Rendahnya harga di tingkat petani berbanding lurus dengan taraf kesejahteraan petani kakao hal tersebut berkaitan dengan lemahnya peran dan koordinasi antar lembaga, sebagai indikasi kelembagaan petani yang lemah. Lembaga yang memiliki peran kunci dalam upaya penguatan kelembagaan petani adalah pemerintah daerah/dinas perkebunan, penyuluh perkebunan lapangan, dan lembaga pemasaran. Pendidikan dan pelatihan, yang mencakup pengelolaan pasca panen dan fermentasi, penyediaan input pertanian serta pemasaran sebagai sub elemen kunci dalam memperkuat kelembagaan, sangat penting dalam penguatan kelembagaan petani untuk meningkatkan kesejahteraan petani kakao. pemasaran Asosiasi petani (Lembaga pemasaran bersama): Dalam Model Kelembagaan Kakao, asosiasi petani dirancang untuk lebih berperan sebagai lembaga pemasaran bersama dari gapoktan-gapoktan yang tersebar di seluruh kabupaten. Keberadaan asosiasi petani menjadi sangat penting untuk dapat memenuhi skala kebutuhan industri pengolahan kakao domestik karena suplai dapat dilakukan oleh gapoktan-gapoktan yang ada di seluruh kabupaten. Asosiasi petani berperan dalam menjalin kemitraan dengan perusahaanperusahaan pengolahan kakao domestik. Asosiasi petani berkewajiban untuk menyediakan biji kakao fermentasi sesuai dengan kualitas dan kuantitas yang dibutuhkan oleh industri, sedangkan industri berkewajiban memberikan harga biji kakao yang bersaing untuk asosiasi petani. Selain itu, industri juga harus memberikan pembinaan kepada petani melalui asosiasi petani. Bentuk mitra usaha ini akan memberikan beberapa keuntungan kepada petani, antara lain (1) pasar produk pertanian bagi petani terjamin dan (2) petani terhindar dari risiko fluktuasi harga. produksi Gabungan kelompok tani (koperasi petani) Kelompok-kelompok tani yang berada di satu desa harus membentuk gabungan kelompok tani (gapoktan) yang dapat ditransformasikan menjadi koperasi petani. Gapoktan/koperasi tersebut berperan sebagai penyedia sarana produksi usahatani kakao bagi petani/kelompok tani, seperti penyediaan pupuk, pestisida, benih, dan lain-lain. Selain itu, gapoktan/koperasi juga dapat berperan sebagai koperasi simpan pinjam untuk menghimpun dana dari anggota atau memberikan bantuan/tambahan modal bagi anggota/petani yang membutuhkan. Hal ini penting mengingat salah satu kendala yang sering terjadi dalam penerapan teknologi di tingkat petani adalah permodalan. Terkait dengan biji kakao fermentasi, gapoktan/koperasi berperan sebagai penyalur biji kakao dari tingkat kelompok tani kepada asosiasi petani. Gapoktan/koperasi dalam hal ini dapat juga berperan dalam menyediakan dana talangan untuk produksi biji kakao yang dihasilkan oleh petani/kelompok tani.(Purnomojati Anggoroseto, SP, MSi.) (Sumber: Listyati, D. Wahyudi, A. Hasibuan, A. 2014. Penguatan Kelembagaan Untuk Peningkatan Posisi Tawar Petani Dalam Sistem Pemasaran Kakao Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar)