Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;} Pengembangan model pembangunan pertanian seperti sistem pertanian terintegrasi (Simantri) oleh Pemda Bali dengan optimalisasi pemanfaatan sumberdaya lokal dengan inovasi diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani dengan memperhatikan berbagai aspek yaitu mampu menumbuhkan usahatani produktif, tidak meninggalkan kearifan lokal (local genius) serta tidak melakukan eksploitasi yang dapat menguras keberadaan sumberdaya yang ada. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali (2011) menyatakan sasaran akhir dari program Simantri adalah petani yang tangguh dan mandiri melalui tumbuhnya usahatani produktif, sehingga pendapatan petani diharapkan mencapai 2 juta per bulan. Penerapan sistem integrasi tanaman dan ternak secara optimal akan mampu memanfaatkan potensi sumberdaya yang selama ini tidak termanfaatkan seperti potensi limbah tanaman dan ternak. Sebagai suatu sistem arah integrasi tanaman-ternak ditujukan untuk a) mencapai integrasi dari daur alami; b) melindungi dan memperbaharui kesuburan lahan dan sumberdaya alam; c) mengoptimalkan manajemen dan pemanfaatan sumber-sumber on-farm; d) mengurangi penggunaan sumber-sumber yang tidak dapat diperbaharui dan pembelian input produksi; e) menyediakan alternatif sumber pendapatan yang cukup dari sektor pertanian; f) memberikan peluang kesempatan kerja di sektor pertanian; dan g) mengurangi dampak negatif yang berkaitan dengan kesehatan, keamanan, kehidupan alami, kualitas air dan lingkungan (Sudaratmaja dan Fagi, 2005), akan tetapi apabila disederhanakan keberhasilan penerapan model integrasi tanaman ternak itu dapat dilihat dari kemandirian 4 F (food, feed, fertilizer dan fuel). Pengembangan program sistem pertanian terintegrasi dilakukan mulai tahun 2009 yang dibiayai dari anggaran perubahan. Pengembangan diarahkan pada model percontohan dengan dana kurang lebih 200 juta dalam bentuk bansos di setiap lokasi (1 gapoktan). Pemanfaatan dana bansos dilengkapi dengan perangkat juklak dan juknis yang telah disiapkan dengan alokasi dana sebagian besar untuk pengadaan ternak sapi Bali betina (masing-masing 20 ekor), kandang koloni, rumah pengolahan kompos, instalasi bio urin dan rumah pakan (gudang awetan pakan), sedangkan sebagian kecil dana dimanfaatkan untuk pengadaan benih/bibit tanaman pangan, perkebunan serta pada beberapa lokasi yang memiliki potensi perikanan dana juga dimanfaatkan untuk pembuatan kolam dan pembelian benih ikan. Simbaryadnya (PP.Madya Distanbunhut Badung - Bali).