Salah satu tantangan dalam pembangunan pertanian adalah adanya kecenderungan menurunnya produktivitas lahan. Disisi lain sumberdaya alam terus menurun sehingga perlu diupayakan untuk tetap menjaga kelestariannya. Demikian pula dalam usahatani padi, agar usahatani padi dapat berkelanjutan, maka teknologi yang diterapkan harus memperhatikan faktor lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial, sehingga agribisnis padi dapat terlanjutkan. Selama ini produksi padi nasional masih mengendalikan sawah irigasi, namun ke depan bila hanya mengandalkan padi sawah irigasi akan menghadapi banyak kendala. Hal tersebut disebabkan banyaknya lahan sawah irigasi subur yang beralih fungsi ke penggunaan lahan non pertanian, tingginya biaya pencetakan lahan sawah baru dan berkurangnya debit air. Dilain pihak lahan kering tersedia cukup luas dan pemanfaatannya untuk pertanaman padi gogo belum optimal, sehingga ke depan produksi padi gogo juga dapat dijadikan andalan produksi padi nasional. Salah satu strategi dalam upaya pencapaian produktivitas usahatani padi adalah penerapan inovasi teknologi yang sesuai dengan sumberdaya pertanian di suatu tempat (spesifik lokasi). Teknologi usahatani padi spesifik lokasi tersebut dirakit dengan menggunakan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). PTT padi merupakan suatu pendekatan inovatif dalam upaya peningkatan efisiensi usahatani padi dengan menggabungkan komponen teknologi yang memiliki efek sinergistik. Artinya tiap komponen teknologi tersebut saling menunjang dan memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman. SYARAT TUMBUH Pada lahan basah (sawah irigasi), curah hujan bukan merupakan faktor pembatas tanaman padi, tetapi pada lahan kering tanaman padi membutuhkan curah hujan yang optimum >1.600 mm/ tahun. Padi gogo memerlukan bulan basah yang berurutan minimal 4 bulan. Bulan basah adalah bulan yang mempunyai curah hujan >200 mm dan tersebar secara normal atau setiap minggu ada turun hujan sehingga tidak menyebabkan tanaman stress karena kekeringan. Suhu yang optimum untuk pertumbuhan tanaman padi berkisar antara 24-290C. Padi gogo biasa ditanam pada lahan kering dataran rendah, sedangkan pada areal yang lebih terjal dapat ditanami di antara tanaman keras. Tanaman padi dapat tumbuh pada berbagai tipe tanah. Reaksi tanah (pH) optimum berkisar antara 5,5-7,5. Permeabilitas pada sub horison kurang dari 0,5 cm/jam. Selain agroekosistem, cara pengelolaan tanaman juga mempengaruhi keberlanjutan agribisnis padi. Dengan menerapkan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) keberlanjutan agribisnis padi dapat diwujudkan. Saat ini hampir seluruh teknologi budidaya tanaman menggunakan konsep PTT, termasuk budidaya padi sawah dan padi gogo. TEKNOLOGI BUDIDAYA Pengelolaan Tanam Terpadu (PTT) Padi Gogo Secara umum komponen utama pendekatan model PTT padi gogo adalah : (1) penggunaan varietas unggul, (2) Penambahan bahan organik tanah dan tindakan konservasi tanah, (3) pemupukan berimbang sesuai rekomendasi setempat dan waktu pemupukan yang tepat, dan (4) sistem tanam seperti jajar legowo dan memupuk dalam larikan untuk efisiensi pupuk. Penggunaan Varietas Unggul Beberapa varietas padi gogo serta ciri-cirinya dapat dilihat pada tabel: Limboto: Umur (hari) 115-125, Potensi hasil 6.0 t/ha GKG, Bentuk gabah Bulat besar, Tekstur Nasi Sedang. Situpatenggang: Umur (hari) 110-120, Potensi hasil 6.0 t/ha GKG, Bentuk gabah Agak gemuk, Tekstur Nasi Sedang, Aromatik. Batutegi: Umur (hari) 112-120, Potensi hasil 6.0 t/ha, Bentuk gabah Bulat sedang, Tekstur Nasi Pulen. Situbagendi: Umur (hari) 110-120, Potensi hasil 6.0 t/ha, Bentuk gabah Panjang ramping, Tekstur Nasi Pulen. Pengolahan Tanah dan Cara Tanam Sebaiknya Lakukan Pengolahan Tanah Dua Kali, Pertama Dilakukan Pada Awal Hujan Saat Tanah Lembab Dan Kedua Dilakukan Pada Saat Menjelang Tanam. Penanaman Sebaiknya Dilakukan Bila Curah Hujan Sudah Mulai Stabil Atau Mencapai 60 Mm/ 10 Hari. Hal Ini Biasanya Terjadi Antara Akhir Bulan Oktober Sampai Akhir Bulan November. Sistem Tanam sebaiknya dengan sistem jajar legowo dengan jarak tanam 30 x 20 x 10 cm dengan 4 - 5 butir per lubang. Pemupukan Kunci keberhasilan dan Keberlanjutan pengelolaan tanah kering adalah bagaimana mempertahankan atau meningkatkan kandungan bahan organik tanah yang berfungsi menyangga air dan hara yang dibutuhkan tanaman. Karena itu pemberian bahan organik baik berupa kompos maupun pupuk kandang menjadi keharusan di lahan kering. Pemberian bahan organik tersebut dikombinasikan dengan pemberian pupuk N, P, dan K secara berimbang yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara di dalam tanah. Pengendalian Hama dan Penyakit Organisme dan pengganggu tanaman (OPT) pada pertanaman padi gogo hampir sama dengan pertanaman padi di lahan irigasi. Pada saat pertumbuhan vegetatif, hama yang sering menyerang adalah :lalat bibit, penggerek batang dan hama. Pada pertumbuhan lebih lanjut, hama penggerek batang dan penggulung daun. Bila tanaman sudah mulai keluar malai hama yang sering menyerang adalah hama kepik hijau dan walang sangit. Penyakit utama yang sering menyerang adalah blast yang dapat menyebabkan tanaman puso. Adapun untuk mengurangi hama yang muncul di lapangan, perlu melakukan monitoring yang teratur agar keberadaan hama dan penyakit sejak dini dapat diketahui dan bila perlu dapat menggunakan pestisida yang sesuai. PANEN DAN PASCA PANEN Panen Lakukan panen saat gabah telah menguning, tetapi malai masih segar. Potong padi dengan sabit gerigi, 30-40 cm di atas permukaan tanah. Gunakan plastik atau terpal sebagai alas tanaman padi yang baru dipotong dan ditumpuk sebelum dirontok. Sebaiknya panen padi dilakukan oleh sekelompok pemanen dan gabah dirontokan dengan power fresher atau pedal fresher. Apabila panen dilakukan pada waktu pagi hari sebaiknya pada sore harinya langsung dirontokan. Perontokan lebih dari 2 hari menyebabkan kerusakan beras. Pasca Panen Jemur gabah di atas lantai jemur dengan ketebalan 5-7 cm. Lakukan pembalikan setiap 2 jam sekali. Pada musim hujan, gunakan pengering buatan dan pertahankan suhu pengering 509Cuntuk gabah konsumsi atau 420C untuk mengeringkan benih. Pengeringan dilakukan sampai kadar air gabah mencapai 12-14% untuk gabah konsumsi dan 10-12% untuk benih. Gabah yang sudah kering dapat digiling dan disimpan. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam penggilingan dan penyimpanan adalah : Untuk mendapatkan beras kualltas tinggi, perlu diperhatikan waktu panen, sanitasi (kebersihan), dan kadar air gabah (12-14%). Simpan gabah/ beras dalam wadah yang bersih dalam lumbung/gudang, bebas hama dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Simpan gabah pada kadar air kurang 14% untuk konsumsi, dan kurang dari 13% untuk benih. Gabah yang sudah disimpan dalam penyimpanan, jika akan digiling, keringkan terlebih dahulu sampai kadar air 12-14%. Sebelum digiling, gabah yang dikeringkan tersebut diangin-anginkan terlebih dahulu untuk menghindari butir pecah. Daftar Pustaka Badan Penelitian dan Pengembang Pertanian, Kementerian Pertanian