I. PENDAHULUAN Dalam upaya pengembangan kawasan agribisnis jeruk, perlu dilakukan pengelolaan pertanaman jeruk yang optimal agar pertanaman jeruk menjadi sehat. Khusus untuk pertanaman jeruk di wilayah Bengkulu, perlu waspada terhadap serangan hama penyakit utama seperti penyakit busuk pangkal batang dan busuk akar, penyakit diplodia serta hama penyebab gugur buah serta penyakit CPVD (Citrus Vein Phloem Degeneration). Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk (PTKJS) untuk kawasan pengembangan jeruk merupakan suatu pendekatan teknologi yang bertujuan untuk memperoleh kebun jeruk yang sehat dengan produktivitas yang tinggi dan menghasilkan buah yang berkualitas. Mengacu pada PTKJS tersebut dan berdasarkan hasil kajian terhadap kondisi agroekosistem, dan sosial ekonomi setempat serta hama penyakit utama maupun yang potensial di Provinsi Bengkulu, diperoleh teknologi pengelolaan terpadu tanaman jeruk spesifik Bengkulu yang disingkat PTT jeruk spesifik Bengkulu yang meliputi empat komponen teknologi yaitu: 1) penggunaan benih jeruk bebas penyakit; 2) pemeliharaan tanaman secara optimal; 3) pengendalian hama dan penyakit utama dan 4) koordinasi pengelolaan kebun. Pada dasarnya PTT tanaman jeruk spesifik Bengkulu merupakan keterpaduan penerapan komponen teknologi pengendalian penyakit utama dan teknologi pemeliharaan tanaman yang berorientasi pada sumber daya lokal di Bengkulu secara optimal. II.BENIH JERUK SEHAT Benih jeruk bermutu yang bebas penyakit adalah benih tanaman jeruk yang bebas dari patogen sistemik dan bersertifikat/ berlabel. Keberhasilan usahatani jeruk sangat ditentukan dengan penggunaan benih yang bermutu, hal ini berkaitan dengan adanya penyakit sistemik, yang susah untuk diobati bila sudah menginfeksi benih jeruk sehingga untuk mensukseskan program pengembangan jeruk tersebut perlu dipikirkan secara cermat ketersediaan benih bermutu tinggi dan berlabel bebas penyakit. Kriteria Benih jeruk yang bermutu baik adalah benih seragam ukurannya, vigor; tinggi Benih 60-80 cm (lebih dari 40 cm dari mata tempel) dan diameter batang 1,2 - 2 cm; warna batang hijau tua kecoklatan, batang lurus dan tidak bercabang; warna daun hijau mengkilat dan telah membentuk 2 flush; umur lebih 6 bulan sejak penyambungan/okulasi. Benih tanaman jeruk yang berlabel dapat diperoleh dari penangkar-penangkar benih jeruk yang terdaftar resmi di UPTD Pengawasan Pengujian Sertifikasi Benih Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan. III. PEMELIHARAAN TANAMAN SECARA OPTIMAL Kebun jeruk pelu dikelola secara optimal mulai dari persiapan tanam hingga panen. Pengelolaan/pemeliharaan tanaman meliputi pemupukan, pemangkasan tanaman, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman (khusus untuk pengendalian OPT dijadikan komponen PTT tanaman jeruk yang ketiga, karena menjadi salah satu penentu keberhasilan dalam pengelolaan kebun jeruk). 3.1. Pemupukan Pemberian kapur Dolomit/Kalsit dan pupuk organik (kompos/pupuk kandang), Pemberian pupuk kimia (makro) dan mikro Rekomendasi pemupukan untuk tanaman jeruk berbeda antara jenis tanaman jeruk karena kebutuhan akan unsur hara yang berbeda. Tabel 1. Dosis Pupuk Fase Pertumbuhan Tanaman Jeruk keprok Umur (tahun) Dosis Pupuk NPK (gr) Urea (gr) Dolomit (gr) Bahan Organik (kg) 1 100-150 20-40 500 20-40 2 200-300 50-70 500 20-40 3 300-400 80-100 750 40-60 4 400-500 100-120 750 40-60 5 500-600 120-150 1000 40-60 Tabel 2. Dosis Pupuk Fase Tanaman Produktif Jeruk keprok Produksi Per Pohon (kg) Dosisi Pupuk (Kg) Urea SP-36 KCL Bahan Organik 25 0.55 0.62 0.33 40-60 50 1.10 1.25 0.50 40-60 75 1.65 0.87 0.75 40-60 100 2.20 2.50 1.0 40-60 125 2.75 3.12 1.25 40-60 150 3.30 3.75 1.50 40-60 Sumber: Balitjestro Selain unsur hara makro (N, P, K, Ca, Mg, S) tanaman jeruk juga membutuhkan unsur hara mikro (Cu, Bo, Mn, Zn) agar dapat diperoleh tanaman yang sehat dan buah yang berkualitas tinggi. Tanaman yang mengalami kekurangan unsur hara (defisiensi) baik unsur hara makro ataupun mikro umumnya akan memperlihatkan gejala yang spesifik untuk masing-masing defisiensi. 3.2. Pemangkasan Tanaman Pemangkasan pada tanaman jeruk meliputi pemangkasan dasar (bentuk), pemangkasan pemeliharaan dan pemangkasan produksi (penjarangan buah). Pemangkasan bentuk (dasar) adalah pemangkasan yang dilakukan setelah tanam pada saat tinggi tanaman telah melebihi 75 cm (sudah agak keras/berkayu) dengan tujuan mendapatkan kerangka dasar percabangan dan bentuk pohon yang baik untuk mendukung pertumbuhan dan produksi yang optimal. IV. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Utama Tanaman Jeruk Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) merupakan faktor pembatas dalam usahatani tanaman jeruk. Kehadiran hama dan penyakit tersebut dapat mengurangi baik kuantitas maupun kualitas buah jeruk, bahkan mampu merusak pertanaman jeruk ataupun menyebabkan kematian sehingga tidak menghasilkan lagi. Adapun OPT yang menyerang tanaman jeruk yaitu : OPT yang menyerang daun dan penyebab burik kusam (hama kutu, thrips, tungau, peliang daun, penyakit embun tepung, embun jelaga dan kanker), OPT penyebab busuk akar dan batang (penyakit busuk akar dan penyakit diplodia/blendok), dan OPT penyebab gugur buah (lalat buah dan penggerek buah). Kemudian penyakit yang perlu diwaspadai yaitu penyakit CVPD dalam hal ini perlu dilakukan pencegahan sedini mungkin dengan paket teknologi Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS). Pencegahan dan pengendalian dilakukan dimulai dengan pengamatan/monitoring. penggunaan kompos trichoderma, penyemprotan trichoderma ke bagian akar tanaman dua mingguan, sanitasi tanaman, penggunaan bubur belerang, saputan batang, penggunaan perangkap likat kuning dan perangkap metil eugeunol, penguburan buah gugur serta penyemprotan pestisida secara bijaksana. V.KOORDINASI ANTARA PETANI JERUK DALAM SATU KAWASAN JERUK Pengelolaan pertanaman jeruk untuk pengendalian penyakit utama akan berhasil jika teknologi PTT diterapkan dengan baik. Aspek lainnya yang sangat penting untuk dilakukan adalah koordinasi, baik antar petani jeruk dalamm satu kelompok tani, maupun antar kelompok tani/gabungan kelompok tani pada suatu kawasan jeruk. Hal tersebut harus dilakukan, karena beberapa penyakit utama dapat menular dari suatu pertanaman ke pertanaman yang lain. Dengan melaksanakan PTT jeruk, usahatani jeruk memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan biasanya. PENULIS :Ir. Sri Suryani M. Rambe, M.Agr