Ayam bekisar berbeda dengan umumnya ayam buras lokal maupun ayam buras spesifik yang lainnya. Ayam bekisar dihasilkan dari hasil persilangan ayam jantan hutan dengan induk ayam buras. Yang pastinya tidak mudah untuk bisa mendapatkan ayam bekisar diperlukan ketrampilan dalam penanganan reproduksi ayam bekisar. Pengelolaan reproduksi ayam bekisar dapat dilakukan dengan berbagai cara agar dapat menghasilkan ayam bekisar sebagai ayam bernyanyi.. Perkawinan ayam bekisar dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu1) cara Kangean, 2) cara Solo dan 3) cara Jogja. Perkawinan ayam bekisar cara Kangean Pejantan yang digunakan adalah ayam hutan hijau ( Gallus varius ) yang sudah jinak maupun yang baru ditangkap dari hutan.Betina yang digunakan dipilih dari ayam buras yang sudah pernah bertelur dan hindarkan dari perkawinan dengan ayam buras jantan yang lainnya.Persyaratan lain yang harus dipenuhi dari ayam buras betina yang akan dikawinkan dengan ayam pejantan hutan adalah badan berbentuk gempal, sehat, jengger dan pial besar, pendek dan berbulu tebal. Sebelum dikawinkan dubur ayam betina harus dibersihkan dari bulu bulu sampai tampak kelihatan klimis, Tujuan pembersihan bulu pada bagian dubur ayam buras betina agar memudahkan masuknya sperma ayam jantan hutan kedalam vagina ayam buras betina. Perkawinan ayam jantan dan ayam buras betina harus dilakukan dengan dipancing melalui cara tipuan yaitu ayam buras betina diikat kedua kakinya lalu dikubur setengah badan kedalam tanah. Pantat ayam buras betina dalam posisi nungging keatas dan kepala ayam buras betina ditutupi dengan rerumputan. Ekor ayam buras betina disishkan kesamping dan diikat dengan tali sehungga yang tampak hanya dubur ayam buras betina yang lagi nungging. Tidak jauh dari posisi ayam buras betian ditempatkan ayam betina hutan yang dipegang kakinya dan dipamerkan pada ayam jantan hutan agar tertarik untuk mencumbunya. Kalau ayam jantan hutan birahi dipastikan akan menggigit tengkuk ayam betina hutan dan akan berusaha naik diatas ayam betina hutan, bila itu terjadi dengan gerakan yang cepat pada saat ayam jantan hutan akan naik segera ayam betina hutan digeser kesamping secara otomatis ayam jantan hutan akan memasukkan spermanya pada dubur ayam buras betina yang sedang nungging. Perlakuan ini cukup dilakukan satu kali saja tetapibila dipandang kurang memuaskan dapat dilakukan kembali dengan cara yang sama dalam waktu seminggu kemudian.Hasil telur yang diproduksi ayam buras yang dikawinkan dengan ayam jantan hutan harus diselekasi dan hanya telur yang bertunas saja yang ditetaskan dengan cara dieramkan atau penetasan dengan mesin tetas. Perkawinan ayam bekisar cara Solo Dapat dilakukan dengan cara yang umum dilaksanakan pada perkawinan ayam buras yaitu ayam jantan hutan dikandangkan dalam satu kandang kumpulan ayam buras betina. Sex ratio yang digunakan tidak menjadi acuan artinya dalam kandang berisi ayam jantan hutan dengan seekor ayam buras atau lebih dari satu ekor ayam buras betina. Ayam jantan hutan harus dipilih yang mempunyai suara bagus, suka berkokok, jenggernya tegak dan berumur 2 tahun. Ayam buras betina yang akan dipasangkan berumur 8 bulan. Sebaiknya kedua jenis ayam yang akan dipasangkan ini dikandangkan dalam satu kandang sejak muda agar saling mengenal. Telur ayam buras pertama dan kedua yang dihasilkan jangan ditetaskan umumnya hasilnya tidak bagus. Dengan proses sebagaimana umumnya penetasan setelah menetas anak ayam harus segera divaksin dan diberikan pakan yang biasa diberikan pada ayam bangkok yaitu 521 sampai umur 6 bulan setelah itu diganti dengan pakan 591. Bisa juga diberikan pakan tambahan seperti belalang, jangkrik, telur,semut toge yang akan berguna untuk menambah kelincahan dan kerasnya suara lengkingan kokok bekisar model Solo. Perkawinan ayam bekisar cara Jogya. Cara Jogja akan menghasilkan bekisar yang berwarna putih polos. Dengan cara yang hampir sama dengan model Kangean, yang membedakan penggunaan ayam betina dan cara menarik ayam jantan untuk mau mencumbu ayam betina. Pada model Kangean ayam betina berasal dari ayam buras untuk model Jogja ayam betina yang digunakan dari ayam ras strain Hy Line, Babcock atau jenis lainnya asal berwarna putih. Ayam jantan hutan berumur satu tahun dan sudah divaksin tetelo. Ayam betina yang terpilih harus sudah divaksin,belum pernah kawin atau bertelur. Ayam jantan hutan tidak takut pada ayam warna apa saja kecuali takut pada ayam putih polos.Karena itu ayam betina harus dipermak diberikan perlakuan yang akan mengubah warna putih pada bulu caranya memberikan warna coklat atau hitam dengan disemir atau dipilok. Selanjutnya jengger pada ayam betina dipotong atau digunting kemudian diberikan obat yodium setelah sembuh bulu bulu yang ada pada dubur dibersihkan dengan cara dicabut sampai bersih klimis dan ekor ayam betina dipotong pendek agar memudahkan untuk proses perkawinan. Perkawinan dilakukan model memikat ayam jantan hutan dengan cara memamerkan betina ke ayam jantan hutan, bila ayam jantan hutan birahi dipastikan akan menaiki ayam betina yang dikenal dengan nama sistem dodokan, Bila sistem dodokan gagal dapat dilakukan dengan cara tipuan dengan menggunakan ayam betina hutan untuk memikat ayam jantan hutan, Perlakuan yang dilakukan hampir sama dengan yang dilakukan cara Kangean. Perbedaannya ayam betina bulunya dirubah warna dan ayam betina tidak dikubur tapi disembunyikan dibelakang orang yang akan mengawinkan, Begitu ayam jantan hutan mau naik ke ayam betina hutan secara gerak cepat pantat ayam betina yang dipasangkan disodorkan pada pantat ayam jantan hutan. Jika masih terjadi kegagalan masih dapat dilakukan pengulangan perlakukan kembali pada lain waktu. Dan jika sudah berhasil telur yang dihasilkan oleh ayam betina harus diseleksi untuk ditetaskan Nani Priwanti Soeharto , PP PPMKP Ciawi. Sumber : Buku Teknik dan Pengembangan Peternakan seri Ayam Buras Spesifik .Direktorat Jenderal Peternakan. Direktorat Bina Produksi Peternakan, 1992