Pendahuluan Peningkatan produktivitas dan efisiensi dalam budidaya kedelai dapat dicapai dengan penerapan teknologi yang bersifat spesifik lokasi pada masing-masing agriekosistem. Permasalahan yang bersifat spesifik lokasi pada setiap agroekosistem diatasi untuk mendapatkan persyaratan tumbuh optimal untuk tanaman kedelai. Paket teknologi produksi kedelai untuk agroeksosistem lahan sawah seperti berikut ini. Pada lahan sawah, kedelai biasanya ditanam pada musim kemarau pertama (MK I) yang ditanam setelah panen padi pertama atau pada musim kemarau kedua (MK II) yang ditanam setelah panen padi kedua. Wilayah Kelompok Tani Sri Mekar Dusun Jeblogan mempunyai wilayah lahan yang cocok untuk membudidayakan varietas tanaman pangan seperti Padi dan Kedelai. Pada musim kemarau, kususnya pada musim kemarau kedua (MK II) areal lahan di wilayah kelompok Tani Sri Mekar relatif kekurangan air. Hal ini menjadi motivasi dari anggota kelompok tani Sri Mekar untuk membudidayakan tanaman yang membutuhkan air lebih sedikit dalam pertumbuhannya, yaitu tanaman Kedelai. Ini tentu saja bisa untuk membantu memperbaiki keadaan pertamanan Kedelai itu sendiri, yang mana keadaan tanaman Kedelai yang ada adalah sebagai berikut : Kebutuhan kedelai Indonesia rata-rata 2 juta ton. Sementara Produksi kedelai baru sekitar 900 ribu ton/th Kontribusi Jatim 42,23% Produktivitas kedelai petani beragam dari 0,50-2,50 t/ha dengan harga jual kurang memadai Usahatani kedelai kurang dapat bersaing dengan komoditas padi dan jagung Adanya keragaman mencerminkan bahwa teknik budidaya kedelai secara tepat di masing-masing daerah pertanaman kedelai belum dikuasai dan diterapkan dengan baik oleh petani Upaya meningkatkan produksi kedelai diperlukan penerapan teknologi produksi kedelai spesifik lokasi, diimbangi dengan penyediaan benih bermutu tinggi, penyiapan lahan, pemeliharaan dan proteksi tanaman serta pasca panen yang tepat, yaitu melalui pendekatan PTT Pembahasan Penyiapan Lahan Tanpa Olah Tanah Setelah panen padi, jerami padi dipotong dekat dengan permukaan tanah. Sesuai dengan prioritas pemanfaatannya, jerami padi digunakan untuk pakan ternak atau ditinggal di lahan untuk mulsa kedelai atau dibakar. Jerami padi yang dibakar merupakan salah satu sumber hara K. Pembuatan Saluran Drainase Pembuatan saluran drainase dengan jarak antar saluran 1,5 – 5 m, bervariasi tergantung pada kemiringan lereng lahan dan tekstur tanah. Makin datar dan atau makin halus tekstur tanahnya, makin sempit jarak antar saluran drainase. Saluran drainase berukuran lebar sekitar 30 cm dan kedalaman sekitar 25 cm. Waktu Penanaman Untuk kedelai yang ditanam di awal musim hujan, penanaman dilakukan setelah hujan cukup membasahi tanah untuk mendukung perkecambahan benih kedelai. Kedelai yang ditanam setelah panen padi (MK I dan MK II), benih kedelai hendaknya segera ditanam 2 – 4 hari setelah panen padi. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memanfaatkan air/lengas tanah dan mengurangi gangguan gulma, hama, dan penyakit. Pemilihan Benih Benih berkualitas yaitu bernas dengan daya tumbuh > 85%, murni, sehat, dan bersih, dengan total kebutuhan benih antara 40 – 60 kg/ha, tergantung pada ukuran biji; makin besar ukuran biji makin banyak benih yang digunakan Perlakuan Benih Perlakuan benih dengan insektisida berbahan aktif carbosulfan, contoh Marshal 25 ST dengan dosis 10 g setiap 1 kg benih kedelai, atau berbahan aktif fipronil, contoh Regent dengan dosis 10 ml setiap 1 kg benih kedelai; untuk mengendalikan hama lalat bibit dan hama lainnya. Perlakuan benih dengan pupuk hayati sumber rhizobium bagi lahan yang sebelumnya tidak pernah ditanami kedelai, dengan dosis 20 g sumber rhizobium setiap 1 kg benih kedelai. Penanaman Populasi tanaman kedelai 350.00 – 500.000 per hektar, dengan pengaturan jarak tanam : 40 cm x 15 cm; dan 40 cm x 10 cm, ditanam dua tanaman per lubang. Tanam secara tugal, jarak 40 cm antar baris, dan 10-15 cm dalam barisan, 2 biji/lubang Pemupukan Pemupukan dapat berbeda jenis pupuk dan takarannya tergantung pada kondisi atau tingkat kesuburan tanah berdasarkan hasil analisis tanah. Jika tersedia pupuk organik atau pupuk kandang dianjurkan pemberian sekitar 2 t/ha. Pupuk dasar: Petroganik dosis 600 kg/ha + 100 kg SP36/ha, disebar rata sesaat sebelum/setelah tanam. Pupuk susulan: 150 kg Phonska/ha, disebar saat umur 15−20 hari. Pengairan Pemberian air perlu dilakukan jika kelembaban tanah tidak mencukupi terutama pada saat stadium awal pertumbuhan, saat berbunga, dan saat pengisian polong. Pengendalian Gulma Gulma dikendalikan berdasarkan pemantauan baik secara mekanis – konvensional atau manual (penyiangan menggunakan cangkul atau dicabut), secara mekanisasi, maupun secara kimia dengan menggunakan herbisida pra tumbuh atau pasca tumbuh. Pada tanah yang ringan dan di daerah langka tenaga kerja, cara mekanisasi dapat meringankan biaya pengendalian gulma. Penyemprotan herbisida pra tumbuh sebaiknya dilakukan satu minggu (7 hari) sebelum tanam, sedang penyemprotan herbisida pasca tumbuh perlu hati-hati dengan menggunakan tudung nozzle supaya tidak meracuni daun tanaman kedelai. Pengendalian Hama Pengendalian hama dan penyakit berdasarkan petunjuk teknis Pengendalian Hama terpadu (PHT). Pengendalian hama dilakukan 3−4 kali, yaitu sebelum berbunga 2 kali dengan insektisida berbahan aktif Fipronil 50 g/l (misalnya merk dagang Regent), dan 1−2 kali saat periode pengisian polong dengan insektisida berbahan aktif MIPC/Karbamat (misalnya merk dagang Mipcin). Pemanenan dan Pembijian Panen dilakukan bila kulit polong sudah siap, yang ditandai dengan warna kulit polong kecoklatan dan daun setidaknya 85% sudah rontok. Tanaman siap dipanen apabila daun sudah luruh dan 95% polong sudah berwarna kuning-kecoklatan atau coklat-kehitaman (tergantung varietas), panen dilakukan secara konvensional (dengan sabit atau dicabut). Pembijian kedelai dapat dilakukan secara manual (sistem geblok, pemukul kayu) atau secara mekanis dengan mesin perontok. Panen dilakukan dengan memotong pangkal batang kedelai, kemudian dijemur sekitar 2 hari (jika cuaca normal). Setelah itu dilakukan pembijian menggunakan mesin perontok. Biji dibersihkan dari kotoran dan kemudian dijemur lagi hingga kadar air 12%. Pengemasan dan Penyimpanan Benih dikemas dalam kantong plastik (satu lapis plastik tebal atau dua lapis plastik tipis) atau kaleng/blek, kemudian ditutup rapat Jangan ditaruh menempel lantai (beri alas kayu atau simpan pada rak kayu) Hindarkan dari serangan tikus (hewan perusak) Jangan dikumpulkan dengan bahan-bahan lain yang menyebabkan ruang simpan lembab untuk menghindari kerusakan. Sumber : Sumarno. 2011. Perkembangan Tekhnologi Budi Daya Kedelai Di Lahan Sawah. Iptek tanaman pangan, 6(2) 139-151. KJF/Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi. 2019. Sosialisasi Pengembangan Kedelai. Penulis : Nunus Widiyatmoko, SP. Penyuluh BPP Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi