Loading...

Pengelolaan Ternak Sapi dengan Pendekatan Komponen Teknologi Secara Terpadu

Pengelolaan Ternak Sapi dengan Pendekatan Komponen Teknologi Secara Terpadu
Di Kecamatan Rimbo Ilir Kabupaten tebo merupakan daerah dengan sentra Komoditas perkebunan yang sangat besar potensinya dengan pengembangan ternak sapi, dimana para petani yang merupakan ex- transmigran erupakan petani-petani yang uletyang bisa mengebangakna ternak sapii. Dengan las kkawasan yang cukup, akan tersedia pakan hijauan ternak yang cukup di lokasi ini cukup potensi untuk pengembangan pengelolaan rnk sapi Suatu inovasi teknologi yang dapat diterapkan pada kegiatan Program Swasembada Daging Sapi (PSDS) adalah menerapkan sistim pengelolaan ternak dengan beberapa pendekatan secara terpadu yang dapat menjadi potensi agribisnis sapi yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Hasil pengkajian ini lebih sesuai disebut sebagai model diseminasi inovasi teknologi dan yang dipandang dapat mempercepat penyampaian informasi dan teknologi pertanian yang telah dihasilkan kepada petani. Strategi pelaksanaannya adalah menerapkan teknologi inovatif yang tepat guna secara partisipatif, membangun model percontohan sistem agribisnis berbasis teknologi inovatif terintegrasi dengan kelembagaan pendukungnya, mendorong proses difusi dan replikasi model percontohan teknologi inovatif melalui ekspose dan demonstrasi lapang, diseminasi informasi, dan mengembangkan agro-industri pedesaan berdasarkan karakteristik wilayah dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Penyebarluasan dari petani ke petani dan untuk petani diharapkan akan mempercepat proses adopsi teknologi pengelolaan sumber pakan sapi karena terjadi proses pendekatan transfer pengetahuan, bekerja bersama dan belajar bersama dalam kesetaraan yang alamiah. PENDEKATAN TERPADU KOMPONEN TEKNOLOGI Peningkatan produktivitas sapi dapat dilakukan dengan penerapan komponen teknologi secara terpadu. Oleh karena itu tidak dapat dilakukan hanya komponen per komponen saja. Pengelolaan ternak sapi dengan beberapa pendekatan terpadu adalah suatu pendekatan inovasi komponen teknologi yang dilakukan untuk peningkatan produktivitas ternak sapi melalui 5 (lima) komponen pendekatan.,yaitu : 1) Pemanfaatan dengan baik pakan yang sudah ada, 2) Introduksi dan penggunaan tanaman hijauan pakan, 3) Perhitungan dan perencanaan pakan, 4) Penyapihan dini dan perbaikan pakan, 5) Pengaturan waktu kawin sapi. Kelima komponen pendekatan tersebut tentunya perlu didukung oleh komponen pendekatan lainnya, seperti sistim perkandangan, kesehatan ternak, kelembagaan peternak dan lain-lain. Namun demikian dengan menerapkan ke lima komponen pendekatan sapi potong tersebut maka komponen pendukung lainnya diharapkan akan menyertainya menuju peningkatan produktivitas ternak sapi. Komponen 1 : Memanfaatkan dengan baik dan maksimal pakan lokal yang sudah ada antara lain rumput lapang, rumput gajah dan limbah tanaman, seperti jerami padi, sisa daun kacang tanah, sisa daun dan batang jagung, dan sisa tanaman lainnya. Limbah tanaman yang berlimpah memiliki nilai gizi yang rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan nilai gizinya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara yang sederhana, antara lain dengan amonisi urea pada jerami padi atau penggunaan probiotik berupa mikro-organisme pengurai bahan pakan. Penyimpanan pakan dilakukan untuk mengantisipasi kekurangan pakan di musim kemarau. Pada puncak kemarau pakan berupa hijauan segar mulai berkurang, maka limbah tanaman seperti jerami kacang tanah, jerami padi dan limbah lainnya dapat diberikan pada ternak sapi. Komponen 2 : Introduksi dan penggunaan tanaman hijauan pakan dimaksudkan adalah menanam tanaman hijauan pakan pada lahan yang masih kosong atau pada lahan sempit, misalnya pada tampingan teras bangku, tanam secara strip mengikuti garis kontur lahan dan menanam sepanjang pagar pembatas lahan. Berbagai jenis rumput dan jenis leguminosa dapat ditanam antara lain Paspalum atratum, Brachiaria hibrid cv Mulato, Setaria sphacelata, Panicum maximum, Clitoria ternatea, Centrosema pubescens dan Stylosanthes guianensis. Jenis-jenis tersebut sudah dapat berdaptasi dan menghasilkan hijauan pakan yang bergizi tinggi untuk ternak sapi. Pada dasarnya rumput lapang atau rumput alam yang ada dilahan petani dapat dijadikan sumber hijauan pakan, namun produksinya rendah dan nilai gizinya juga kurang. Beberapa jenis rumput introduksi dapat dijadikan sumber hijauan pakan yang berproduksi tinggi dengan nilai gizi yang baik dapat dibudidayakan pada lahan-lahan yang masih kosong misalnya sepanjang pinggir pagar pembatas lahan, pada tampingan teras bangku, lahan yang berlereng secara strip/lajur memotong kemiringan lereng. Komponen 3 : Perhitungan dan perencanaan pakan dimaksudkan adalah menghitung dan merencanakan kebutuhan pakan yang diperlukan untuk sapi yang dipelihara, sehingga dapat disiapkan sejumlah pakan untuk sejumlah sapi yang dipelihara. Hal ini penting agar kesinambungan dan ketersediaan pakan dapat terjamin sepanjang tahun melalui perhitungan kebutuhan pakan dan perencanaan yang tepat. Saat merencanakan ke butuhan pakan untuk sapi, yang perlu diperhatikan dalah kebutuhan hijauan seekor ternak dan produksi hijauan yang diperoleh setahun, dengan produksi hijauan yang dihasilkan dalam setahun, sehingga dapat diketahui berapa luas lahan yang disiapkan. Misalnya seekor sapi dewasa yang beratnya 275 kg, maka kebutuhan hijauan segar adalah 12% dari beratnya adalah 33 kg per hari, atau sama dengan 12 ton per tahun hijauan segar. Produksi hijauan dari beberapa jenis rumput-rumputan dapat menghasilkan sampai 120 ton per ha per tahun dengan beberapa kali panen. Ini berarti untuk 12 ton hijauan segar dapat dihasilkan dari lahan seluas 0,1 ha atau 30m x 33m. Komponen 4 : Penyapihan dini dan perbaikan pakan dimaksud adalah pemisahan anak dari induknya dilakukan pada anak sapi umur 7 bulan tetapi dengan syarat bahwa setelah dipisah dari induknya maka anak sapi tersebut diberi pakan yang bergizi. Pemisahan anak dari induknya dilakukan hanya kalau pakan yang bergizi sudah cukup tersedia. Hal ini dimaksudkan agar anak sapi yang masih dalam proses pertumbuhan dapat asupan pakan yang bergizi. Komponen 5 : Pengaturan waktu kawin sapi dimaksudkan adalah mengawinkan induk sapi tepat waktu pada saat berahi. Induk sapi yang telah melahirkan dapat dikawinkan kembali setelah 3 bulan, dengan demikian dalam kurun waktu setiap 12 bulan dapat melahirkan anak, atau dengan kata lain setiap tahun melahirkan anak. Hal ini penting dilakukan agar interval kelahiran yang teratur, oleh sebab itu perlu ketersediaan pejantan unggul setiap saat. Dari model pendampingan untuk pengelolaan ternak sapi melalui pendekatan yang dilakukan untuk implementasi komponen teknologi secara terpadu, terdapat beberapa pertanyaan penting yang ditemukan yaitu : Faktor apa yang mendorong penyebarluasan teknologi ? 2. Apa hambatan yang ditemukan sejauh ini dalam hal penyebarluasan ? 3. Bagaimana penyebarluasan ini dapat dipercepat ? Pertanyaan-pertanyaan penting tersebut dapat dijabarkan dan ditelaah sebagaimana diuraikan dibawah ini : Faktor yang mendorong penyebarluasan : a) Sukses petani binaan b) Lokasi yang strategis (baik untuk access) c) Petani memiliki bakat untuk berinteraksi dan berkomunikasi d) Hubungan antar famili e) Kesan awal (rumor) f) Keingintahuan tentang yang baru g) Pengalaman dari petani binaan h) Mencoba hal baru i) Lokasi petani binaan j) Status sosial petani k) Keberhasilan petani binaan l) Kerjasama dengan OGT m) Sosialisasi oleh OGT dan PPL n) Petani binaan aktif menginformasikan ke petani lain 2. Apa hambatan yang ditemukan sejauh ini dalam hal penyebarluasan ? a) Beberapa petani binaan tidak menginformasikan ke petani lain b) Ada sikap kompetisi antar petani c) Petani sangat sibuk d) Lokasi petani yang terlalu jauh e) Petani binaan tidak aktif dan kurang percaya diri f) Sikap egois g) Kondisi lapangan terpencil h) Kurang sumberdaya (lahan) i) Informasi petani yang disampaikan terlalu berbelit-belit 3. Bagaimana penyebarluasan ini dapat dipercepat ? a) Dukungan dari pemerintah setempat b) Ada insentif khusus bagi petani binaan c) Ada aktifitas public (selamatan, pesta, dll) d) Kunjungan dari petani ke petani e) Pertemuan formal (workshop) f) Ada kerjasama dengan instansi formal (universitas) g) Pelatihan bagi PPL h) Membuat plot percontohan di desa i) Kerjasama dengan aparat setempat untuk diseminasi dan informasi j) Menjadikan lokasi petani binaan yang sukses sebagai tempat kunjungan k) Pertemuan anggota kelompok tani l) Pertemuan antar kelompok tani Pengelolaan ternak sapi dengan pendekatan komponen teknologi secara terpadu, pada awalnya dimulai dengan membina sejumlah kecil petani binaan yang dilakukan secara intensif, kemudian langkah selanjutnya adalah memotivasi petani binaan tersebut untuk menyebarluaskan ke petani lain, sehingga terjadi alih teknologi dan adopsi teknologi dari petani ke petani. Penyebarluasan dan adopsi teknologi pada awalnya berjalan lambat karena petani umumnya ingin melihat hasil yang dilakukan oleh petani sebelumnya kemudian akan mengikuti bila telah melihat hasilnya.