Loading...

PENGEMBANGAN PERTANIAN PADI ORGANIK

PENGEMBANGAN PERTANIAN PADI ORGANIK
Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan input produksi berasal dari bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan petani selaku produsen dan bagi pembeli selaku konsumen, serta tidak merusak lingkungan. Produk pertanian organik semakin diminati masyarakat seiring dengan tumbuhnya tren gaya hidup sehat yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian aman dikonsumsi, bernutrisi tinggi, dan ramah lingkungan. Keinginan konsumen inilah yang menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia semakin meningkat. Pangsa produk pertanian organik diperkirakan saat ini sekitar 20% dari total produk pertanian dunia dengan total penjualan sekitar $USD 20 milyar. Sebagian besar produk pertanian organik dunia dipasok oleh negara maju seperti Australia, Amerika dan Eropa. Di Asia, pasar produk pertanian organik lebih banyak didominasi oleh negara-negara timur jauh seperti Jepang, Taiwan dan Korea. Indonesia, sebagai negara agraris, sudah harus mulai serius memikirkan pengembangan pertanian organik. Beberapa tahun terakhir, pertanian organik mulai masuk dalam sistem pertanian Indonesia secara sporadis dan kebanyakan dalam skala kecil. Meskipun pertanian organik belum banyak dikenal, namun petani yang telah melakukan pertanian organik mengatakan bahwa produk pertanian organik yang dihasilkan sangat laku dijual di pasaran, terutama kalangan masyarakat menengah ke atas. Kendala pengembangan pertanian organik Berbagai kendala yang dihadapi petani untuk mengerjakan praktek pertanian organik antara lain: 1) petani menganggap pasar dan harga produk pertanian organik belum jelas, 2) belum ada insentif harga yang memadai untuk produk pertanian organik, 3) pertanian organik memerlukan investasi awal yang tidak sedikit, terutama untuk penyiapan lahan yang harus bersih dari cemaran bahan kimia, 4) menyiapkan lahan untuk pertanian organik memerlukan waktu transisi paling sedikit 2-3 tahun, dan kebanyakan petani tidak cukup sabar menunggu waktu transisi ini. Pengertian pertanian organik Secara umum konsep pertanian organik belum banyak dikenal. Selama ini, pertanian organik lebih dikenal sebagai praktek pertanian yang tidak menggunakan pestisida kimia. Terdapat dua pemahaman tentang pertanian organik yaitu dalam arti sempit dan dalam arti luas. Arti Sempit – sistem produksi pertanian yang bebas atau tidak boleh sedikitpun menggunakan bahan kimia, mulai dari perbenihan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, panen, sampai pascapanen. Semua aktivitas yang dipraktekkan dalam sistem produksi pertanian tersebut harus menggunakan bahan hayati yang alami atau natural, seperti residu tanaman, pupuk kandang, dan legum. Pengendalian gulma, hama dan penyakit pada pertanian organik dilakukan dengan cara mekanis, biologis, dan rotasi tanaman. Arti Luas – sistem produksi pertanian yang menggunakan bahan-bahan alami dan menghindari atau membatasi penggunaan bahan kimia sintetis (benih/bibit hasil rekayasa genetika, pupuk kimia, pestisida kimia, herbisida, zat pengatur tumbuh dan aditif pakan). Pertanian organik, baik dalam arti sempit maupun arti luas, memiliki tujuan yang sama yaitu menyediakan produk – produk pertanian (terutama bahan pangan) yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumen, serta menjaga keseimbangan lingkungan dengan menjaga siklus alaminya. Manfaat pertanian organik Terdapat paling sedikit lima kelebihan pertanian organik, yaitu: 1) sehat, 2) menjaga kesuburan tanah, 3) menjaga kualitas air, 4) menjaga kualitas udara, dan 5) limbahnya dapat didaur ulang. Sehat – produk organik memiliki kandungan vitamin dan mineral yang lebih tinggi, karena bebas dari paparan bahan kimia. Tanah subur – unsur hara alami yang ada di dalam tanah dapat hidup dan berkembang, akibatnya tanah menjadi lebih subur.Tanah yang subur menjadikan tanaman juga tumbuh subur. Kualitas air –bahan kimia mudah terserap oleh air. Ketika air hujan turun, masuk ke tanah dan mencari jalan ke sungai, maka bahan kimia yang ada di dalam tanah akan ikut larut dan mencemari sungai. Dengan praktek pertanian organik, kualitas air sungai, danau, dan sumber air lain dapat dijaga. Kualitas udara – lahan yang terbebas dari cemaran bahan kimia dapat menahan karbon dioksida lebih banyak, sehingga udara menjadi lebih bersih dan sehat. Limbah dapat didaur ulang – pertanian organik menghasilkan limbah seperti jerami, batang jagung, dan sisa-sisa batang tanaman lain yang dapat didaur ulang. Karena berasal dari tanaman yang bersih, maka limbah tersebut bisa menghasilkan daur ulang yang lebih sehat. Langkah-langkah praktek pertanian organik Pada dasarnya, praktek pertanian organik dan non-organik tidak banyak berbeda. Namun demikian, karena mengedepankan aspek sehat, alami, dan berkelanjutan, maka ada kaidah praktek pertanian organik yang harus dipatuhi, yang secara umum dapat disampaikan sebagai berikut: Penyiapan lahan Lahan untuk pertanian organik harus terbebas dari residu pupuk dan obat-obatan kimia. Proses mengkonversi lahan dari pertanian konvensional ke pertanian organik membutuhkan waktu sekitar 2-3 tahun. Selama masa transisi, produk pertanian yang dihasilkan dari lahan tersebut belum bisa dikatakan organik karena dianggap masih mengandung residu bahan kimia. Dalam proses penyiapan lahan harus memperhatikan lingkungan sekitar. Bahan-bahan kimia (pestisida, pupuk dan obat-obatan), hama dan penyakit yang ada di lahan sekitar bisa terbawa oleh air dan udara berpindah dan merusak lahan pertanian organik yang sedang disiapkan. Pada dasarnnya, hama senang mencari lahan-lahan yang bebas racun, seperti lahan pertanian organik. Untuk mengatasi hal tersebut, salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah membuat tanaman pagar di sekeliling lahan pertanian organik yang sedang disiapkan. Tanaman pagar tidak hanya melindungi lahan, namun juga bisa berfungsi sebagai penyerap bau, bahan kimia, dan pengusir hama. Penyiapan pengairan Sistem produksi pertanian organik harus memiliki pengairan yang airnya bebas dari residu bahan kimia. Apabila air yang mengalir di lahan organik tercemar oleh bahan kimia, maka usaha pengerjaan pertanian organik menjadi sia-sia. Produk yang dihasilkan tidak dapat disebut sebagai produk pertanian organik. Pertanian organik sebaiknya memilih lahan yang mempunyai pengairan langsung dari mata air terdekat. Apabila tidak ada, maka lahan bisa mengambil air dari saluran irigasi yang agak besar. Kadar residu kimia dalam saluran air yang besar biasanya sangat rendah, sehingga airnya masih bisa digunakan untuk pertanian organik. Hindari mengambil air dari limpahan kebun atau sawah konvensional (non-organik). Cara lain yang bisa dilakukan adalah membuat unit pemurnian air sendiri. Air dari saluran irigasi ditampung dalam kolam yang telah disiapkan untuk proses pembersihan air. Setelah bersih, air keluar dan disalurkan ke lahan pertanian organik. Penyiapan benih tanaman Benih yang digunakan dalam pertanian organik harus berasal dari benih organik. Apabila sulit memperoleh benih organik, maka bisa memperbanyak sendiri menggunakan benih konvensional. Caranya dengan membersihkan benih konvensional dari residu bahan kimia, kemudian ditanam di lahan organik dan dibudidayakan sebagaimana pada umumnya. Hasil panen diseleksi, kemudian dipilih yang bagus untuk dijadikan benih kembali. Benih hasil seleksi dapat disimpan sambil menunggu masa tanam. Harus diperhatikan, bahwa penyimpanan benih organik juga harus bebas dari bahan-bahan kimia. Pupuk dan penyubur tanah Pemupukan pada pertanian organik harus menggunakan pupuk organik. Jenis pupuk organik yang diperbolehkan yaitu pupuk hijau, pupuk kandang, pupuk kompos, dan pupuk hayati. Pupuk hayati berfungsi sekaligus sebagai penyubur tanah. Pupuk hayati bisa dibuat sendiri dengan mengisolasi mikroba dari bahan-bahan organik, atau membeli di pasar, seperti EM4, Biokulktur, dan lain-lain. Bahan tambang mineral alami seperti kapur khlorida, belerang, dolomit, gipsum, batuan fosfat, dan natrium klorida masih dapat digunakan dalam pertanian organik, yang ditujukan untuk memperbaiki kualitas lahan. Pengendalian hama dan penyakit Pertanian organik tidak diperbolehkan atau dilarang menggunakan produk yang mengandung bahan kimia. Untuk mengendalikan hama dan penyakit, pertanian organik menggunakan atau melakukan: 1) varietas yang cocok, 2) rotasi tanaman, 3) praktek pertanian yang baik (Good Agricultural Pratices), 4) musuh alami atau predator hama, 5) pestisida alami atau organic, dan 6) ekosistem pertanian yang beragam dan tidak monokultur. Penanganan pasca panen Penanganan pasca panen meliputi antara lain pembersihan, pengemasan, penyimpanan dan pengangkutan. Air dan peralatan yang digunakan untuk mencuci, bahan yang digunakan untuk mengemas, tempat untuk menyimpan dan mengangkut harus benar-benar bersih dan bebas dari cemaran atau kontaminasi bahan kimia. Penyimpanan produk organik tidak boleh dicampur dengan produk non-organik, bahan yang digunakan untuk mengemas produk organik juga harus ramah lingkungan dan bisa didaur ulang. Sertifikasi pertanian organik Produk pertanian organick sebaiknya diupayakan untuk memperoleh sertifikasi sebagai produk organik. Hal ini merupakan pembuktian agar konsumen percaya. Cukup banyak lembaga yang kompeten untuk menerbitkan sertifikasi organik, berbayar atau tidak berbayar alias gratis. Petani produsen produk organik hendaknya mempelajari terlebih dahulu lembaga sertifikasi organik yang hendak dipilih, agar biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh sertifikat tersebut tidak terbuang percuma. Pemasaran produk pertanian organik Karena memiliki prosedur proses produksi yang berbeda dan biaya produksi yang relative lebih mahal, maka produk pertanian organic dijual lebih mahal dari produk pertanian non-organik. Oleh karena itu, produk pertanian organik biasanya dijual di pasar modern atau dijual langsung kepada konsumen tersendiri, yang bersedia membayar lebih mahal. Ricky Feryadi – Pusat Penyuluhan Pertanian