dari 30 akan terjadi proses immobilisasi N oleh jasad renik untuk memenuhi kebutuhan akan unsur N. Sumbangan hara dari jerami padi ke tanah bergantung pada bobot komposisi hara jerami, pengelolaan dan rejim air tanah. Bobot biomas juga tergantung pada rejim air,musim, varietas, kesuburan tanah, dan nisbah gabah /jerami. Jerami padi dapat digunakan sebagai sumber hara K, karena sekitar 80% K yang diserap tanaman berada dalam jerami. Oleh karena itu, jerami berpotensi sebagai pengganti pupuk K anorganik. Jerami selain dapat menggantikan pupuk K pada tanaman tertentu, juga berperan penting dalam memperbaiki produktivitas tanah sawah yang dapat meningkatkan efesiensi pupuk dan menjamin kemantapan produksi. Semakin mahal dan langkanya pupuk anorganik (urea, SP- 36, KCl, ZA) serta perlunya konservasi hara tanah melalui pendauran ulang maka pemanfaatan jerami padi yang berlimpah di lahan sawah perlu diperhitungkan kembali sebagai salah satu alternatif untuk subsitusi penggunaan pupuk kimia. Tanaman padi yang memproduksi 5 ton /ha gabah kering panen mengangkut hara dari tanah sekitar 150 kg N, 20 kg P, 150 kg K, dan 20 kg S. Pada saat panen, jerami mengandung sekitar 1/3 jumlah berat N, P, dan S dari total hara tanaman padi, sedangkan kandungan K rata-rata 89% (berkisar antara 85-92%). Oleh karena itu, jerami padi dapat dijadikan sebagai sumber hara makro tanaman. Penyunting: Yulia Tri S Email: yuliatrisedyowati@yahoo.id Sumber: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20920/4/Chapter%20II.pdf