ngembangan agribisnis kelapa berperanan penting untuk peningkatan produktivitas dan sekaligus peningkatkan pendapatan petani. Saat ini kelapa sangat berperan dalam perekonomian sebagai penyedia lapangan tenaga kerja, bahan baku industri dalam negeri dan konsumsi langsung. Meskipun demikian, kebanyakan usahatani kelapa tidak terkait langsung dengan industri pengolahan, industri hilir, serta industri jasa, dan keuangan. Akibatnya agribisnis kelapa tidak berhasil mendistribusikan nilai tambah, sehingga tidak dapat meningkatkan pendapatan petani. Faktor-faktor yang menyebabkan tidak berkembangnya sistem agribisnis kelapa, antara lain adalah: Sebagian besar teknologi belum dapat digunakan petani. kurangnya diversifikasi produk kelapa. Rekomendasi teknik budidaya kelapa didasarkan pada pencapaian produktivitas dan mutu yang tertinggi dari hasil suatu pengkajian atau riset. Petani sebagai calon pengguna teknologi dianggap tidak memiliki kemampuan untuk memilih teknologi. Petani mempunyai tenaga kerja yang tersedia dalam jumlah optimal untuk peningkatan pendapatannya. Rekomendasi seperti ini akan berhasil baik oleh karena petani akan menerima dan terus menggunakan teknologi pilihannya. Pemilihan teknologi sepenuhnya diserahkan kepada petani, sedangkan institusi teknis memberi informasi secara lengkap menyangkut teknologi menunjukkan bahwa rekomendasi teknik budidaya yang didasarkan produktivitas dan kualitas produk. Ada tujuh kriteria untuk memilih suatu teknologi tepat guna yaitu: diakui oleh petani sebagai sesuatu yang berhasil, berkenaan dengan faktor-faktor pembatas produksi, menguntungkan kaum miskin. pasarnya terjamin. aman bagi lingkungan. dapat dikomunikasikan dengan efisien, dapat diterapkan secara luas. Keberhasilan pada kriteria pertama tidak hanya diukur dari segi keuntungan,tetapi sekaligus mampu memperkecil resiko kegagalan. Jika kriteria satu sampai dengan lima dapat dipenuhi, hampir dapat dipastikan dapat memenuhi kriteria enam dan tujuh. Oleh karena itu evaluasi keberhasilan alih teknologi pada usahatani kelapa didasarkan pada lima kriteria tersebut. Kelapa sebagai komoditas pasar terbuka merupakan keunggulan dalam pemasaran, begitu juga pangsa pasar kelapa Indonesia yang besar didunia serta jaringan pasar pada semua negara pengimpor produk kelapa. Kelemahan pada subsistem pemasaran kelapa terlihat dari beberapa indikator seperti; (a) informasi pasar dan transparansi pembentukan harga, (b) promosi produk yang lemah, dan (c) struktur pasar yang oligopoli. Sedangkan permintaan dan diversifikasi produk sesuai dengan selera konsumen seperti arang aktif, serat sabut, dan sebagainya merupakan peluang pemasaran. Adapun ancaman terhadap pemasaran dan perdagangan produk kelapa adalah kebijakan tarif dan pajak ekspor. Promosi produk sebagai ajang peningkatan permintaan produk kelapa untuk konsumsi domestik dan eksport. Kebijkan operasional melalui pendekatan dan pengenalan produk kelapa yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Promosi pasar untuk eksport dilakukan dengan mendorong intensitas usaha-usaha APCC (Asian and Pacific Coconut Community) dan promosi melalui Badan Pengembangan Ekspor serta kedutaan besar Indonsia. (Purnomojati Anggoroseto, SP, MSi.) (Sumber: Damanik, S. 2007. Strategi Pengembangan Agribisnis Kelapa (Cocos nucifera) untuk Meningkatkan Pendapatan Petani di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan)