J A G U N G ( Zea mays L. )
I. PENDAHULUAN
Tanaman jagung sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia dan hewan. Di Indonesia, jagung merupakan komoditi tanaman pangan kedua terpenting setelah padi. Akhir-akhir ini tanaman jagung semakin meningkat penggunaannya. Tanaman jagung banyak sekali gunanya, sebab hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan antara lain:
· Batang dan daun muda: pakan ternak
· Batang dan daun tua: pupuk hijau atau kompos
· Batang dan daun kering: kayu bakar
· Batang jagung: lanjaran (turus)
· Batang jagung: pulp (bahan kertas)
· Buah jagung muda: sayuran, bergedel, bakwan, sambel goreng
· Biji jagung tua: pengganti nasi, marning, brondong, roti jagung, tepung, bihun, campuran kopi bubuk, biskuit, kue kering, pakan ternak, industri farmasi, dextrin, perekat, industri textil.
II. PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) JAGUNG
A. SYARAT TUMBUH
· Iklim sedang - subtropis/tropis yang basah
· Curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata
· Sinar matahari
· Suhu antara 21-340C
· Saat panen jagung yang jatuh pada musim kemarau
· Tanah harus gembur, subur dan kaya humus
· Jenis tanah antara lain: andosol, latosol, grumosol dan tanah berpasir
· pH antara 5,6 - 7,5
· Aerasi dan ketersediaan air dalam kondisi baik
· Tanah dengan kemiringan kurang dari 8 %
· Ketinggian optimum antara 0-600 m dpl
B. PTT JAGUNG
PTT Jagung merupakan suatu pendekatan dalam budidaya Jagung yang menekankan pada pengelolaan tanaman, lahan, air dan organisme pengganggu secara terpadu yang mempertimbangkan hubungan sinergis dan komplementer antar komponen pengelolaan. PTT Jagung meliputi 8 komponen yaitu :
1. Penggunaan Varietas Unggul Potensi Tinggi (VUPT) dan benih bermutu
· VUPT ada dalam bentuk Varietas Hibrida yang terbagi 3 golongan:
- Berumur genjah (80-90 hari) contoh Bisi 1, Semar 1 dan Semar 2
- Berumur sedang (90-100 hari) contoh P11, P12, Semar 1, Bisi 2 dan Bisi 4
- Berumur panjang/dalam (>100 hari) contoh P8, P9, P21, P23, C-4 dan IPB-4
· Syarat benih bermutu:
- Bebas hama dan penyakit
- Daya tumbuh minimal 80%
- Bernas tidak keriput dan warna mengkilat
- Tidak tercampur dengan kotoran (murni fisik)
- Tidak tercampur dengan varietas lain (murni genetis)
· Kebutuhan benih jagung Hibrida (15-20 kg/Ha atau 2-3 kg/100 bt)
· Benih harus bersertifikat dengan label warna biru
2. Penyiapan Lahan
Ada 3 jenis pengolahan tanah:
· Pengolahan tanah sempurna:
- Diperuntukan bagi tanah-tanah berat
- Kondisi tanah tidak terlalu kering atau basah
- Tanah dibajak/dicangkul 2 x sedalam 15-20 cm, gulma dan sisa tanaman dibenamkan lalu digaru sampai rata
- Pada musim hujan harus dibuat parit drainase untuk pembuangan dan pemasukan air
- Waktu pengolahan seminggu sebelum tanam
· Pengolahan tanah minimum (minimum tillage):
- Bagi tanah yang peka erosi
- Jika waktu tanam mendesak hanya diolah pada barisan tanaman sebesar 60 cm, kedalaman 15-20 cm
· Tanpa olah tanah (zero tillage):
- Dianjurkan pada tanah dengan tekstur ringan
- Tanah dicangkul pada lubang-lubang tanam saja
- Digunakan mulsa jerami untuk mengatasi erosi dan menekan gulma
3. Pengaturan Jarak Tanam
· Umur genjah: 100 cm x (40-50 cm)
· Umur sedang: 75 cm x (40-50 cm)
· Umur dalam: 50 cm x (20-25cm)
Penanaman : Tanah ditugal sedalam 5 cm, benih dimasukan 1 butir/lubang tanam (hibrida) atau 2-3 butir/lubang tanam (non hibrida), lalu lubang ditutup dengan tanah tipis-tipis atau dengan abu dapur
4. Pemeliharaan Tanaman
· Penyulaman terhadap benih yang tidak tumbuh atau tidak normal, paling lambat 1 minggu setelah tanam
· Penyiangan I pada umur 2 minggu setelah tanam dan penyiangan II pada umur 4 minggu setelah tanam
· Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan II pada umur 4 minggu setelah tanam
5. Pengairan
· Fase pertumbuhan tanaman Jagung yang harus cukup air:
- Saat tanam sampai umur 2 minggu
- Sebelum keluar malai
- Saat keluar rambut sampai pembentukan tongkol (pengisian biji)
· Tanaman jagung tidak tahan kelebihan air
6. Pemupukan Berimbang
· Pupuk organik (pupuk kandang, kompos atau pupuk hijau) diberikan sebelum pengolahan tanah II dengan cara disebar merata
· Pupuk buatan atau anorganik
a. Takaran/dosis untuk varietas Hibrida:
- Urea : 300-350 kg/Ha atau 45-50 kg/100 bt
- SP-36 : 100-150 kg/Ha atau 15-20 kg/100 bt
- KCL : 50-100 kg/Ha atau 7-15 kg/100 bt
atau
- Urea : 200 kg/Ha atau 20 kg/100 bt
- NPK Phonska : 300 kg/Ha atau 40 kg/100 bt
b. Waktu pemupukan:
- Pupuk dasar (saat tanam): 1/3 Urea, seluruh bagian SP-36 dan KCL atau seluruh NPK Phonska
- Pemupukan susulan (pada umur 30 hari setelah tanam): 2/3 urea atau sisa urea
c. Cara pemupukan:
- Diberikan dengan ditugal sekitar 5 cm dari batang tanaman atau dalam barisan sekitar 7 cm dari barisan tanaman (kanan atau kiri tanaman), lalu ditutup dengan tanah
7. Pengendalian Hama dan Penyakit
· Hama :
a. Ulat tanah: menyerang jagung muda, memotong batang dekat permukaan tanah
Cara pengendalian: Tanam serempak; pemasangan umpan beracun (tongkol muda dicacah dicampur cacahan ubi jalar dan racun klorpirifos 20 EC)
b. Lalat bibit: menyerang yang baru tumbuh pada bagian titik tumbuh
Gejala: kerdil dan berwarna kekuning-kuningan
Cara pengendalian: Rotasi tanaman dengan selain jagung dan padi; tanam serempak dan seawal mungkin; perlakuan benih dengan insektisida efektif yang mengandung klorpirifos
c. Penggerek batang: menyerang daun tanaman yang masih menggulung dan terlindung daun muda yang membuka. Hama dewasa member bagian buku dan masuk dalam batang lalu member bagian atas bahkan sampai pucuk tongkol dan rambut biji jagung.
Cara pengendalian: waktu tanam pada musim hujan paling lambat 4 minggu setelah awal musim hujan; tumpangsari dengan kedelai atau kacang tanah; penggunaan insektisida Furadan 3G melalui pucuk sebelum berbunga
d. Penggerek tongkol: menyerang pucuk daun dan baian tongkol lebih disukai.
Cara pengendalian: olah tanah sempurna; pemotongan ujung tongkol yang rusak menjadi jagung muda; penggunaan insektisida sistemik
· Penyakit :
a. Bulai (downy mildew): penyebab cendawan Peronosclero sporamaydis, P. spora javanica dan P. spora philippinensis yang akan merajalela pada suhu 270C ke atas serta keadaan udara lembab.
Gejala: tanaman umur 2-3 minggu semua daun tanaman mongering, kaku dan runcing, sisi bawah terdapat lapisan tepung putih; tanaman umur 3-5 minggu perkembangan normal tapi daun yang baru membuka terjadi perubahan dari pangkal daun; tanaman dewasa, daun tua terdapat garis kloriosis kecoklatan yang berbatas cukup jelas
Cara pengendalian: Tanam awal dan serempak; tanam varietas tahan; perlakuan benih dengan fungisida ridomil 35 SD.
b. Karat daun (rust): penyebab cendawan Puccinia sorghi Schw dan P. polypora Underw. Menyebabkan permukaan daun menjadi kasar dan akhirnya kering.
Cara pengendalian: Tanam awal dan serempak; tanam varietas tahan; perlakuan benih dengan fungisida zineb atau fermat atau dithane M-45.
c. Bercak daun (leaf blight) menyerang daun tanaman jagung dari mulai membuka hingga akhir masa pertumbuhan. Penyebab cendawan Helminthosporium turcicum.
Gejala: pada daun tampak bercak memanjang dan teraturberwarna kuning dikelilingi warna coklat yang berkembang meluas dari ujung hingga pangkal daun. Cirinya bercak daun tampak basah lalu berubah warna coklat kekuningan dan akhirnya menjadi coklat tua pada seluruh permukaan daun.
Cara pengendalian: Rotasi tanaman; pengaturan jarak tanamdan penggunaan fungisida efektif.
d. Penyakit gosong bengkak (corn smut/boil smut) terjadi pada tongkol jagung saat mulai pengisian biji. Penyebab cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung, Uredo zeae Schw dan Uredo maydis DC.
Gejala: pada tongkol terjadi pembengkakan dan pengeluaran kelenjar(gall)
Cara pengendalian: pengaturan kelembaban dengan pengeringan dan irigasi; pemotongan tongkol yang terserang dan dibakar; perlakuan benih dengan fungisida.
e. Busuk tongkol dan busuk biji: menyerang pada saat musim hujan, akibatnya ukuran tongkol tidak normal (membesar). Penyebab cendawan Fusarium atau Gibberella seperti Gibberella zeae (Schw).
Gejala: dapat diketahui dengan cara membuka membuka pembungkus tongkol, bila terserang biji jagung yang berwarna merah jambu atau merah kecoklatan berubah menjadi coklat sawo matang.
Cara pengendalian: tanam varietas tahan; rotasi tanaman; pengaturan jarak tanam; perlakuan benih dengan fungisida; penyemprotan dengan fungisida setelah ditemukan gejala serangan.
8. Penanganan Panen dan Pascapanen
· Penen :
Ciri tanaman siap panen:
- Kolobot berwarna kuning mongering
- Biji tampak mengkilat , bila ditekan dengan kuku tidak berbekas
Cara penen: Potong bagian atas (di atas tongkol) 3 hari sebelum panen
Saat panen dilakukan pemotongan tongkol kering, kemudian dikumpulkan dalam satu wadah
· Pascapenen :
- Dikupas kolobotnya, dijemur sampai kering
- Dipipil, dijemur sampai kering
- Dibersihkan dengan cara “ditapi” atau dengan blower
- Dikemas