Jagung komposit merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang cukup adaptif terhadap kondisi lahan kering dan mampu menggerakkan perekonomiaan di pedesaan. Untuk itu, jagung komposit ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam memanfaatkan lahan kering guna mendukung ketahanan pangan nasional. Jagung komposit atau jagung bersari bebas dianjurkan untuk dikembangkan pada lahan-lahan marginal yang umumnya lahan kering dan memiliki kondisi kurang subur, ada kendala tentang air serta kondisi sosial ekonomi masyarakatnya lemah. Disamping dapat digunakan sebagai bahan makanan pokok, karena memiliki protein yang lebih baik, jagung komposit ini juga dapat ditanam kembali sebagai benih yang diproduksi sendiri oleh petani. Kebutuhan akan jagung baik untuk tujuan pakan maupun tujuan pangan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan semakin menurunnya luas areal pertanaman pada lahan-lahan produktif. Untuk itu pengembangan tanaman jagung dirakit agar dapat beradaptasi pada lahan-lahan marginal atau lahan kering dengan segala keterbatasannya, namun memiliki produktivitas yang tinggi. Beberapa varietas jagung komposit yang mampu beradaptasi dan masih memiliki produktivitas yang tinggi pada lahan kering antara lain adalah varietas Lamuru; Srikandi kuning- 1; Srikandi Putih 1 maupun varietas Bayu. Untuk membudidayakan jagung komposit ini sesuai dengan pemanfaatannya, dianjurkan untuk menanam varietas Lamuru dan Srikandi kuning- 1 apabila akan digunakan untuk menghasilkan biji dengan tujuan pakan. Sedangkan varietas Srikandi Putih 1 apabila akan digunakan untuk menghasilkan biji dengan tujuan untuk pangan. Jagung Srikandi Putih 1 merupakan jagung komposit yang memiliki protein berkualitas yang dikenal dengan QPM (Quality Protein Maize) atau Jagung Protein Berkualitas merupakan jagung khusus (specialty corn) yang dikembangkan oleh Balitsereal dalam rangka penanggulangan masalah gizi buruk di daerah rawan pangan. Varietas Lamuru adalah jenis jagung komposit yang relatif tahan terhadap cekaman kekeringan dengan potensi hasil 7,5 ton/ha. Pada lahan kering potensi hasil Srikandi kuning- 1 dapat mencapai 8.0 ton/ha lebih tinggi dibandingkan Lamuru, dan kualitas proteinnya juga lebih baik. Srikandi Putih 1 memiliki potensi hasil 8.0 ton/ha lebih baik dibandingkan varietas Bayu dengan potensi hasilnya sekitar 5.0-6.0 ton/ha. Varietas Bayu merupakan varietas unggul berbiji putih yang terakhir dilepas sebelum varietas Srikandi Putih 1. Kualitas protein Srikandi Putih 1 juga lebih baik dibandingkan dengan varietas Bayu. Potensi hasil yang cukup tinggi dari jagung komposit, memberikan peluang yang baik untuk pengembangan jagung komposit ini di lahan-lahan marginal dengan segala keterbatasannya, sehingga diharapkan dapat membantu peningkatan pendapatan petani di pedesaan dan mewujudkan ketahanan pangan mulai dari tingkat desa sampai ketahanan pangan nasional. Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Madya, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.com Sumber: 1) http://balitsereal.litbang.deptan.go.id 2) http://www.google.co.id 3) http://blog.ub.ac.id