Selama ini produksi padi nasional masih mengendalikan sawah irigasi, namun ke depan bila hanya Selama ini produksi padi nasional masih mengendalikan sawah irigasi, namun ke depan bila hanya mengandalkan padi sawah irigasi akan menghadapi banyak kendala. Hal tersebut disebabkan banyaknya lahan sawah irigasi subur yang beralih fungsi ke penggunaan lahan non pertanian, tingginya biaya pencetakan lahan sawah baru dan berkurangnya debit air. Dilain pihak lahan kering tersedia cukup luas dan pemanfaatannya untuk pertanaman padi gogo belum optimal, sehingga ke depan produksi padi gogo juga dapat dijadikan andalan produksi padi nasional. Salah satu strategi dalam upaya pencapaian produktivitas usahatani padi adalah penerapan inovasi teknologi yang sesuai dengan sumberdaya pertanian di suatu tempat (spesifik lokasi). Teknologi usahatani padi spesifik lokasi tersebut dirakit dengan menggunakan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). TEKNOLOGI BUDIDAYA A. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah Penerapan PTT didasarkan pada empat prinsip, yaitu : Terpadu: PTT merupakan suatu pendekatan agar sumber daya tanaman, tanah dan air dapat dikelola dengan sebaik-baiknya secara terpadu. Sinergis: PTT memanfaatkan teknologi pertanian terbaik, dengan memperhatikan keterkaitan yang saling mendukung antar komponen teknologi. Spesifik lokasi: PTT memperhatikan kesesuaian teknologi dengan lingkungan fisik maupun sosial budaya dan ekonomi petani setempat. Partisipatif: berarti petani turut berperan serta dalam memilih dan menguji teknologi yang sesuai dengan kondisi setempat dan kemampuan petani melalui proses pembelajaran dalam bentuk laboratorium lapangan. B. Komponen teknologi dasar dalam PTT yaitu : Penggunaan varietas padi unggul atau varietas padi berdaya hasil tinggi dan atau bernilai ekonomi tinggi. Benih bermutu dan berlabel. Pemupukan berimbang berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah (spesifik lokasi). Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu (PHT). C. Komponen teknologi pilihan dalam PTT yaitu : Penanaman bibit umur muda dengan jumlah bibit terbatas yaitu antara 1-3 bibit per lubang. Peningkatan populasi tanaman. Penggunaan kompos bahan organik dan atau pupuk kandang sebagal pupuk dan pembenah tanah. Pengaturan pengairan dan pengeringan Pengendalian gulma. Panen tepat waktu. Perontokan gabah sesegera mungkin. D. Varietas Unggul Gunakan VUB (varietas unggul baru) yang mampu beradaptasi dengan lingkungan untuk menjamin pertumbuhan tanaman yang baik, hasil tinggi dan kualitas baik serta rasa nasi diterima pasar. Tanam VUB secara bergantian untuk memutus siklus hidup hama dan penyakit. Saat ini telah tersedia berbagai varietas unggul yang dapat dipilih sesuai dengan kondisi wilayah, mempunyai produktivitas tinggi, dan sesuai permintaan konsumen. E. Benih Bermutu Benih bermutu adalah benih dengan vigor tinggi dan bersertifikat. Pemilihan benih bermutu dilakukan dengan cara : Merendam benih dalam larutan garam dengan menggunakan indikator telur. Telur diletakkan didasar air dan masukkan garam sampai telur mulai terangkat kepermukaan, kemudian telur diambil dan benih dimasukkan ke dalam air garam, selanjutnya benih yang mengambang dibuang. Dapat juga dengan cara membuat larutan garam dapur (30 gr garam dapur dalam 1 liter air) atau larutan pupuk ZA ( 1 kg pupuk ZA dalam 2,7 liter air), dimasukkan benih ke dalam larutan garam atau pupuk ZA (volume larutan 2 kali volume benih), kemudian diaduk-aduk dan benih yang mengambang dibuang. Keuntungan menggunakan benih bermutu : Benih tumbuh cepat dan serempak. Jika disemaikan akan menghasilkan bibit yang tegar dan sehat. Pada saat ditanam pindah, bibit tumbuh lebih cepat. Jumlah tanaman optimum, sehingga akan memberikan hasil yang tinggi. F. Persemaian Untuk keperluan penanaman seluas 1 ha, benih yang dibutuhkan sebanyak ± 20 kg. Benih bernas (yang tenggelam) dibilas dengan air bersih dan kemudian direndam dalam air selama 24 jam. Selanjutnya diperam dalam karung selama 48 jam dan dijaga kelembabannya dengan cara membasahi karung dengan air. Untuk benih hibrida langsung direndamdalam air dan selanjutnya diperam. Luas persemaian sebaiknya 400 m/ha (4% dari luas tanam). Lebar bedengan pembibitan 1,0-1,2 m dan diberi campuran pupuk kandang, serbuk kayu dan abu sebanyak 2 kg/m. Penambahan ini memudahkan pencabutan bibit padi sehingga kerusakan akar bisa dikurangi. Antar bedengan dibuat parit sedalam 25-30 cm. G. Persiapan Lahan Pengelolahan tanah dapat dilakukan secara sempuma (2 kali bajak dan 1 kali garu) atau minimal atau tanpa olah tanah sesuai keperluan dan kondisi. Faktor yang menentukan adalah kemarau panjang, pola tanam, jenis/tekstur tanah. Dua minggu sebelum pengolahan tanah taburkan bahan organik secara merata diatas hamparan sawah. Bahan organik yang digunakan dapat berupa pupuk kandang sebanyak 2 ton/ha atau kompos jerami sebanyak 5 ton/ha. H. Penanaman Tanam bibit muda (<21 HSS, hari setelah sebar), sebanyak 1-3 bibit rumpun. Bibit lebih muda (14 HSS) dengan 1 bibit/rumpun akan menghasilkan anakan lebih banyak, hanya pada daerah endemis keong mas gunakan benih 18 HSS dengan 3 bibit/rumpun. Penyulaman dilakukan sebelum tanaman berumur 14 HST (hari setelah tanam). Pada saat bibit ditanam, tanah dalam kondisi jenuh air. Penanaman disarankan dengan sistem jejer legowo 2:1 atau 4:1 (40x20x10) cm atau (50x25x12,5) cm, karena populasi lebih banyak dan produksinya lebih tinggi dibanding dengan sistem jejer tegel. Keuntungan cara tanam jejer legowo antara lain : Rumpun tanaman yang berada pada bagian pinggir lebih banyak. Terdapat ruang kosong untuk pengaturan air, saluran pengumpulan keong mas atau untuk mina padi Pengendalian hama, penyakit dan gulma lebih mudah. Pada tahap awal areal pertanaman lebih terang sehingga kurang disenangi tikus. Penggunaan pupuk lebih berdaya guna. Sistem tanam tegel Tegel (20x20cm, 22x22cm, 25x25cm), maupun sistem tebar benih langsung, juga dapat digunakan dalam pendekatan PTT. I. Pengairan Berselang Pemberian air berselang adalah pengaturan kondisi sawah dalam kondisi kering dan tergenang secara bergantian. Tujuan pengairan berselang antara lain : Menghemat air irigasi sehingga areal yang dapat diairi lebih luas. Memberi kesempatan akar tanaman memperoleh udara lebih banyak sehingga dapat berkembang lebih dalam. Mencegah timbulnya keracunan besi. Mencegah penimbunan asam organik dan gas HS yang menghambat perkembangan akar. Mengaktifkan jasad renik (mikroba tanah) yag bermanfaat. Mengurangi kerebahan. Mengurangi jumlah anakan yang tidak produktif (tidak menghasilkan malai dan gabah). Menyeragamkan pemasakan gabah dan mempercepat waktu panen. Memudahkan pembenaman pupuk ke dalam tanah (lapisan olah) Memudahkan pengendalian hama keong mas, mengurangi penyebaran hama wereng coklat dan penggerek batang serta mengurangi kerusakan tanaman padi karena hama tikus. J. Pemupukan Pemupukan berimbang, yaitu pemberian berbagai unsur hara dalam bentuk pupuk untuk memenuhi kekurangan hara yang dibutuhkan tanaman berdasarkan tingkat hasil yang ingin dicapai dan hara yang tersedia dalam tanah. Untuk setiap ton gabah yang dihasilkan, tanaman padi membutuhkan hara N sekitar 17 ,5 kg, P sebanyak 3 kg dan K sebanyak 17 kg. Dengan demikian jika kita ingin memperoleh hasil gabah yang tinggi, sudah barang tentu diperlukan pupuk yang lebih banyak. Namun demikian tingkat hasil yang ditetapkan juga memperhatikan daya dukung lingkungan setempat dengan melihat produktivitas padi pada tahun-tahun sebelumnya. Agar efektif dan efisien, penggunaan pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara dalam tanah. Kebutuhan N tanaman dapat diketahui dengan cara mengukur tingkat kehijauan wama daun padi menggunakan Bagan Warna Daun (BWD). Nilai pembacaan BWD digunakan untuk mengoreksi dosis pupuk N yang telah ditetapkan sehingga menjadi lebih tepat sesuai dengan kondisi tanaman. Pupuk awal N diberikan pada umur padi sebelum 14 HST ditentukan berdasarkan tingkat kesuburan tanah. Takaran pupuk dasar N untuk padi varietas unggul baru sebanyak 50-75 kg urea/ha, sedangkan untuk padi tipe baru dengan takaran 100 kg urea/ha. K. Pengendalian Gulma Secara Terpadu Gulma dikendalikan dengan cara pengolahan tanah sempurna, mengatur air dipetakan sawah, menggunakan benih padi bersertifkat, hanya menggunakan kompos sisa tanaman dan kompos pupuk kandang, dan menggunakan herbisida apabila infestasi gulma sudah tinggi. Pengendalian guma secara manual dengan menggunakan kosrok (landak) sangat dianjurkan, karena cara ini sinergis dengan pengelolaan lainnya. Pengendalian gulma secara manual hanya efektif dilakukan apabila kondisi air di petakan sawah macak-macak atau tanah jenuh air. PANEN DAN PASCA PANEN Panen Lakukan panen saat gabah telah menguning, tetapi malai masih segar. Potong padi dengan sabit gerigi, 30-40 cm di atas permukaan tanah. Gunakan plastik atau terpal sebagai alas tanaman padi yang baru dipotong dan ditumpuk sebelum dirontok. Sebaiknya panen padi dilakukan oleh sekelompok pemanen dan gabah dirontokan dengan power fresher atau pedal fresher. Apabila panen dilakukan pada waktu pagi hari sebaiknya pada sore harinya langsung dirontokan. Perontokan lebih dari 2 hari menyebabkan kerusakan beras. Pasca Panen Jemur gabah di atas lantai jemur dengan ketebalan 5-7 cm. Lakukan pembalikan setiap 2 jam sekali. Pada musim hujan, gunakan pengering buatan dan pertahankan suhu pengering 500C untuk gabah konsumsi atau 420C untuk mengeringkan benih. Pengeringan dilakukan sampai kadar air gabah mencapai 12-14% untuk gabah konsumsi dan 10-12% untuk benih. Gabah yang sudah kering dapat digiling dan disimpan. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam penggilingan dan penyimpanan adalah : Untuk mendapatkan beras kualltas tinggi, perlu diperhatikan waktu panen, sanitasi (kebersihan), dan kadar air gabah (12-14%). Simpan gabah/ beras dalam wadah yang bersih dalam lumbung/gudang, bebas hama dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Simpan gabah pada kadar air kurang 14% untuk konsumsi, dan kurang dari 13% untuk benih. Gabah yang sudah disimpan dalam penyimpanan, jika akan digiling, keringkan terlebih dahulu sampai kadar air 12-14%. Sebelum digiling, gabah yang dikeringkan tersebut diangin-anginkan terlebih dahulu untuk menghindari butir pecah. Daftar Pustaka Badan Penelitian dan Pengembang Pertanian, Kementerian Pertanian